Daftar Isi

Saturday, June 1, 2013

Seputar Isra' Mi'raj

Bagi kaum muslim, peristiwa Isra Mi’raj merupakan momen yang sangat penting, karena setelah peristiwa itulah, sholat 5 waktu diwajibkan. Secara istilah, Isra adalah berjalan di waktu malam, sedangkan Mi‘raj adalah alat (tangga) untuk naik.Isra mempunyai pengertian perjalanan Nabi Muhammad SAW pada waktu malam hari dari Masjid Al Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsha di Palestina. 

Sedangkan Mi’raj adalah kelanjutan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al Aqsha di Palestina ke langit ke-7 (Sidratul Muntaha). Di langit tertinggi inilah tempat Nabi Muhammad “bertemu” dengan Allah SWT. Dus, Isra Mi’raj adalah kisah perjalanan Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dalam waktu semalam. Prosesi sejarah perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad ini termaktub dalam Qur’an Surat (QS) Al-Isra’ ayat 1 dan QS An-Najm ayat 13-18.

Dimensi Metafisika dan Fisika
Tentu saja butuh sebuah keimanan yang tangguh untuk mempercayai peristiwa ini. Ketika Nabi Muhammad menceritakan pengalaman yang baru saja dilaluinya, saat itu langsung terbelah menjadi dua kubu. Mereka adalah kubu (kaum) yang percaya (beriman) dan kaum yang tidak percaya (kaum Quraisy). Bagi kaum muslim sendiri, seseorang disebut beriman, jika dia percaya pada  hal-hal ghaib (metafisika).

Dimensi metafisika ini, dalam ajaran Islam terangkum pada 6 rukun iman. Diantaranya: (1) beriman (percaya) kepada Allah SWT, (2) percaya kepada adanya Malaikat, (3) percaya kepada Rasul-Rasul Allah, (4) percaya pada Kitab-Kitab Allah, (5) percaya pada adanya Hari Kiamat, dan (6) percaya pada Qada dan Qadar (Takdir Allah di alam semesta). Kepercayaan kaum muslim terhadap peristiwa Isra Mi’raj, merupakan implementasi dari 6 rukun iman ini.

Di luar dimensi metafisika, perdebatan sengit juga kerap terjadi saat melihat kejadian Isra Mi’raj lewat kaca mata ilmu fisika. Di dalam ilmu fisika modern, kecepatan partikel/benda yang paling cepat saat ini adalah kecepatan cahaya (light speed). Kecepatan cahaya adalah sebuah konstanta fisika yang disimbolkan dengan huruf c.Konstanta ini sangat penting dalam fisika dan bernilai 299.792.458 meter per detik.

Perjalanan nabi saat Isra Mi’raj ditemani oleh malaikat Jibril. Sesuai Al Qur’an dan Hadis, malaikat disebut terbuat dari cahaya. DR. Mansour Hassab El Naby, pakar astrofisika dari Mesir  mencoba membuktikan pernyataan Al-Qur’an dan hadist Rasulullah Muhammad bahwa zat malaikat adalah cahaya. Dasar  El Naby adalah Al-Qur’an surah As-Sajadah ayat 5 yang menyatakan : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Diketahui bahwa kecepatan cahaya sebesar 300.000 km per detik (bulatan angka 299.792,4989 km/detik). Jika benar materi malaikat adalah cahaya, maka mau tak mau kecepatan geraknya haruslah sesuai dengan ukuran kecepatan cahaya temuan para fisikawan.

Untuk hal itu, El Naby mencoba membuktikan  apakah benar pernyataan Al-Qur’an ini; kecepatan malaikat 1 : 1000 tahun adalah sama nilainya dengan 300.000 km/detik. Jika benar (1:1000) = 300.000 km/detik, berarti benarlah bahwa zat malaikat adalah cahaya. Apa hasilnya ? Ternyata 1 :1000 tahun = 300.000 km/detik! 

Bisa dibilang, peristiwa Isra dan Mi’raj (perjalanan 1 malam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah terus ke Masjid Al Aqsha di Palestina, dan seterusnya naik ke Sidratul Muntaha di langit ke-7) yang dilaluinya bersama Malaikat Jibril adalah benar secara Fisika maupun Metafisika. Malaikat Jibril terbuat dari cahaya, dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Dengan begitu, nabi yang ikut bersama Malaikat Jibril juga bergerak dengan kecepatan cahaya.

Tahun Kesedihan
Menurut riwayat, Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian Muhammad di Mekkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Al-Maududi dan mayoritas ulama mengatakan, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Sementara Al-Allamah al-Manshurfuri bilang, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

Secara psikologis, banyak pendapat yang mendukung Isra Mi’raj menjadi titik balik kehidupan nabi, setelah beliau bertubi-tubi diterpa kesedihan. Dimulai dari wafatnya paman beliau, Abi Thalib bin Muthalib, kemudian disusul istri tercinta, Siti Khadijah, ditambah lagi perlakuan penolakan dakwah nabi dengan dilempari batu dan cemooh. Nabi Muhammad merasa tertekan dan sedih. Maka apabila diilustrasikan sebagai sebuah siklus, saat itu Rasulullah sedang berada pada titik terendah dalam hidupnya, merasa kehilangan dan sendiri.

Pendapat lain meyakinkan, Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
masjid Al Aqsha dan Al Sakhrah

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekkah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

Lebih dari  segalanya, menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah (Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja)”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh (Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, rahmat dan berkahnya)“.

Perjumpaan ini menjadi inti dari peristiwa Isra Mi’raj. Karena saat itulah, Muhammad diperintahkan untuk menegakan shalat 5 waktu. Bagi kaum muslim, shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual. Shalat juga menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Al – Qur’an menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Ingatkan Kesucian Baitul Maqdis
Ujian keimanan menjadi hal pertama yang harus dipertaruhkan, saat mendengar peristiwa Isra Mi’raj. Selain itu, Sayyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika ditarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

Peristiwa Isra Mi’raj, dalam batas-batas tertentu juga menjadi pengingat tentang tempat-tempat suci umat Islam yang lain,selain Masjidil Haram yang sudah terkenal. Nama Masjid al-Aqsa bila diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, maka ia berarti "masjid terjauh". Nama ini berasal dari keterangan dalam Al Qur’an Surat Al-Isra ayat 1 mengenai Isra Mi’raj. Istilah "terjauh" dalam hal ini digunakan dalam konteks yang berarti "terjauh dari Mekkah", karena jaraknya yang hampir 2000 kilometer.

