Daftar Isi

Thursday, August 2, 2012

SMA 1 Slawi Dalam Lintas Kenangan

Sore,sekitar  akhir Juli 2012, telepon genggam saya berdering lamat-lamat. Saat itu, saya sedang ngobrol dengan istri dan dua anak saya. Biasanya saya hati-hati mengangkat, ketika nomor panggilan belum tersimpan dalam phone book. Maklumlah. Saya agak trauma dengan tele marketing, yang kerap “meneror” dengan tawaran asuransi atau pinjaman lunak. Tapi berhubung BB saya sudah hilang sebulan yang lalu, banyak nomor teman yang belum tersimpan, kadang melakukan panggilan tanpa nama tertera di layar ponsel. Saya pun langsung mengangkatnya,”Halo?”.

Di ujung sambungan, seorang laki-laki mengucap salam secara lengkap. Ini memang ganjil. Saya sendiri tidak punya pikiran, jika ucapan salam itu sengaja diucapkan secara lengkap, sebagai sinyal bahwa yang ingin bicara dengan saya adalah teman karib saya. Maka saat ia mengaku bernama Arif Ade Setyawan dari Slawi, saya langsung ngeh. Spontan saya langsung berseru,”Arif SMA siji?”. Begitulah.

Ini moment yang tak terduga tentu saja. Berikutnya saya menyapa Handy. Kata Handy, ia sedang berada di rumah Hoji Paralel bersama Teguh dan Arif. Surprise, saya tanya anaknya sudah berapa. Tapi dengan tertawa Handy menolak menjawabnya. Lantas menyahutlah Teguh. Tanpa tedeng aling-aling, Teguh langsung cerita.”Rab, awake dewek bar saka omahmu. Kita mau ngadain reunian SMA siji angkatan 92. Mangkat ya mengko?”. Sedikit tak percaya saya langsung menimpali,”Ah, yang bener? Kapan acaranya?”.”Habis lebaran haji,”kata Teguh, antusias.

Bukan Waktu yang Pendek
Tentu saja waktu 20 tahun bukanlah masa yang pendek untuk sebuah rencana pertemuan. Terbayang betapa serunya jika itu terjadi. Di sisi lain, saya bersyukur.  Arif, Handy dan Teguh, akhirnya menjadi pintu pembuka kabar teman-teman yang lain, baik dari kelas 1 E maupun kelas 2 jurusan biologi SMA 1 Slawi.  Sarana Facebook lantas terbukti manjur menjembatani. Di situ, saya bertemu dengan teman-teman, yang kini sudah jadi orang hebat. Abdul Syakur, Maulana Arsist Tawa, Yudi Pratikno dan semua yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Kenangan sekolah di  SMA 1 Slawi lantas berlesatan keluar. Di kelas 1 E, saya takjub melihat kepandaian Syakur mengurai rumus-rumus matematika. Atau Budi Septiono, yang selalu maju untuk mengerjakan soal-soal rumit fisika dan matematika. Saya pernah bertemu dengan Supardi, saat ada liputan di Bogor. Dia adalah salah seorang teman di kelas 1 E, yang amat rajin, hingga bisa dapat PMDK di IPB.  Begitu pula Maulana Arsist Tawa, yang kalem dan sangat menjaga setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya, persis presiden kita SBY. Ada pula Atikah, cewek mungil yang sregep bikin PR.

Kelas satu menjadi ujian saya sesungguhnya, ditengah semakin merosotnya ekonomi keluarga. Tiap hari, saya bolak-balik naik angkot dari Margasari, dengan ongkos Rp 100. Kadang kalau sudah terlambat, karena jarak sekolah yang lumayan jauh, saya tidak mandi dan sarapan pagi. Tak terbersit sekalipun untuk ngekost misalnya, seperti yang dilakukan teman-teman lain.  Duit dari mana? Saban waktunya pulang, beramai-ramai saya menuju terminal untuk menghadang angkot ke Bumiayu. Tapi saya merasa beruntung, dikelilingi oleh teman-teman yang baik, hingga naik ke kelas dua Biologi.

Catatan paling menyebalkan barangkali terkait dengan kelakukan teman saya, ER, saat saya mulai duduk di kelas dua Biologi. Dia kerap memalak Beny, ketua kelas saya, dengan sejumlah uang. Apalagi ia dengan sombong bilang ingin seperti Try Sutrisno, jenderal bintang 4 yang kala itu menjadi wakil presiden RI. Belakangan saya tahu, ia jadi "preman" di Margasari, karena tak pernah melanjutkan studinya. Jika ingat kelakuannya dulu sama Beny, ingin rasanya saya menampol kepalanya, biar dia kapok.

