Daftar Isi

Wednesday, August 15, 2012

tradisi lebaran di berbagai negara

Saban Idul Fitri datang, Indonesia selalu tak lepas dari kerepotan mengangkut jutaan warganya yang merantau, untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Ritual budaya ini kerap disebut “mudik”, sesuatu yang khas terjadi tiap menjelang Idul Fitri. Selain mudik, menyambut hari kemenangan itu, makanan berupa ketupat, opor ayam dan tradisi sungkeman juga ikut mewarnai, selain kebiasaan berziarah kubur.

Walau esensinya sama, yaitu kembali ke fitrah, tapi di negara-negara lain, perayaan Idul Fitri juga memiliki ciri khas tersendiri. Ibarat pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Barangkali yang agak mirip-mirip adalah negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara. Namun begitu, di negara-negara sekuler dan Islam menjadi minoritas, Idul Fitri juga masih tetap diperingati. Bagaimana mereka merayakannya?

Asia Tenggara
Di Singapura, Brunei dan Malaysia, Idul Fitri dikenal juga dengan sebutan Hari Raya Puasa atau Hari Raya Aidil Fitri. Seperti di Indonesia, malam sebelum perayaan selalu diteriakkan takbir di masjid ataupun mushala, yang mengungkapkan kemenangan dan kebesaran Tuhan. Di perkampungan, biasanya banyak masyarakat yang menghidupkan pelita atau panjut alias obor.

Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama perayaan Idul Fitri hingga akhir minggu perayaan. Masyarakat di sini biasanya saling mengucapkan “Selamat Hari Raya” atau “Salam Aidil Fitri” dan “Maaf  Lahir dan Batin” sebagai ungkapan permohonan maaf  kepada sesama. Di Malaysia juga ada tradisi balik kampung, atau mudik di Indonesia. Di sini juga ada tradisi pemberian uang oleh para orang tua kepada anak-anak, yang dikenal dengan sebutan duit raya.

Makanan khas lebaran di tiga negara tersebut adalah ketupat, dodol dan lemang. Laki-laki mengenakan baju Melayu lengkap dengan peci, sementara para wanita mengenakan baju kurung. Di Malaysia, kunjungan ke kuburan orang tua kemudian membacakan Surat Yasin adalah hal yang jamak dilakukan di hari lebaran, kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke kerabat.

Sementara di Filipina, umat Muslim adalah minoritas, hingga sebagian besar masyarakat tidak begitu familiar dengan perayaan ini. Namun, perayaan Idul Fitri sudah diatur sebagai  hari libur nasional oleh pemerintah dalam Republic Act No. 9177 dan berlaku sejak 13 November 2002. Jadi meski kalah gegap gempitanya dengan Brunei, Malaysia dan Singapura, tapi Idul Fitri sudah jadi perhatian pemerintah.

Benua Afrika
Ada yang unik, saat Hari Raya Idul Fitri tiba di Afrika Selatan misalnya. Setiap orang akan berkumpul di Green Point, Cape Town, Afrika Selatan untuk melihat bentuk bulan di hari terakhir Ramadhan. Menjelang berbuka puasa, mereka sudah standby bersama kerabat sambil asyik berbincang-bincang. Azan maghrib kemudian mengumandang dan bulan yang muncul pun diumumkan. Di hari Idul Fitri, warga melaksanakan shalat Ied, dilanjutkan berkunjung ke rumah keluarga.