Selama berabad-abad yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa sesungguhnya tidak hanya masjid saja, melainkan juga area di sekitar bangunan itu yang bernama Baitul Maqdis yang dianggap sebagai suatu tempat yang suci. Perubahan penyebutan kemudian terjadi pada masa pemerintahan Kesultanan Ustmaniyah dimana area kompleks di sekitar masjid disebut sebagai Al Haram Asy-Syarif. Sedangkan bangunan ini awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Umar bin Khattab yang kini disebut sebagai Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Aqsa

Kesucian tempat ini sudah dikenal sejak Nabi masih hidup. Tak aneh,sebelum turun perintah menjadikan Mekkah sebagai kiblat sholat, Baitul Maqdis di Jerusalem dijadikan arah kiblat.  Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah.

masjid Al Aqsha
Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Oleh Kaum Yahudi,tempat ini juga dikenal dengan sebutan Kuil Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).

Di pusat kompleks Kuil Sulaiman, terdapat Foundation Stone yaitu batu landasan yang dipercaya Umat Yahudi sebagai tempat Yahweh menciptakan alam semesta dan tempat  Abraham mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam batu ini adalah tempat Nabi Muhammad menjejakkan kakinya untuk Mi’raj. Untuk melindungi batu ini, Khalifah Abd Al Malik Ibn Marwan membangun kubah dan masjid polygon, yang kemudian terkenal dengan nama Dome of The Rock (Kubah batu).

Inilah yang kerap menjadi kegelisahan umat Muslim. Karena saat di sebut  masjid Al-Aqsha selalu yang ditampilkan adalah Dome of The Rock alias masjid Qubah Al-Shakhra’. Sengaja atau tak sengaja, gambar masjid Qubbah al-Shakhra akan membuat umat muslim kehilangan ingatan tentang masjid Al-Aqsha. Karena tempat ini juga sedang diperebutkan oleh Umat Yahudi, ada anggapan hal itu dilakukan Israel untuk secara perlahan-lahan menghilangkan eksistensi Masjid Al Aqsa, karena mereka meyakini di bawah Masjid Al Aqsa itu ada reruntuhan kuil Sulaiman, yang dicita-citakan Israel untuk kembali dibangun.


Tuesday, May 28, 2013

Melongok Situs Gunung Padang

balok-balok di GN Padang
Balok-balok batu itu berserakan di mana-mana. Tidak hanya di puncak bukit tetapi juga di pesawahan, di sekitar rumah-rumah penduduk, bahkan diperkirakan masih tak terhitung jumlahnya tertanam di bawah bukit dan tanahnya yang amat subur. Lokasi situs ini berada di ketinggian 885 m dpl, di Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Situs Gunung Padang adalah peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara dengan luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m² dan areal situsnya sekitar 3 Ha. Bangunan punden berundaknya berbahan bebatuan vulkanik alami dengan ukuran yang berbeda-beda. Tepat di puncak gunungnya, bebatuan tersebut berserakan dengan denah mengkerucut dalam 5 teras.

Diperkirakan batunya berusia 4000-9000 tahun SM (Sebelum Masehi). Situs megalitik ini sendiri berasal dari periode 2500-4000 SM. Ini berarti bangunannya telah ada sekitar 2.800 tahun sebelum dibangunnya Candi Borobudur. Bahkan, usia situs megalitik ini lebih tua dari Machu Picchu di Peru. Situs megalitik Gunung Padang diperkirakan sezaman dengan bangunan pertama Piramida di Mesir.

Batu dari Gunung Padang
Kata “padang’” dalam bahasa Sunda berarti caang atau terang benderang. Ada juga pengertian lain dari istilah “padang”, yaitu: pa (tempat), da (besar; agung), dan hyang (eyang; moyang; leluhur), dari ketiga kata tersebut kemudian kata ‘padang’ dimaknakan sebagai tempat agung para leluhur.

Bentuk situs Gunung Padang berupa tiang-tiang dengan panjang rata-rata sekitar 1 meter dan berdiameter rata-rata 20 cm, berjenis andesit, basaltik, dan basal. Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian rupanya teratur berbentuk pentagonal (lima sudut). Angka 5 juga seakan memberikan identitas pemujaan bilangan ‘5’ oleh masyarakat Sunda dahulu kala. Hal ini membedakannya dengan Babylonia yang menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7.

Simbol ‘5’ tersebut mirip dengan tangga nada musik Sunda pentatonis, yaitu: da mi na ti na. Oleh karena itulah, selain kompleks peribadatan purba, banyak juga yang menyebut Situs Gunung Padang sebagai teater musikal purba.

Batu-batu andesit Situs Gunung Padang hanya dapat ditemui di sekitar Gunung Padang. Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tidak ada lagi batu-batu besi seperti itu. Masyarakat setempat percaya bahwa batuan andesit itu terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir dan dicuci di satu empang yang disebut Kampung Empang. Hingga kini terhampar berserakan sisa-sisa ukiran batu purba tersebut. Kampung Ukir dan Kampung Empang berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.
  
Situs Gunung Padang pertama kali  termuat dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD) atau Buletin Dinas Kepurbakalaan pemerintah Hindia Belanda pada 1914. Seorang sejarawan Belanda ternama yaitu N. J. Krom sempat menguraikannya tetapi belum banyak keterangan lebih lanjut mengenai informasi keberadaannya. Kajian arkeologi, sejarah, dan geologi kemudian dilakukan Puslit Arkenas sejak 1979. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Hal itu karena mayoritas artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada masa kebudayaan Dongson (500 SM).

Para arkeologi sepakat bahwa Situs Gunung Padang bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914) tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan masyarakat Sunda Kuna. Selain itu, situs ini juga dibangun dengan posisi memperhatikan pertimbangan geomantik dan astromantik. Analisis dengan planetarium yang dilacak hingga ke tahun 100 M menunjukkan bahwa posisi Situs Gunung Padang pada masa prasejarah menunjukan berada tepat di bawah langit yang lintasannya padat bintang berupa jalur Galaksi Bima Sakti.

Legenda Prabu Siliwangi
Berbeda dengan para arkeolog, masyarakat setempat meyakini bahwa reruntuhan bebatuan ini berkaitan dengan upaya Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran yang ingin membangun istana dalam semalam. Bersama pasukan dan masyarakatnya mengumpulkan balok-balok batu alami dari sekitar Gunung Padang. Akan tetapi, sayang upaya tersebut gagal karena fajar telah menggagalkannya sehingga bebatuan itu dibiarkan berserakan di atas bukit.

Asumsi tersebut diyakini karena peninggalan prasejarah ini berupa bebatuan yang sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia atau belum dibentuk oleh tangan manusia. Selain itu ditemukan juga guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Argumentasi ini dikuatkan dengan bentuk monumental megalit dan catatan Bujangga Manik, yaitu seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda dari abad ke-16 yang menyebutkan suatu tempat yaitu Kabuyutan (tempat leluhur yang dihormati orang Sunda) berada di hulu Sungai Cisokan yang berhulu di sekitar Gunung Padang. Namun Bujangga Manik juga menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda.

Uniknya, penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya ada yang disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fukor.

