Daftar Isi

Showing posts with label intermezzo. Show all posts
Showing posts with label intermezzo. Show all posts

Friday, June 28, 2013

Memburu CR7 hingga ke Bali

CR7 dan Irina,model jelek asal Rusia
Telepon genggam saya berdering Minggu (23/6) siang, dan seorang perempuan mengeja nama saya dengan takzim.”Mas Ariful Hakim?”ucapnya. Saya mengiyakan. Si perempuan, yang belakangan saya panggil Ibu Fika Kansil, mencocokkan nama saya untuk tiket ke Bali, sesuai pemberitahuan dua hari sebelumnya. Kata Bu Fika, nanti berangkatnya Selasa (25/6) pagi. Mega bintang sepak bola asal Portugal, Cristiano Ronaldo, akan datang ke Bali dan menanam pohon bakau bersama Pak Beye. Walau saya lebih ngefans Lionel Messi, tapi demi tugas okelah perjalanan itu saya lakoni.

Ada dua hal yang membuat pengalaman liputan pemain Real Madrid yang biasa disapa CR7 ini meninggalkan kesan tak enak. Pertama, kerja panitia yang acakadut. Kedua, sikap CR7 yang suka mengubah-ubah jadwal yang sudah diberikan panitia pada wartawan. Sehari sebelum berangkat, saya mesti dateline naskah hingga pagi. Selasa (25/6) pukul 02.00 WIB, setelah naskah kelar, saya ngebut pulang ke rumah. Tiba di rumah pukul 03.00 WIB, ambil tas, langsung  balik lagi ke kantor. Dari kantor, sekitar pukul 04.15 naik taksi ke bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Saya memang lumayan kesal, karena semua serba mendadak. Bayangkan, pemberangkatan pesawat ke Bali  Selasa pukul 07.00 WIB baru saya terima Senin pukul 23.00 WIB. Mungkin dikiranya saya sudah leyeh-leyeh di rumah. Kelon sama bini. Padahal sejak Senin pagi, saya jaga gawang sampai malam di kantor. Dalam kondisi tidak tidur semalaman, tiba di bandara Soekarno-Hatta pun tak ada satu panitia dari Artha Graha Peduli (pihak pengundang), yang menunggu. Saat saya BBM, Ibu Fika bilang, ketemu di Bali saja ya?Di Hotel Discovery Kartika Plaza. Beuh...aya-aya wae.

Sebagai jurnalis yang biasanya tinggal terima beres, terpaksa saya bayar airport tax sendiri. Berangkat sendirian kayak orang hilang. Bahkan sampai di Bandara Ngurah Rai, sekitar pukul 09.00 WITA, lagi-lagi tak ada panitia yang bisa ditemui. Saya BBM lagi, kali ini saya disuruh naik taksi sendirian lagi ke  hotel. Untunglah saya cukup hati-hati, meski akhirnya harus bayar Rp 50 ribu untuk jarak yang begitu dekat. Ini taksi borongan. Tak ada argonya. Mobilnya saja merk Honda City. Tapi sudahlah, yang penting selamat sampai hotel.

Lagi-lagi ujian kesabaran harus saya lalui, usai registrasi di media centre. Saya di suruh chek in. Tapi begitu ke resepsionis, kamar jatah saya baru bisa dibuka pukul 14.00 WITA. Eh, busyet deh. Saya sempat ngomong ke panitia. Tapi alasan mereka, katanya nama saya baru masuk.”Lha, saya sudah ditelepon sejak minggu je...,”kata saya. Tapi tetap saja, kunci kamar tertahan. Terpaksa saya tidur di kursi lobi. Saat perut lapar, saya coba keluar hotel. Dalam bayangan saya, siapa tahu ada warteg yang bisa dimasuki.

Tapi saya lupa.  Ini Bali bung. Apalagi hotel yang saya tempati berada tepat di depan pantai Kuta. Semuanya restoran mahal. Ah, males buat makan harus buang-buang duit. Untung saja ada pedagang keliling. Orangnya naik sepeda motor. Ia menjajakan nasi, lauk, dan makanan camilan. Gaya pakaiannya lumayan membuat saya terhibur. Sandal ungu, kaos kaki, helm, baju, dan celana  semua serba ungu. Wow, rupanya si mpok ini penggemar band Ungu ya? Saya beli dua bungkus kacang rebus.”Harganya dua ribu,”ujarnya.Lumayan buat mengganjal perut.