Kontes Bokong
Saat duduk di kelas dua, sesekali saya masih bertemu Syakur, Arsis, atau Amir Kalibakung, yang masuk jurusan fisika. Maklumlah, otak mereka lebih encer dibanding diriku yang bebal. Tapi sejatinya, saya sendiri masuk Biologi karena ingin jadi dokter. Cita-cita yang ternyata gagal, ketika saya mencoba ikut UMPTN di perguruan tinggi negeri. Hingga kini, saya memang masih kerap mampir ke rumah sakit dekat rumah di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Tapi bukan sebagai dokter, melainkan mengantar bini yang bekerja sebagai perawat.

Di kelas dua, saya menemukan teman-teman yang lebih heboh dan “gila”, dengan segala tingkah polahnya. Arif Ade, Handy, Teguh, Aris, Maya, Ayu, Fransisca dan banyak lagi, yang rasanya susah untuk saya absen, karena keterbatasan memori. Jika kelas satu tak banyak memberi warna karena teman-teman semua serius mau masuk penjurusan, dikelas dua memori kenakalan remaja terasa lebih “nendang” dan penuh cerita.

Di depan bangku tempat saya duduk, ada Diani Adi Mulyanto, yang kerap menangis tanpa sebab yang jelas. Sekali waktu, dia buka rahasia, jika dirinya kesal sama perilaku orang tuanya yang diskriminatif. Adiknya lebih disayang dibanding dirinya. Tapi saya pikir-pikir, setelah saya jadi ayah, mungkin itu hanya perasaan Diani saja. Di sisi kiriku, kadang ada Ahmad Zaenuri, yang kini jadi dosen di Unsoed. Lain tempo saya duduk di belakang, dekat Aris atau Handy, atau Teguh. Seingatku, cowok yang paling rajin duduk di depan adalah Hoji Paralel.

Letak kelas di lantai dua, saya rasa cukup bermasalah karena kami berdampingan dengan kelas fisika. Pernah karena guru kosong, kelas ribut tak karuan. Guru fisika di tetangga kelas yang sedang mengajar marah besar, dan mendatangi kelas kami. Omelan pun tak pelak berhamburan. Tapi enaknya, karena kami berada di atas, teman-teman perempuan sering berjejer memandang ke bawah, membelakangi kelas. Saya sering bercanda menyebutnya sedang ada kontes bokong,hehehe…

Selain belajar, saya juga ikut ekstrakurikuler drama dan karate. Di arena latihan karate, saya mengenal dekat Yudi Pratikno, yang kala itu sedang berpacaran dengan Shasa alias Shasadara Dewi.  Kalau tidak salah, Shasa adalah adiknya Ayu Shamanta Dewi. Saya sendiri sempat naksir dengan seorang teman latihan, tapi semuanya saya pendam, karena dia tak memberi respon sedikitpun. Kekecewaan barangkali agak terobati, jika pulang sekolah bisa ngobrol dengan Lina, anak fisika yang punya bodi aduhai.  Kebetulan rumahnya  searah dengan Ahmad Zaenuri, yang juga melewati jalan yang sama menuju ke terminal Slawi.

Saya tidak tahu, dari mana saya mulai senang tulis menulis. Hal yang saya ingat, Aris pernah minta dibuatkan surat cinta untuk pacarnya, Adyat Dyah Wijayanti. Permintaan itu apakah saya penuhi atau tidak, saya sudah lupa. Yang jelas, saya kadang iri melihat anak SMA sudah pacaran seperti Aris dengan Yanti, atau si Dani anak sosial yang pacaran dengan kakak kelasnya saban bubaran jam sekolah di depan kelas. Mungkin cowoknya si Dani tak punya modal untuk mengajaknya nonton bioskop, atau sekedar makan bakso.  Atau Si Dani sendiri yang memang suka pacaran di depan orang banyak (hehehe…sotoy ya?)

Minder Mania
Kelas dua dan tiga Biologi di SMA 1 Slawi, benar-benar menjadi tahun kelam perjalanan studi saya. Orang tua semakin terpuruk saja ekonominya. Pernah saya tidak bisa berangkat, gara-gara tak ada uang Rp 700 untuk ongkos  naik angkot. Di sekolah, saya minder luar biasa. Undangan ulang tahun teman tak pernah saya gubris, karena tak memiliki pakaian yang layak guna, seperti remaja umumnya.  Bahkan saat seorang teman perempuan dari IPS memberi sinyal jika ia naksir, saya cuek saja. Boro-boro mau pacaran bro. Buat jajan saja saya kadang nyolong tempe satu atau dua di kantin belakang?