Melihat bentuknya, bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Untuk mengeksplor lebih dalam, Andi Arief yang juga staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan budaya  mengkoordinir Tim Terpadu Penelitian Mandiri Situs Gunung Padang Cianjur—sebelumnya bernama Tim Katastropik Purba—karena diduga bangunan itu berbentuk piramida. Setelah melakukan pengeboran secara diam-diam, tim menemukan atap, lorong, dan material pasir di kedalaman 26 meter terkubur di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Penemuan itu membuktikan gambar yang dihasilkan dari pemetaan geolistrik berupa piramida itu untuk sementara ini benar.

Teka-teki Orkestrasi Musik
Situs Gunung Padang tak hanya memunculkan teka-teki seputar kebudayaan masa lalu yang telah membuatnya. Peneliti dari Bandung Fe Institute bahkan menemukan di sudut belakang bagian timur undak pertama ada sejumlah batu yang tersusun sedemikian rupa. Karena dengan memukulnya akan terdengar suara nyaring berfrekuensi tinggi bagaikan nada-nada.

Peneliti Fe Institue, Hokky Situngkir mengungkap bebatuan tersebut seolah menjadi sebuah alat musik litofonik purba. Tapi berbeda dengan berbagai artefak litofonik warisan megalitik yang juga ditemukan di banyak negara di kawasan Asia Tenggara, ukuran dari artefak ini jauh lebih besar dimensinya. Dengan menggunakan analisis fast fourier transform, Hokky dkk memetakan nada-nada yang dicurigai sampel frekuensinya ke tangga nada barat dan ditunjukkan pengerucutan pada empat nada yakni ‘f’-'g’-'d’-'a’. Menurut dia, mayoritas batuan yang disampling tidak menghasilkan bunyi yang frekuensinya dapat diklaim sebagai ‘nada’ tertentu.


Tangga nada dalam pengelompokan batuan itu lazim digunakan dalam musikologi modern. Fakta ini menunjukkan bahwa sangat mungkin tradisi megalitik di situs Gunung Padang telah mengenal instrumen musik. Memang dari sisi urutan nada-nada yang diperoleh belum sempurna untuk dapat dikategorikan sebagai pentatonic scale ataupun heptatonic scale. Ada dugaan nada-nada yang hilang tersebut kemungkinan ada di batuan yang sebagian terpendam tanah di sekitar batuan yang menghasilkan frekuensi tinggi.

Soal musik ini masih menjadi teka-teki, apakah batu yang jadi sumber bunyi itu merupakan artefak litofon yang telah ditemukan di banyak tradisi megalitik lainnya. Jika memang batuan ini dijadikan alat musik, maka peradaban yang membangunnya telah mengenal pola orkestrasi atau permainan musik dengan berkelompok.

Apalagi kawasan situs ini memiliki ketinggian 983-989 di atas permukaan laut atau relatif jauh lebih tinggi dari kawasan sekitarnya. Hokky dkk menduga, bukan tidak mungkin bunyi-bunyian dari batu itu dijadikan sebagai pemberi aba-aba atau informasi di kawasan bawah situs dengan tipe punden berundak itu.

Tidak dipotong-potong
Berbeda dengan pendapat jika batu-batu itu dibentuk, ada pendapat lain jika Situs Gunung Padang dibangun dari batu-batu yang ada, tanpa sentuhan tangan manusia. Menurut Guru Besar Universitas Indonesia dan arkeolog senior, Mundardjito, para pembangun punden berteras lima itu mengambil bebatuan dari situs itu kemudian menempatkan sesuai fungsinya di bangunan itu.

Ini artinya, pembuatannya tidak seperti Candi Borobudur yang mendapatkan sumber bebatuan dari tempat lain kemudian dipotong berbentuk persegi sesuai ukuran yang dibutuhkan. Fakta ini mematahkan pendapat bahwa si pembangun Situs Gunung Padang menumpuk dan menyusun batu-batu itu dari bawah sampai ke atas hingga menjulang setinggi seratus meter.

Soal pernyataan Tim Terpadu Penelitian Mandiri tentang adanya ruangan di dalam Gunung Padang dari hasil pemindaian dengan geomagnetik dan geolistrik, ada seorang geolog yang menjelaskan bahwa sebenarnya itu bukan ruang, melainkan tanah lembab atau lempung. Sebelumnya, warna biru sesuai hasil pemindaian Tim Andi Arief diduga adalah ruangan bawah tanah di Situs Gunung Padang.

Penelitian tim lain juga mencatat berbagai bentuk kerusakan di situs Gunung Padang. Kerusakan memang bisa disebabkan oleh alam, namun peran manusia—pengunjung dan masyarakat—juga sangat besar dalam proses perusakan itu. Sebagai upaya pelestarian  ada usul penetapan tiga zonasi perlindungan.

Zona Inti yang merupakan area pelindungan utama untuk menjaga bagian terpenting cagar budaya seluas 9.000 meter persegi. Zona Penyangga, suatu area yang melindungi zona inti seluas 129.000 meter persegi. Kemudian Zona  Pengembangan, berfungsi melindungi lanskap alam dan budaya, kehidupan budaya tradisional, keagamaan, rekreasi dan kepariwisataan seluas 153.800 meter persegi.

Lalu, berapakah usia sesungguhnya situs Gunung Padang ini? Fakta awal Gunung Padang adalah gunung api purba. Batuan kekar kolom merupakan hasil dari tenggorokan gunung api. Berdasar penelitian lewat pertanggalan C-14 terhadap sisa material yang ditemukan di aliran sungai sisi barat Gunung Padang, bahwa pernah terjadi longsoran sekitar 5.300 tahun silam. Sementara budaya megalitik muncul dan berkembang pertama kali di Bumi sekitar 2500 - 1500 sebelum masehi. Mana yang benar?Penelitian hingga kini masih berlangsung. Jadi,tunggu saja.


Friday, May 24, 2013

Demi Tuhaaaan!

Arya dan Adi Bing Slamet
Syahdan, dunia menjadi gempar saat berita kematian Marilyn Monroe tersebar luas. Seorang bintang tenar yang sedang berada di puncak popularitas, ditemukan sekarat karena dugaan over dosis. Marilyn meninggal di usia 36 tahun. Hingga kini, kontroversi kematiannya masih terus terjadi. Benarkah ia bunuh diri?Atau Marilyn sengaja dibunuh karena  dianggap membahayakan karir politik Presiden John F. Kennedy (JFK) dan saudara laki-lakinya Robert F. Kennedy?

Saat Marilyn meninggal 5 Agustus 1962, dunia hiburan Hollywood tentu belum semaju sekarang. Tapi sudah jadi rahasia umum, jika perempuan berambut blonde itu pernah jadi “cem-ceman” JFK. Seturut kemajuan dunia medis, kesimpulan awal jika Marilyn sengaja mengakhiri hidupnya memang tak berubah. Belakangan langkah Marilyn juga “ditiru” pesohor-pesohor Amerika yang lain, seperti pentolan grup Nirvana, Kurt Cobain. Ia mati setelah menembak kepalanya sendiri, ditengah rencana perceraian dengan istrinya.

