Daftar Isi

Monday, February 17, 2014

Sabar dan Marah

Salahudin Al Ayubi


Syahdan,saat Raja Inggris Richard The Lion Heart menderita sakit,Sultan Salahudin Al-Ayubi segera mengirim hadiah dan tim medis untuk mengobati penyakit Richard. Salahudin juga menghentikan pertempuran. Kala itu,Raja Richard memang sedang mengepung Yerussalem, yang sudah dikuasai Salahudin. Pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir ini berharap,musuhnya sehat dulu, baru kemudian beradu strategi di medan laga.

Pernah pula,saat Richard berjalan kaki bersama prajuritnya, Salahudin mengirim kuda Arab terbaik,agar sang raja bisa menungganginya. Ia tak tega,seorang raja harus berjalan kaki di padang tandus, yang bisa merendahkan derajat kebangsawannya.Pertempuran di bulan Desember 1191 dan berlanjut di bulan Juli 1192 ini memang menjadi catatan penting tentang sosok sultan yang di dunia Barat dikenal dengan nama Saladin ini. Ia dikenal karena kesantunan,kerendahatian dan kasih sayangnya.

Berabad-abad kemudian,setiap nama Sultan Salahudin disebut,kisah keberanian dan kesabarannya selalu menggetarkan hati kaum muslim. Dari kaca mata seorang anak kecil yang mendengarnya di musola kampung di pelosok Tegal, saya pribadi meyakini, dialah sosok paling representatif dan mendekati paripurna, dari contoh akhlak Rosul Muhammad SAW.Solahudin keras ketika akidahnya disinggung,tapi lemah lembut terhadap sesamanya,bahkan musuh besarnya sekalipun, seperti Raja Richrad.

Saya sengaja mengambil contoh sang sultan, karena saban ada ustaz bertindak melampaui batas,misal karena merasa harkatnya direndahkan, para pendukung ustaz tidak mau terima jika disuruh mencontoh pribadi Muhammad. Mereka berdalih, di sisi Muhammad ada sahabat Umar, yang siap jadi benteng bagi siapapun yang menghina nabi. Namun sepanjang pengetahuan saya,         nabi pun tak pernah marah untuk hal yang bersifat pribadi. Kecuali sudah menyangkut akidah.

Muhammad,misalnya, sangat marah ketika Usamah bin Zaid membunuh Mirdas bin Nuhaik,usai penaklukan benteng Khaibar. Kala itu, Mirdas berhasil membunuh beberapa prajurit muslim. Usamah yang mengejar,berhasil membuat Mirdas kepepet. Dalam kondisi genting,Mirdas mengucap dua kalimat sahadat. Tapi Usamah yang takut itu hanya lips service, segera menghabisi Mirdas. Nabi pun menegur dengan keras.

Kemarahan yang proporsional,apalagi untuk menegakan kesucian ajaran Allah,sesungguhnya menjadi bukti jika penyakit “marah” amatlah berbahaya jika sudah menjangkiti hati. Sekelompok dokter di Inggris menemukan fakta, ketidakmampuan mengontrol diri, berkolerasi positif dengan penyakit jantung, kanker,stroke, frustasi dan bahkan pilek. Marah juga membuat jumlah tindak pidana meningkat. Dalam batas-batas tertentu, kemarahan selama delapan menit akan lebih cepat melumpuhkan kekuatan daripada  delapan jam bekerja.

Para ahli manajemen mewanti-wanti, kita tak boleh marah saat mengambil keputusan. Dari sisi transendental, kata rosul Muhammad, seorang mukmin tidak bisa disebut mukmin,jika ia suka mencela, pengutuk,kata-katanya kotor dan keji.  Termasuk, memaki orang mukmin adalah fasik (dosa) dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam). Apalagi hanya karena masalah suara mike sound system yang kurang keras.

Lantas,apakah benar anggapan banyak orang,jika kesabaran sesungguhnya ada batasnya?Kita bukan Nabi Ayub,yang puluhan tahun diuji penyakit dan lolos dengan kesabaran luar biasa. Atau Rosul Muhammad, yang menaklukan kota Mekkah dengan damai dan memaafkan semua penghuninya,walau pernah memberikan penderitaan luar biasa dalam dakwahnya. Namun jika melihat tebaran ayat-ayat Allah dalam kitabnya, sesungguhnya manajemen marah adalah keniscayaan yang bisa dipelajari semua orang.

Kuncinya adalah bersabar.Imam Al Ghazali menyebut, sabar adalah satu bagian dari dua bagian iman, termasuk bersyukur. Sifat ini bahkan termasuk dalam Asmaul Husna. Banyak ayat Al Qur’an yang memuat janji Allah yang akan meninggikan derajat orang yang sabar. “Sesungguhnya orang bersabar itu,akan dipenuhi pahalanya tanpa mengingat perhitungan” (Surat Az-Zumar ayat 10).

Kasus Ustaz Hariri semakin menunjukan,pembentukan mental dan karakter para da’i (penyampai) telah gagal akibat buaian budaya instan. Tak jarang,untuk menutupi kekurangan itu,kita bermain dengan simbol-simbol agama, yang notabene itu bukanlah esensi dari nilai Islam. Kita terjebak pada peniruan besar-besaran kultur Arab,sekedar untuk mendapat legitimasi sebagai orang alim,meski pondasinya rapuh.

Benar kata Gus Dur, Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’,’sampeyan’ jadi ‘antum’,’sedulur’ jadi ‘akhi’. Gus Dur menegaskan,kita pertahankan milik kita,kita harus serap ajarannya,tapi bukan budaya Arabnya. Rasanya tak perlu dikasih contoh, betapa banyak sosok-sosok berjubah yang nyata-nyata berperilaku menyimpang, dan tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Apakah dengan kesabaran itu kita membuka ruang untuk membiarkan pihak lain merendahkan dan menghina kita?Jika menyangkut ini,kita harus faham tentang dahsyatnya sikap memaafkan. Tindakan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kuat,seperti Nelson Mandela misalnya.Pilihan itu tersedia, kita ingin dikenang sebagai pribadi yang lemah,atau sebaliknya.Namun apapun, mungkin ini bisa jadi pegangan, ketika kita kita sedang direndahkan orang lain,percayalah,pada saat yang sama kita sebetulnya sedang ditinggikan derajatnya oleh Allah. Wallahua’lam bishowab.



1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan anda!