Peraturan bersepatu kulit hitam benar-benar menjadi teror tak termaafkan. Berapa kali saja tiap Senen saya kena razia, karena saya memakai sepatu putih merk Dragon Fly yang saya winter warna hitam biar kelihatan kelam.  Jika sudah begini, sepatu Dragon saya ditahan di ruangan guru BP. Saya tak berdaya, karena almarhum papa (sengaja saya panggil papa biar lebih gaya) tak mampu membelikan sepatu baru. Saya pernah ingat, sekedar iuran Rp 6 ribu untuk jalan-jalan saja, hanya saya yang tak bisa memenuhi. Duh ngenesnya….

Mungkin yang lebih seru, jika awal bulan pak wali kelas mengumumkan siapa yang belum bayar SPP. Karena nunggak beberapa bulan, saya pernah dipanggil guru yang ngurusin pembayaran SPP. Dia heran lihat saya dan langsung bersabda,”Kamu pasti pakai ya itu uang SPP untuk jajan?”. Saya tentu saja kaget.”Lho, kok ibu nuduh seperti itu?”.Awalnya si ibu serius. Tapi dengan bercanda dia bilang,”Ya, saya nggak percaya orang tuamu nggak punya. Wong kulitmu bersih seperti itu?”. Alamak…apa hubunganya tampang keren sama kantong kempes ya?kwkwkwkw

Di kelas dua, saya dekat dengan Arif Ade. Dia sering membonceng saya dengan Astrea Star-nya (kalau tidak salah ya?). Saya diajak ke rumahnya. Jika ingin tak terlalu jauh, ya nongkrong di rumah Teguh, yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari sekolah. Saya memang “ngeri” bergaul dengan teman-teman dari orang tua yang kaya raya seperti mereka. Tapi itu ternyata pikiran yang salah. Sekarang, walau sebagai jurnalis saya hidup pas-pasan, teman-teman saya lintas batas dan profesi. Dari menteri, anggota DPR, jenderal, artis tenar hingga tukang becak. Saya enjoy aja….

Lulus dalam Kedukaan
Jika sekarang ada Ahok –Cina Kristen yang mencalonkan diri jadi calon wakil gubernur DKI Jakarta, sebetulnya ajaran pluralism sudah saya cecap sejak kelas dua SMA. Ketua kelas kami adalah Beny, sama seperti Ahok yang juga beretnis Cina dan Kristen. Sebagai ketua kelas, dia sangat bertanggung jawab. Kalau kelas kami giliran mendapat tugas mengurus shalat Jumat, dia ngecek semuanya.”Pul, kamu yang ngisi kultum ya?”katanya menyuruh saya. Maksudnya kuliah tujuh menit sebelum shalat Jum’at dimulai.

Kultum paling garang pernah saya lakoni, ketika saya mengecam aturan yang melarang pemakaian jilbab oleh sekolah. Tak kurang si Purwo, pria bertubuh subur yang gayanya lemah gemulai, ikut bersimpati. “Salut mas pidatonya,”ujarnya,membuat saya sudah merasa seperti Hitler, jagoan orasi dari Jerman. Saya bahkan pernah mengikuti pertemuan bersama teman-teman, membahas gonjang-ganjing masalah ini. Kebetulan di kelas, saya kebagian mengurus Rohis Islam. Jabatan yang kerap membuat Pak Zaenudin senewen.

Bagaimana tidak?Bacaan Al Qur’an saya lancar. Tapi dipunggung kaos olahraga saya ada “tato” dengan tulisan besar-besar. Bunyinya “malapetaka” bersama gambar cicak yang saat itu sedang ngetrend. Dengar bagaimana Pak Zainudin, guru agama SMA 1 nyap-nyap,”Arifuuuul,”katanya dengan gayanya yang melambai.”Itu buat apa kaos dikotori? Ayo hapus. Kamu khan bagian rohis?Harus kasih contoh yang baik!”.  Tulisan itu memang tak pernah saya hapus. Lha, priben mau dihapus?Wong itu pakai spidol permanen je.

Setelah tiga tahun menimba ilmu, ada moment kelulusan yang juga tak pernah saya lupakan seumur hidup. Waktu itu bapak menerima amplop. Di dalamnya ada tulian “Anda Lulus”. Tapi bukan secarik kertas itu benar yang membuat perasaan saya gundah. Usai memberi uang Rp 3000 (catat; tiga ribu rupiah)  sebagai hadiah kelulusan, bapak langsung pulang, meninggalkan saya yang bingung menghadapi masa depan. Bingung melanjutkan ke mana, karena tak ada biaya.

Kala itu, saya hanya bisa menatapi teman-teman, yang tertawa-tawa sambil berfoto-foto dengan semprotan pilox memenuhi baju dan celananya.  Saya merasa seperti menjadi orang asing. Sangat asing. Tak pernah  masuk dalam bagian mereka. Tak tega melukai batin orang tua yang sedang kesulitan, dengan ikut-ikutan main semprot cat. Sungguh tak tega.