Selebritas Indonesia, bersyukur masih kuat mental menghadapi tekanan hidup, yang kadang sudah diluar rasio. Catatan sendu barangkali hanya ditorehkan saat bintang lawas Marlia Hardi nekad menggantung diri karena belitan hutang dari rentenir yang tak kunjung usai.Sejujurnya dengan pendekatan apapun, kisah-kisah tragis bintang Hollywood itu susah dipahami, hingga tak aneh latar belakang dari perbuatan nekad itu hingga kini masih buram. Popularitas, puja-puji, limpahan materi dan kemuliaan hidup telah mereka dapatkan. Mereka juga bukan bintang yang tiba-tiba nongol dan menuai berkah dari keajaiban publikasi. Tapi kenapa mereka melakukan itu? 

Mungkin masalahnya tidak sesederhana itu. Bagi orang awam yang belum pernah mencicipi dunia yang penuh ektravaganza, bintang-bintang itu seperti hidup di atas menara gading. Semua serba dilayani. Tak aneh, ribuan anak muda bermimpi untuk menggapainya. Jika pun anaknya tak mau, orang tuanya kadang yang punya obsesi besar agar sang anak bisa popular. Bukan rahasia lagi, segala cara ditempuh, bahkan bila perlu mengeluarkan biaya pribadi untuk sekedar bisa bikin video klip atau mendapat peran kecil di sebuah pentas drama atau sinetron. Bagi yang beruntung, bisa lewat “jalan tol” bernama kontes-kontesan, atau yang sedang in sekarang, tingkah konyol di Youtube atau depan kamera.

Otak pebisnis hiburan adalah menangkap momen. Siapa yang sedang naik, langsung ditangkap. Kadang dengan sedikit perjudian. Ini yang terlihat, ketika akhir-akhir ini tayangan-tayangan infotainment dipenuhi teriakan “Demi Tuhaaaaan” Arya Wiguna, bekas anak buah Eyang Subur. Dulu ada Sinta dan Jojo (Sinjo), serta Norman Kamaru. Saya tidak ingin memastikan, durasi Arya Wiguna paling setali tiga uang dengan Sinjo dan Norman Kamaru. Laiknya gelembung sabun, mengembang sebentar lantas meletus, segera dilupakan orang.

Faktor terpenting dari hikmah popularitas adalah cara mensyukurinya. Entah populer hasil kerja berdarah-darah, atau ketiban sampur karena rencana Tuhan. Sebab, saat popularitas itu dimasukan ke dalam hati, sakitnya bukan kepalang, ketika dicabut Yang Maha Kuasa. Coba anda tanya  bagaimana perasaan bintang besar, yang sempat berjaya di era 2000-an misalnya, kemudian diceukin tatkala berada di antara kerumunan wartawan, karena para jurnalis lebih suka menyapa dan mewawancara artis muda yang segar, ranum dan cantik.  Sakit sekali. Seperti diasingkan di planet Mars.

Tidak ada yang salah dengan pelaku industri hiburan. Hukum ekonomi berlaku ketat. Siapa yang tak lagi mendatangkan fulus, bakal ditendang. Arya Wiguna mungkin masih merasa ini masanya. Ini saatnya untuk menikmati puja-puji, diajak foto bareng, ditawari kontrak rekaman, atau digaet untuk jadi calon wakil bupati. Apakah keliru? Jangan salah, ekspektasi publik kadang diluar kemampuan si bintang, hingga popularitas dalam diri beberapa orang justru menjadi penjara budaya. Michael Jackson habis-habisan mengonsumi obat kuat, agar shownya bisa berlangsung perfect. Akibatnya, Jacko meninggal dunia.
 
Marilyn Monroe
Selain soal attitude, belum masalah benda-benda yang menempel di badan. Saat job masih lancar, duit mengalir, mungkin itu tak masalah. Tapi, usia popularitas jika tak pandai menjaganya bisa-bisa hanya seumur jagung. Jika tak kuat menahan segala tekanan itu, obat-obatan atau pelatuk pistol rawan dipilih sebagai solusi. Intinya, tidak gampang berenang diantara awan-awan popularitas. Kerinduan untuk menjejak bumi lepas dari segala atribut keartisan kerap meggoda, tapi situasi dan kondisi sering menahannya. Ini bikin stress.

Arya Wiguna dan belakangan Sefty Sinustika, istri si playboy Ahmad Fatonah, tahu benar kesempatan tidak datang dua kali. Saat moncong kamera terus bertubi-tubi ingin mengambil gambarnya, ini adalah potensi yang bisa mendatangkan keuntungan finansial yang besar. Mereka sedang dipeluk Dewi Fortuna. Soal ada yang sudah bosan melihat lagaknya yang alay (pinjam istilah ABG sekarang), itu  masalah lain. Namun jika membaca peta persaingan super ketat yang terus berlangsung, “Demi Tuhaaaaaan” bukan itu cara bijak untuk mensyukuri keberuntungan mereka. Kecuali kalau Arya ingin, keberadaannya di pentas dunia hiburan cepat-cepat ditarik dari orbit edar, karena publik sudah tak menyukainya lagi. Habis, cuma bisa teriak-teriak "Demi Tuhaaaan" doang

Monday, May 20, 2013

KAOS


Ada satu moment “menjijikan” saban kali peluit panjang wasit menandai berakhirnya pertandingan sepak bola. Beberapa pemain terlihat bertukar kaos,  menggegamnya erat-erat, seolah tak mau kehilangan barang berharga itu. Ritual ini, dalam beberapa hal memang seperti menghapus segala perseteruan yang baru terjadi. Seorang pemain bintang, kadang tak melulu menukar kaosnya sebagai tanda berakhirnya kompetisi, tapi juga karena sang kaos jadi rebutan sebagai cedera mata pemain lawan yang mengaguminya. Tak peduli, kaos itu sudah basah dan menguarkan bau tak sedap.

Sebagai penikmat bola amatiran, saya kadang tak habis pikir dengan “upacara” itu. Buat apa kaos bau ketek ditukar-tukar, atau bahkan diperebutkan, seperti yang terjadi saat David Beckam bertandang ke Senayan tempo hari? Bukankah jersey serupa bisa dibeli, dari kelas yang original hingga yang berharga Rp 35 ribu, dengan jaminan masih baru dan tidak bau?Belakangan setelah saya ngobrol dengan seorang bekas pengurus PSSI, ritual itu memang memiliki banyak makna. Salah satunya, kompetisi boleh saja berlangsung sengit dan keras. Tapi setelah semua usai, mereka semua, kita semua sesungguhnya bersaudara.