Di Mesir, ketika hari lebaran tiba, anak-anak Mesir menyanyikan lagu Ahlan wa sahlan bi al-‘id. Farhan, farhan bi al-id (Selamat datang, selamat datang Hari Raya. Bergembiralah, bergembiralah pada hari raya). Memang, di Mesir Idul Fitri tidak disambut semeriah di Indonesia. Di sana Idul Fitri sering disebut Id el-Shogayar atau Hari Raya Kecil. Sedangkan Idul Adha disebut Idul Kabir (Hari Raya Besar), karena dirayakan jauh lebih meriah.
Meskipun demikian Idul Fitri di Mesir tetap menjadi perayaan kegembiraan yang cukup menarik disimak. Anak-anak kecil bermain-main dan meluapkan kegembiraan dengan baju-baju baru mereka. Makanan khas pada hari lebaran ini berupa biskuit manis yang disebut kahk.
Di Nigeria Idul Fitri dikenal sebagai “Sallah Kecil” dan umumnya orang saling menyapa dengan ucapan tradisional: “Barka Da Sallah,” yang berarti “Salam di Sallah” dalam bahasa Hausa. Ketika Ied ditetapkan sebagai hari libur nasional yang ditetapkan selama dua hari, banyak keluarga Muslim pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengunjungi keluarga dan kerabat.

Asia Selatan
Di wilayah Asia Selatan seperti  India, Pakistan, dan Bangladesh, Idul Fitri dirayakan secara meriah juga. Di India, orang-orang akan berkumpul di Jama Masjid yang terletak di New Delhi untuk melakukan shalat Id. Masjid ini menjadi pusat perayaan Idul Fitri di New Delhi, ibu kota India. Mereka juga menyiapkan hidangan khusus yang disebut Siwaiyaan, yakni campuran bihun manis dengan buah kering dan susu. Siwaiyaan hadir dalam beragam bentuk dan warna.

Di India, Bangladesh dan Pakistan, malam sebelum Idul Fitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, seringkali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional henna dan  memakai rantai warna-warni.

Ucapan populer di Asia Selatan selama perayaan Idul Fitri adalah Eid Mubarak kepada orang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Saat menyambut, mereka juga berharap untuk memperoleh uang yang disebut Eidi, dari para orang tua. Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru. Jika tak bisa beli, mereka boleh menggunakan pakaian yang telah dicuci bersih.

Orang tua dan anak laki-laki pergi ke masjid atau lapangan terbuka. Tradisi ini disebut Eidgah atau Shalat Ied. Usai Shalat Ied, mereka biasanya kumpul-kumpul dengan keluarga besar sambil makan-makan. Makanan yang paling banyak tersedia bernama sivayyan, berupa mie vermicelli. Setelah berkumpul dan nyekar, perayaan dilanjutkan dengan festival khusus, berupa karnaval dan pertunjukan kembang api.

Turki dan Iran
Festival Gula atau Seker Bayram merupakan nama untuk Idul Fitri bagi orang Turki. Kemungkinan sebutan ini muncul karena tradisi mereka saling mengantarkan manisan di hari raya Idul Fitri. Seperti tradisi sungkem di Indonesia, anak-anak di sana juga bersalaman dan sembah sujud kepada orangtua. Kemudian orangtua membalas dengan ciuman di kedua pipi sebagai simbol kasih sayang. Setelah itu, anak-anak pun mendapatkan hadiah berupa koin uang, permen, atau manisan.
Ucapan khas lebaran di Turki adalah Bayraminiz Kutlu Olsun atau Bayraminiz M├╝barek Olsun (Semoga bayram-mu menjadi berkah). Perayaan besar ditandai dengan silaturahmi, mengenakan baju baru dan saling mengunjungi. Bahkan, acara nyekar lebih semarak di sini, ditandai dengan pasar bunga untuk nyekar selama tiga hari berturut-turut.
Di Iran, meski termasuk negara Islam, tapi perayaan Idul Fitri tampak biasa-biasa saja dan tidak semeriah seperti Indonesia. Hal ini karena Muslim Iran adalah pengikut ajaran Syiah. Idul Fitri di Iran adalah perayaan personal. Selain shalat Ied dan acara silaturahmi, biasanya perayaan ditutup dengan pemberian makanan dari keluarga kaya kepada orang miskin papa. Makanan yang dibuat adalah aneka hidangan dari daging domba dan sapi.