Dalam kegelisahan yang melanda, akhirnya saya putuskan untuk pulang. Merayakan kelulusan sendirian, dengan batin terus merutuki nasib, karena kenyataan saya harus menganggur satu tahun.  Untuk mengisi waktu, saya putuskan bekerja sebagai penarik retribusi truk di sebuah galian pasir di desa. Karena kasihan, tahun berikutnya, bapak menyuruh saya kuliah.

Gagal UMPTN, bapak tetap memaksa kuliah, walau saat itu saya ingin merantau saja ke Jakarta menjadi sopir bajaj, sekedar meringankan beban hidup orang tua. Kebetulan banyak teman-teman kampung jadi sopir bajaj dan taksi. Saya pikir, inilah peluang satu-satunya, karena di desa tak ada geliat usaha yang bisa mendatangkan fulus.

Dalam perjalanan waktu, keberanian dan keyakinan  membuat saya nekad ke Yogya, kemudian merantau ke Jakarta. Bekerja apa saja. Menghadapi badai sebesar apa pun jua. Di titik inilah, saya berpendapat rasa syukur adalah modal berharga dari semua harta benda yang jadi kejaran manusia. Kesulitan dan tantangan hidup adalah warna. Banyak pelajaran penting kupetik, dan itu semakin menempa karakter dan visi saya, jika penghargaan manusia sesungguhnya datang dari sikap dan hubungan baik. Bukan atribut dunia yang menempel di badan kita (Wah, sudah kayak ustaz aja nih).

Akhirnya, saya masih membayangkan teman-teman terus bermunculan merangkai jalinan silaturahmi. Pasti ada banyak cerita. Pasti ada banyak hikmah. Dan pasti ada ribuan tawa, dibalik sedikit duka yang menemani kita mengarungi lautan hidup. Benar SMA 1 Slawi adalah kawah candradimuka, yang menempa kita semua menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Buktinya, kita patut berbangga, ada alumni SMA 1 yang sekarang jadi menteri pertanian.  Siapa tahu, ke depannya, ada yang bisa menjadi wakil presiden RI, atau sekalian jadi RI 1. Siapa tahu.







12 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. arab...arab.... miss u
    hundee

    ReplyDelete
  3. Abdul Syakur :
    Basamu jan mengalir tenang tapi menghanyutkan. Pak Gondo selaku guru bahasa Indonesia waktu kelas II pasti bangga punya Ariful yg pandai menulis seperti ini, demikian juga pak Agus guru bhs Indoensia dari Margasari pastinya salut dan senang.
    Jangan cuma yg cantik yg diingat wajahnya, tapi juga namanya, guru olah raga yg cantik wajahnya namanya Pak Yaedar...ha..ha..ha.., bukan ding kapok kowe...namanya bu Eko Trahwati apa bu Ekowati yahh...
    Baca tulisan ini, anganku langsung kembali pada kenangan tentang dirimu Ful...memang sudah terlihat bakat nulisnya waktu SMA, tapi sung yakin aku ora ngerti yen kowen benar-benar menderita seperti yang tertulis di sini.
    Tapi aku yakin, Ariful yg sekarang sudah menjadi orang yang hebat, peace men...

    Ingat kelas I.E guru sejarah kita yang sangat mahir bercerita tentang sungai TIGRIS dan Kebudayaan suku MAYA. Inilah daftar I.E yang masih bisa ku kenang :
    1. Abdul Haris
    2. Abdul Hopir
    3. Abdul Rojak
    4. Abdul Syakur - enyong dewek.
    5. Akhmad Khuzaeni
    6. Alip Setiadi
    7 Ariful Hakim - kerennn
    8. Atika Dewi
    9. Amirudin
    10. Endang Susilowati
    11. Fakhitah
    12. Gunawan
    13. Maulana Arsistawa
    14. Moh. Slamet
    15. M. Aziz Muslim
    16. ...............dan masih banyak lagi..
    17. Samsudin
    18. Supardi
    19. Teguh Yulianto
    20. Voni Dian Arsianti
    21. Yuliati

    ReplyDelete
  4. wah rip....aku maca ceritane dadi nggregel, plus dadi kangen karo kanca-kanca biologi. Salam sukses ya .... bener rip, kunci urip seneng kuwe "SYUKUR" .... Semangat !!!

    ReplyDelete
  5. Ariful yang orang JEMbayat Utara he he he Masih ingat waktu kita jaga koperasi jualan kertas gambar dan nastar ha ha ha

    ReplyDelete
  6. siapa ya?kawan syam yang dokter dari jatibarang kah,hahahaha...udah pikun lupa nih inyong...

    ReplyDelete
  7. super juga..salam kenal...siapa nih,hehehe











    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan anda!