Makna ini memang terasa indah, jika diresapi dalam-dalam tak hanya di dunia olahraga. Saya tergelitik untuk menghubungkannya dengan fenomena belakangan, dimana para artis sedang berlomba-lomba memakai kaos partai. Ada yang berseragam merah, biru, hijau atau kuning. Saat ini, kaos telah membuat mereka “berjarak”. Si A adalah kita, dan si B adalah mereka. Kompetisi sengit yang bakal dihelat di 2014 nanti, sudah mulai terlihat dengan berbagai manuver, dengan alasan yang hampir seragam; ingin memperbaiki kondisi bangsa.

Ada artis yang tetap setia dengan seragam kaos sebelumnya. Tapi beberapa terlihat berganti kaos, karena mendapat tawaran yang lebih menarik dari partai sang pemilik kaos. Mirip seperti pemain bola profesional, yang jika tak betah akan segera hengkang untuk mengenakan jersey baru. Kaos menjadi identitas baru, sekaligus sumber kebanggaan karena berhasil masuk dalam komunitas tertentu. Tak cuma sebagai anggota dewan,”kaos” dalam hal jabatan yang lebih tinggi juga menarik untuk jadi rebutan.

Saat Rieke Dyah Pitaloka ada isu hendak mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Jawa Barat, saya sempat menanyakannya kenapa harus “mengkhianati” konstituen yang telah mengantarkannya ke Gedung Dewan.  Saat itu, Rieke mencoba meyakinkan jika niatnya untuk maju “nyagub” baru sebatas wacana. Kebetulan belum lama Rano Karno meninggalkan kursi Wakil Bupati Tangerang, untuk memburu jabatan lebih tinggi sebagai Wakil Gubernur Banten. Langkah Rano itu sempat membuat saya berdebat kecil dengan Si Oneng, soal banyaknya politisi yang lebih bernafsu memburu kekuasaan, daripada merampungkan amanah yang dibebankan masyarakat hingga tuntas.
kaos partai siap dijual
Posisi sebagai selebritas, dalam banyak hal memang menguntungkan artis saat hendak terjun di dunia politik praktis. Pramono Anung dalam risetnya bahkan menyebut, artis sebagai figur yang paling kecil mengeluarkan ongkos politiknya, karena nama mereka yang sudah dikenal. Dalam posisi seperti itu pun, mereka masih kerap diberi keistimewaan, dengan ditanggung seluruh biaya kampanyenya. Ini sungguh-sungguh terjadi dan bukan isapan jempol belaka. Partai politik tak peduli dengan latar belakang si artis. Entah tak tamat SMA atau populer hanya karena gosip-gosipnya semata.

Apresiasi tentu pantas disematkan pada artis yang mau belajar, dan akhirnya mereka jadi melek politik. Tapi gugatan juga harus dilayangkan, pada artis yang selama lima tahun jadi anggota DPR tapi tak pernah sekalipun ngomong politik di depan media. Giliran ngomong, malah soal rencana cerainya. ”Kaos” yang mereka pakai, seolah hanya formalitas agar tak di cap pengangguran terselubung, karena berkurangnya job di dunia hiburan. Lebih mengenaskan lagi, jika semua itu dilakukan karena memang kapasitas mereka yang tidak memadai sebagai anggota dewan.

Sistem pemilihan langsung telah menjungkirbalikan akal sehat kita, sampai-sampai ada kekhawatiran akan muncul oilgarki-oligarki baru. Jabatan publik dikuasai oleh keluarga dan golongan tertentu, karena kekuatan uang dan pengaruh. Masyarakat pun dinilai semakin pragmatis. Tak peduli misi dan visi, jika sudah menyumbang pembangunan mushola, maka pilihan gampang dijatuhkan. Kondisi ini, telah menutup rapat figur cerdas dan punya idealisme tinggi untuk berkiprah di dunia politik, karena asupan “gizi”nya yang seret.

Laiknya semangat sepak bola, korps artis memang paling sedikit menonjolkan “kaos”nya setelah kompetisi berakhir. Ini positif. Mereka masih merasa senasib sepenanggungan, walau berada dalam partai berbeda. Jarang terjadi saling serang, atau sikap bermusuhan sekalipun itu di depan layar gelas. Keadaan ini berbeda pada politisi yang berangkat dari background lain, terutama para pengusaha lebih-lebih aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Tentu saja undang-undang memberi jaminan dan hak yang sama pada tiap warga negara, apapun profesinya untuk berkiprah di dunia politik. Jika segala kemudahan didapatkan kelompok artis, itu adalah berkah Tuhan yang harus disyukuri. Namun berkah itu rasanya terlalu dikesankan aji mumpung, jika mereka berangkat dengan bekal minim dan kemampuan seadanya.  

Saat para artis itu telah berhasil mentransfer nilai-nilai sportivitas usai kompetisi 2009 lalu, akan lebih elegan lagi jika mereka juga meniru persiapan matang seorang pemain bola dengan latihan kerasnya, agar level permainannya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Tantangan zaman berubah. Persoalan bangsa terus menjadi-jadi. Dengan kemampuan mumpuni, yah, selain agar tidak malu-maluin, siapa tahu “kaos” yang mereka pakai benar-benar menjadi jersey kebanggaan. Bukan sekedar alat kamuflase karena di dunia hiburan nama mereka sudah mulai redup.Tabik...   




Sunday, April 28, 2013

UJE


Ustaz Jefry Al Buchori
Sesaat setelah badan helikopter mendekat, jenasah yang meninggal langsung diusung secara estafet di atas kepala kerumunan massa, untuk dievakuasi.Puluhan orang tewas tergencet, lainnya pingsan karena berdesak-desakan. Semua mendekat. Semua ingin menggapai kain kafan jenasah Ayatullah Khomeini (86). Sekitar sepuluh juta warga Teheran mengiringi pemakaman Pemimpin Tertinggi Spiritual Republik Islam Iran itu ke Behez El Zahra (Taman Az Zahra), usai dinyatakan meninggal dunia 3 Juni 1989 silam. Mereka tak perduli, walau akhirnya harus meregang nyawa karena terinjak-injak atau kehabisan oksigen.

Dahsyat, sungguh dahsyat!Dalam pandangan mata anak baru gede yang senang membaca majalah bekas, laporan pemakaman Ayatullah Khomeini itu hingga kini masih terus membekas. Saya tak tertarik mengupas ideologi Syiahnya. Saya juga tak hendak memastikan, Khomeini bakal masuk surga karena pemakamannya yang sedemikian spektakuler. Tapi satu yang saya tangkap, begitulah imbalan setimpal jika sosok besar dan menginspirasi banyak orang harus meninggal dunia. Kesan itu, seolah terulang saat melihat pemakaman Ustaz Jefry Al Buchori, Jum’at (27/4) lalu.