 

Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Republik Rakyat China
Ada 56 kelompok etnis yang diakui secara resmi di RRC. Sepuluh diantaranya mayoritas beragama Islam. Tak heran di China, tepatnya di Xinjiang, perayaan lebaran tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanitanya memakai baju hangat dan kerudung setengah tertutup. Usai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan. Di sana Idul Fitri ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Di propinsi Yunnan, beberapa umat Muslim pada Idul Fitri mengunjungi makam leluhur dan makam tokoh muslim setempat. Di sana mereka akan membaca Al Qur’an dan membersihkan makam. Hal ini mengingatkan pada festival tahunan bersejarah di Qingming, China di mana orang pergi ke kuburan nenek moyang mereka, menyapu dan membersihkan daerah itu dan membuat persembahan makanan. Ritual diselipi dengan doa khusus untuk menghormati ratusan ribu muslim yang tewas selama Dinasti Qing, dan ratusan tewas selama Revolusi Kebudayaan.

Amerika Serikat dan Fiji
Umat Muslim di Amerika Serikat pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Penghujung Ramadhan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon, karena Idul Fitri bukan hari libur nasional. Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru.

Banyak keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim di sana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majelis yang paling dekat untuk salat Ied. Bisa diadakan di masjid lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion setempat. Setelah salat dan khutbah, para jamaah saling memeluk dan satu sama lain saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Muslim di Amerika  juga merayakan Idul Fitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.

Walau Islam minoritas di Fiji, namun ada tradisi unik dalam perayaan Idul Fitri. Hidangan spesial khas Idul Fitri adalah samai, mi manis yang dicampur dengan susu. Samai disajikan bersama samosas, sejenis kari ayam atau daging. Uniknya, hanya kaum pria yang datang ke masjid untuk shalat Ied. Di beberapa bagian di Fiji, perempuan tidak pergi ke masjid.

Eropa dan Australia
Di Eropa, perayaan Idul Fitri tidak dilakukan dengan semarak. Di Inggris misalnya, Idul Fitri tidak diperingati sebagai hari libur nasional. Kaum muslimin di Inggris harus mencari sendiri informasi tentang hari Raya Idul Fitri. Biasanya, informasi ini didapat dari Islamic Centre terdekat atau dari milis Islam.

Idul Fitri dirayakan secara sederhana. Khutbah disampaikan oleh Imam masjid setempat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Biasanya di satu area dimana terdapat banyak kaum Muslim di sana, kantor-kantor dan beberapa sekolah di area tersebut akan memberikan satu hari libur untuk kaum Muslim.  Atau jika tidak libur, kaum Muslim akan berusaha mengambil cuti di hari itu supaya tetap bisa mengikuti Shalat Ied dan berkumpul dengan sesama muslim di masjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah.

Di Australia,  Idul Fitri juga tidak dirayakan secara khas.  Tapi, meskipun Australia sebuah negara non-Muslim dan sekuler, umat Islam di sini diberi kebebasan untuk mempraktikkan agama mereka. Banyak perusahaan besar di Australia memberikan libur khusus bagi pegawainya yang beragama Islam. Beberapa kota dimana Islam menjadi mayoritas memungkinkan  jalanan umum di pelataran mesjid ditutup ketika Shalat Idul Fitri berlangsung.

Sejak 1987, tradisi Idul Fitri di Australia di meriahkan dalam format festival multi kultur yang diselenggarakan di Sydney. Festival ini telah berkembang dengan melibatkan puluhan ribu Muslim dan non-Muslim. Bahkan beberapa tamu penting hingga pejabat negara berkenan hadir sebagai tamu undangan. Sekarang festival ini telah diadopsi di banyak kota di Australia. Kondisi ini tentu saja membuat moment Idul Fitri semakin terasa, dan membuktikan jika Islam hadir sebagai rahmat bagi semua umat. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan anda!