Tentu tak adil membandingkan kiprah Khomeini dan Uje –begitu Ustaz Jefry Al Buchori biasa disapa. Mereka hidup dalam dimensi yang berbeda. Khomeini sosok agamawan dan juga politisi. Uje murni pendakwah. Khomeini menginspirasi generasi sesudahnya, karena kesederhanaannya yang ekstrim. Seorang pemimpin tertinggi sebuah negeri kaya minyak yang hanya mewariskan satu rumah petak kecil dan sejumlah buku puisi saat meninggalnya. Uje mencerahkan generasi seangkatannya, yang sedang berada dalam masa “pancaroba”.

Jika Khomeini disanjung, Uje tak berbeda jauh. Tapi inilah adab yang memang harus dilakukan.  Meski dalam beberapa hal, ada yang terasa kurang pas. Saya tak hendak memvonis, soal beredarnya blackberry messenger (BBM) yang mengabarkan Habib Mahdi melihat Uje muncul bersama 7 kyai lain di TPU Karet Tengsin, Jakarta Pusat, dengan Uje menyaksikan jasadnya diturunkan ke liang lahat, sebagai sesuatu yang keliru. Termasuk kabar yang beredar disertai foto, jika awan membentuk posisi orang berdoa, saat pemakaman Uje berlangsung.

Sebagai anak bangsa yang juga menyaksikan sosok mantan Presiden Soeharto dan Gus Dur mangkat, saya mencoba memahami psikologis orang Indonesia yang melodramatis. Dalam beberapa hal, kondisi ini juga dipengaruhi oleh sifat masyarakat agraris, yang masih percaya pada hal-hal ghaib. Konon sebelum Soeharto wafat, liang lahatnya di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah meledak. Begitupun usai jenasah Gus Dur dimakamkan di komplek Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, hujan deras yang membuat makamnya ambles dimaknai sebagai pertanda lain soal kewaskitaan Gus Dur.

Dibanding Soeharto dan Gus Dur, Uje bukanlah sosok yang dekat dengan dunia metafisika. Tak heran, saat BBM itu beredar, sejumlah tanya muncul dibenak saya. Siapa tujuh kyai yang muncul bersama Uje di pemakaman, hingga kini Habib Mahdi juga belum merinci. Termasuk, bagaimana mengidentifikasi mereka dengan tepat, di tengah lautan manusia yang mayoritas berbusana koko dan berpenutup kepala warna putih. Lebih mengundang tanya lagi, saat BBM itu menyuruh sang penerima untuk meneruskannya ke pihak lain. Di jamin, katanya, dalam dua jam berikutnya akan mendapat kabar baik.  
foto lama yang ternyata diambil di Cilandak Town Square
Saat melihat foto awan yang mirip orang sedang berdo’a, yang ternyata foto lama, ingatan saya justru meluncur terhadap sikap Rasululloh Muhammad, kala kematian putranya yang bernama Ibrahim dibarengi dengan fenomena alam berupa gerhana bulan. Saat itu, banyak orang meyakini, terjadinya gerhana karena kematian putra nabi. Namun, nabi kemudian membantahnya dengan tegas. Intinya, fenomena alam yang terjadi berbarengan dengan kelahiran dan kematian seseorang, tidaklah ada sangkut pautnya. Itu murni tanda-tanda kekuasaan Allah.Begitu sabda nabi. Tidak ada tafsir lain.

Mangkatnya Uje sudah pasti menjadi kehilangan kita bersama. Saat kematangan emosional dan intelektual konon mulai terwujud di usia 40 tahun, ia justru harus menemui Tuhannya. Ini takdir, dan sebagai makhluk yang beriman kita harus menerimanya dengan ikhlas.”Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,”kata Allah (QS. 21:35). Namun jika syetan telah gagal membujuk orang-orang untuk ikut datang dan mendoakan Uje, jangan biarkan ia sukses dengan skenario berikutnya. Banyak cara, salah satunya lewat berita BBM yang tak jelas juntrungannya.

Siapa bisa menjamin setelah menyebarkan BBM itu dua jam kemudian bakal mendapat kabar bahagia? Derajat pesan ini tak lebih dari pesan-pesan lain yang bertebaran, dengan ancaman jika tidak disebarkan akan mendapat kabar duka. Celakanya, kondisi ini kerap dipercaya mayoritas masyarakat kita. Padahal Uje sendiri semasa hidup selalu berpesan agar terus menebar kebaikan, karena kita tidak tahu apa yg bakal terjadi 5 menit ke depan. Entah kabar bagus, atau justru kematian.

Penghargaan yang layak telah Uje dapatkan di akhir hidupnya. Bagaimanapun,di tengah kontroversi metode dakwahnya, ia telah memberikan pencerahan. Baik lewat isi ceramah maupun kisah hidupnya yang dramatis. Uje juga pendakwah yang getol memberantas takhayul di kalangan jemaahnya. Ia tak tergantikan. Jika Uje telah berbaring tenang di tengah doa-doa yang terus didaraskan orang-orang terkasihnya, tugas kita untuk tidak membiarkan ia “gelisah” melihat polah orang-orang yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak ada tawaran lain. Tidak ada pilihan lain, agar hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi! Yuk, kita tolak BBM ngaco itu…Wallahua’am bishowab.

Tuesday, April 23, 2013

TASRIPIN

Tasripin dan tiga adiknya
Umurnya sudah 47 tahun. Saat saya temui, sopir taksi itu sedang membawa kami –saya dan fotografer- menuju ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Pekan kemarin, kebetulan kami bertolak ke Jogjakarta. Ia bertutur runtut, soal profesi yang selama 7 tahun telah digeluti. Pria asal Cirebon, Jawa Barat ini mengaku bersyukur, bisa hidup dan menghidupi tiga anaknya dari pekerjaan sopir taksi. “Dulu hidup saya sangat sengsara. Sudah yatim piatu saat masih kecil. Kemudian ikut nenek yang tidak punya apa-apa,”katanya.

Pria berkulit hitam ini mengaku, dalam seminggu kadang bertemu nasi hanya tiga kali. Saking sulitnya kehidupan, ia sempat hampir mati, karena berhari-hari tak ada bantuan dari tetangga. Kini setelah roda nasib berputar lebih baik, trauma masa lalu itu terwujud dalam bentuk keengganan untuk makan sehari tiga kali. Padahal sebagai sopir ia bisa. Tapi saban kali hendak makan, bayangan masa lalu terus menghantui, hingga makanan sulit ditelan.

“Sampai sekarang saya makan sehari cuma sekali. Kalau mau makan enak, saya ingat anak-anak di rumah,”tambahnya.

Pak sopir bercerita bukan untuk menarik iba. Ia menanggapi ucapan saya, soal nasib Tasripin, yang baru-baru ini menyita perhatian publik. Si bapak seolah ingin menegaskan, kemiskinan sudah ada sejak zaman orde lama, orde baru, bahkan hingga kini, ketika globalisasi telah mengubah wajah Indonesia menjadi satu ukuran layar televisi. Tasripin mungkin beruntung terbantu dengan pemberitaan. Dari acara TV, nasibnya terendus wartawan, bahkan seorang Armand Maulana menyempatkan diri mengirim aduan soal Tasripin lewat twitter ke Presiden SBY.

Belakangan SBY memang aktif memantau nasib Tasripin lewat jejaring sosial twitter, termasuk saat ia mengirim utusan menemui Tasripin.  Mungkin trio pendiri dan penemu twitter; Biz Stone, Evan Willliams, dan Jack Dorsey  tak pernah menyangka, inovasinya bakal mempermudah pucuk pimpinan negara seperti SBY menentukan nasib Tasripin yang berada nun jauh di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Tentu saja banyak Tasripin Tasripin lain yang belum terendus kecanggihan IT, karena jauhnya jarak dan sulitnya untuk menemui atau karena kurang beruntung. Saya katakan kurang beruntung, karena sesungguhnya didepan hidung gubernur Jakarta pun, sejak dulu banyak anak-anak bernasib seperti Tasripin. Iwan Fals pernah menyentilnya lewat tembang “Sore di Tugu Pancoran”.”Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu,”dendang Iwan.

Tasripin menjadi bukti, betapa perkembangan teknologi informasi telah  membuat dunia menjadi begitu telanjang. Semua terlihat, dan ini kerap memunculkan efek ganda. Ada kerugian, tapi juga banyak keuntungannya. Termasuk mungkin kita bertanya-tanya, kenapa gubernur Jawa Tengah tidak langsung turun ke lapangan, begitu isu Tasripin mampir ke twitter SBY.
Tasripin dan Letkol Helmi

Di sinilah salah satu “jahatnya” keterbukaan media –baik media sosial maupun media mainstream. Mungkin agar namanya tidak tercemar dan mengganggu pencalonan gubernur yang bakal berlangsung dalam waktu dekat, Pak Bibit  memilih cari aman. Tasripin dibiarkan diurus oleh Dandim 0701/ Banyumas, Letkol Helmi dan staf khusus Presiden  Bidang Pangan dan Energi, Haryoto. Namun niat baik itu pun, dalam banyak kesempatan juga menuai hujatan. Lewat mana lagi kalau bukan lewat media sosial.

Jika jujur, Tasripin sejatinya mewakili wajah masyarakat marginal kita dari masa ke masa. Jika media sosial sudah booming  saat sopir taksi yang saya naiki masih bergulat dengan kemiskinan, barangkali Orde Baru tak bakal membanggakan sistem ekonominya yang mengandalkan trickle down effect. Dengan kata lain, ini kesalahan semua, ini kekeliruan desain ekonomi yang dirancang oleh para pengambil kebijakan di “atas sana”, sejak ekonomi Orde Baru mulai digagas.

Dengan nada canda, orang-orang kerap mengklasifikasi kelas-kelas sosial masyarakat kita, akibat kesalahan desain ekonomi. Pertama, mereka yang bertanya hari ini bisa makan apa tidak. Kedua, orang-orang yang berbisik, hari ini kita makan apa?Ketiga, yaitu mereka yang tertawa sambil bertanya hari ini kita makan di mana?Kelompok tertinggi, adalah mereka yang berteriak-teriak, hari ini kita makan siapa?

Tasripin menyadarkan semua, untuk mencari cara terbaik, bagaimana kemiskinan bisa ditumpas habis. Ini penyakit non medis, yang dalam perspektif religi amat mengkhawatirkan, karena bisa membuat orang menjadi kufur. Kadal Faqru Ayakuna Kufran,kata Nabi Muhammad. Sahabat Ali Bin Abi Thalib sendiri sampai mengibaratkan, jika kemiskinan itu berujud orang, ia akan membunuhnya dengan pedangnya. Kegeraman Ali, bisalah disamakan dengan kegelisahan Armand Maulana, kala mendengar kisah Tasripin.

Islam sendiri sebetulnya sudah mengantisipasi munculnya Tasripin Tasripin lain, sejak 14 abad lalu. Dari 250 juta penduduk Indonesia, potensi zakat nasional yang bisa diraih mencapai 213,7 triliun pertahun. Dari jumlah itu, baru sekitar sepuluh persen yang bisa dikumpulkan. Celakanya, tak hanya kesadaran zakat yang rendah, yang sesungguhnya bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan, dana-dana bantuan untuk orang miskin pun kadang hilang tak tentu rimbanya.

Presiden SBY dan staf ahlinya, Letkol Helmi dan Armand Maulana, menjadi pencerah bahwa begitulah sesungguhnya kepekaan nurani dibangun, di tengah semakin runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan kita karena kabut tebal hedonisme. Tasripin dimunculkan Tuhan untuk “menggebuk” kita semua, yang selama ini banyak mengeluh ditengah nikmat yang kerap dipandang sepele. Lepas dari semua, drama ini akan menjadi berharga, ketika kita bisa menarik pelajaran, dan tidak sekedar mencela, mengumpat, menyalahkan, atau sikap-sikap negatif lain, apalagi hanya lewat sosial media. Tasripin tak butuh retorika. Ia butuh tindakan nyata.


Monday, April 15, 2013

Taman Rakyat Slawi Ayu


Monumen Kota Slawi
Seberapa seringkah ingatan masa lalu menggoda jiwa untuk kembali menelusur “jalan setapak” yang pernah kita lewati? Jika pertanyaan itu diajukan pada saya, jawabannya gampang saja; sering sekali. Maka saat ada kesempatan, hal itu tidak saya sia-siakan. Usai liputan sebentar di Cirebon, Rabu (10/4) lalu, saya sengaja nyelintis (bahasa Indonesianya apa ya?) ke kampung halaman. Jarak Cirebon-Tegal tidaklah jauh. Saya pamit tidak ikut bus panitia, untuk kembali ke Jakarta.

“Mau nengok orang tua bro. Mereka bilang lagi agak kurang sehat,”kata saya pada orang Djarum, usai berbasah-basahan memotret penghijauan kawasan Pantura. Saya sempat berfikir, ah, paling dua jam  juga sampai. Tapi ternyata keliru. Di terminal Cirebon, saya harus menunggu lama bus Coyo. Tarifnya Rp 20 ribu. Karena lapar, saya sempatkan juga mencicipi lontong empal.

Bus Coyo memang hanya sampai stasiun Tegal. Untuk ke Jembayat, Margasari, terpaksa saya naik bus ¾. Kala itu malam, hujan lebat baru saja turun. Bau tanah basah terasa menyeruak, membuat pori-pori hidungku kembali menyeret masa sekian puluh tahun lalu. 

Sekejap, saat melewati Kota Slawi, mata saya mulai berbinar-binar. Bukan apa-apa. Tapi sungguh, semua telah berubah. Semua telah bergerak maju, untuk tidak saya katakan berubah modern. Masjid Jami Slawi telah berdiri megah, dengan bunderan yang elok dan manglingi. Dulu sejak SD-SMP, saya tak henti-henti disodori kupon sumbangan. Katanya untuk mbangun Masjid Jami. Mungkin setelah berdiri megah, iuran itu sudah berhenti.

 Jika ada yang kurang, barangkali jalan-jalannya saja yang masih bergerunjal, seperti kurang perawatan.Tapi hal paling menyolok mata adalah berdirinya beberapa taman di sepanjang Kota Slawi hingga Adiwerna. Mataku sempat bersirobok dengan sebuah prasasti bertuliskan sesuatu, yang langsung menyita perhatian. Di situ tertulis,”Taman Rakyat Slawi Ayu”. 

Karena naik bus, saya memang tidak bisa menengok bagaimana keindahan sang taman. Begitu pula kondisi gelap tak membuat semua pemandangan taman bisa terakses dengan sempurna.
salah satu sudut kota Tegal

Tapi, sepanjang jalan pikiran saya sungguh tergelitik. Kenapa disebut “Taman Rakyat”?Kata “Rakyat” membuat imajiku bergerak liar. Saya jadi ingat pemuda rakyat, balai rakyat, tentara rakyat dan Republik Rakyat (Cina). Saya berbaik sangka, mungkin yang memberi nama ingin mengesankan, jika taman itu memang untuk rakyat. Tapi jika dilanjut,”Taman Rakyat Slawi Ayu”, saya yang orang Jembayat barangkali tak boleh masuk. Ini artinya, saat akan masuk bakal ditanyai, “Ente orang mana?Ada KTP?Ini khusus rakyat Slawi,”.Amboi….

Mungkin pula yang memberi nama ingin mengingatkan, jika Slawi dulu amat anti pada gerakan pemuda rakyat, organisasi underbouw PKI. Ada semacam penegasan heroik, atau spirit semacam itulah, yang membuat taman itu memang pantas di kasih embel-embel ‘rakyat’. Ini tentu beda dengan taman bunga di depan SMA 1 Slawi, almamater tercintaku. Tapi, pemberian nama itu, jika direnung lebih dalam, sesungguhnya menunjukan ketidakfahaman konteks sebuah kata, dengan makna kata yang diinginkan. Ini pendapat pribadi. Saya bisa saja salah.

Selain taman rakyat Slawi Ayu, di kiri kanan jalan bertebaran pula spanduk-spanduk pilkada. Jago dari masing-masing parpol memasang jargon-jargon menarik. Ora korupsi lan ngapusi, misalnya. Ada juga yang menulis,ngajeni lan ngayemi. Pikiran bodoh saya lantas bertanya, sejak kapan orang Tegal mengadopsi kata “lan” menjadi penyambung antar kalimat?Mungkin ada intervensi dari orang Semarang, yang notabene sedang punya hajat. Tapi mengingat itu, saya tersenyum sendiri, sambil menikmati jalanan mulus Lebaksiu. Di sinilah, di sebuah tikungan, saya masih menjumpai beberapa deret warung sate, yang mengusung nama unik dan nyleneh.

plang sate Tegal
Apa hayo?Jika diamati, semua warung sate dari Tegal hingga Lebaksiu, selalu diawali kata “ibu” tapi dibelakangnya nama sang suami. Ada “Ibu Hadi”, “Ibu Toto”, atau “Ibu Ratno”. Jarang sekali yang percaya diri memakai nama warung sate “Ibu Maya”,  “Ibu Ayu” atau “Ibu Ariani”. Kenapa? Apakah karena dengan mencantumkan nama suami, kesannya lebih menghormati sang kepala keluarga, meski yang ngipasi tetap saja sang istri? 

Saya berfikir, mungkin ini hanya trik pemasaran saja. Semacam keyakinan, jika nama suami disebut bakal membuat awareness pengunjung bisa lebih cepat nyangkut. Alhasil, warung sate “Ibu Ayu” barangkali terdengar janggal.

Tegal kota, dan kabupaten Tegal, tentu memiliki segudang unggulan. Sate salah satu diantaranya.  Karena keunggulan ini, saya sempat ketemu Saipul Jamil syuting sinetron Haji Medit, dan dia memerankan orang Tegal yang membuka warung sate bernama warung sate “Rika”. Ini bukan nama orang. Tapi “Rika” terjemahan dari kamu, ente, elo atau kowen. Saya sedikit banyak bangga, karena sate dan dialek Tegal laku dijual. Yah, meski masih sebatas untuk lucu-lucuan,komedi-komedian, walau sesungguhnya bisa dipakai untuk lebih serius.

Memang ada hal yang cukup mengecewakan. Tegal yang terkenal dengan warung Tegal-nya, ternyata lebih suka membangun monumen poci di berbagai sudut kota. Sepanjang saya berkeliling Indonesia, tak ada yang tidak mengenal warteg. Tapi teh poci?Mungkin dikenal, tapi sebatas dikota Tegal dan Slawi saja. Anehnya, tak ada monumen warteg, sebagai penanda itulah yang selama ini telah menghidupi ribuan warga Tegal, telah mengangkat derajat dan menyekolahkan anak-anak Tegal, hingga menjadi dosen, tentara, bahkan menteri. 

Sampai di rumah, ada lagi satu yang tertinggal, soal laporan pandangan mata. Spanduk panjang seorang dalang membentang, meminta bantuan dan doa restu karena ia hendak mencalonkan diri sebagai calon bupati (cabup). Belum lama berselang, saya juga membaca berita, seorang pesulap yang tak pernah bicara tertarik untuk maju sebagai cabup Tegal.

Ah, demokrasi kadang mengorbankan kualitasnya sendiri. Secara pribadi, saya bermimpi Tegal bakal di pimpin oleh orang-orang dengan kemampuan mumpuni. Punya wawasan global, dengan citarasa lokal. Tapi, saya tak mau terlibat terlalu dalam soal ini. Pro dan kontra bakal muncul. Mending lihat saja, dan siapapun yang terpilih, itu pilihan wong Tegal.

Saat balik ke Jakarta, dan melewati Cirebon, semua lenyap begitu pengamen cantik mendendangkan tembang “Bandul Satenong” dan “Nambang Dawa”.” “Wis aja di tangisi.Wis aja digetuni. Bathi lara ning ati. Ora penak ning awak,”.Begitu mereka berteriak liris, dengan nada mendayu-dayu, cengkok menggoda, meski tanpa goyang pinggul dan geser dada.

Bertahun-tahun ngasab di ibukota, Tegal memang terasa jauh dari pelupuk mata. Tapi bukan berarti saya tak boleh urun rembuk dan suara,  demi menghindar kasus sang bupati harus masuk penjara, karena kita salah pilih seorang punggawa bukan? Jika akhirnya yang "kotor" yang dipilih, jangan salahkan para seniman tarling kalau mereka lebih suka berdendang liris juga,”Wis aja di tangisi.Wis aja digetuni. Bathi lara ning ati. Ora penak ning awak,”.Mau bagaimana lagi?Tapi mudah-mudahan prediksi saya meleset,hehehehe.