Ubah-ubah Jadwal
Pukul 13.00 saya bilang terus terang sudah lapar pada panitia. Saya disuruh menuju restoran Pond, yang berada dilantai bawah hotel. Usai menyantap nasi, daging, udang dan buah, saya sambangi lagi resepsionis. Alhamdulilah, akhirnya kunci kamar diberikan. Sore itu, saya masuk ditemani seorang kameramen tayangan C&R. Dalam rundown acara, CR7 akan datang pukul 23.00 dan kita diagendakan untuk meliput di Bandara Ngurah Rai. Tapi sekitar pukul 21.00, saya ditelepon panitia. Peliputan Ronaldo dibatalkan. “Manajemennya bilang, biar Ronaldo bisa fit,”kata si mbak panitia. Ya, sudah, mending tidur saja.

Acara hari Rabu (26/6), pagi-pagi sekitar pukul 06.30 harus sudah siap-siap di lobby hotel. Semua jurnalis akan di bawa ke Tanjung Benoa, tempat CR7 dikukuhkan sebagai duta mangrove bersama Pak Beye. Untunglah saya tidak terlambat bangun. Dengan bus kecil, kami berangkat ke Tanjung Benoa. Sampai di sana sekitar pukul 08.00. Ratusan tamu undangan sudah datang. Begitu juga anak-anak SD yang disuruh menyambut  Pak Beye.

Kita standby bukan dalam hitungan menit. Tapi hampir dua jam lebih, baru CR7 datang. Sepuluh menit kemudian Pak Beye dan Bu Ani tiba. Repotnya, karena ada R1, semua jurnalis tidak boleh moving untuk mengambil gambar. Kalau sudah ambil posisi di satu tempat, ya harus disitu terus. Akhirnya saya pilih di sisi panggung tempat penanaman pohon bakau. Konsekwensinya, saya tak bisa memotret acara seremonial.
nanam bakau
CR7 nampak tersenyum-senyum di sisi Pak Beye, saat acara penanaman dimulai. Ia mengenakan kaos biru dan celana jins, dengan sepatu putih. Tak butuh lama, CR7 dan Pak Beye segera meninggalkan tempat acara. Jika Pak Beye langsung ke hotel, CR7 masuk ke dalam tenda untuk rehat. Tak ayal, banyak orang-orang yang menunggunya keluar. Ada yang bawa kaos dan sepatu untuk ditandatangani.
                                        
Penjagaan ketat polisi, tentara dan pecalang, membuat semua upaya penggemar CR7 meminta tanda tangan gagal total. CR7 langsung masuk mobil Alphard, dan bahkan tidak membuka kaca. Panitia hanya menjanjikan pada peliput, konperensi pers akan diadakan pukul 14.00 WITA. Dengan kondisi lemas dan panas, akhirnya saya mencari bus untuk kembali ke hotel.

Usai rehat sejenak di kasur hotel yang empuk dengan AC sedingin salju, ada pemberitahuan, jumpa pers diundur pukul 17.00. Ya sudahlah, saya pakai untuk molor lebih lama. Pukul 17.00 saya bergegas ke restoran Pond, lokasi jumpa pers. Saya berfikir sudah terlambat. Tapi, sampai di sana, acara jumpa pers ternyata kembali diundur pukul 19.00. Hadeuh, slompret.”Pihak manajemen CR7 yang minta mas,”ujar cewek cantik yang jaga buku registrasi. Ampun.

Akhirnya saya  pakai untuk makan,sembari menunggu pukul 19.00. Ada pengalaman menggelikan, saat saya sedang menyendok nasi. Seorang bule perempuan tiba-tiba membungkuk melihat jam tangan saya.”Time o’clock,”katanya cepat. Karena kepala saya lagi kesal, saya sodorkan saja arloji dekat kepalanya dan ia menyambar dengan cepat,”Five o’clock?”.”Yes...”ujarku sok nginggris.

Tapi sepeninggal bule itu, saya jadi tertawa terpingkal-pingkal. Soalnya jam tangan saya masih menunjukkan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) alias terlambat satu jam. Jadi mestinya di Bali sudah pukul 18.00 alias jam enam. Untung saja bule itu lantas menghilang. Saya nggak tahu bagaimana caranya ngobrol, kalau dia komplain atau ngomel-ngomel. Maklumlah, wong ndeso ora bisa basa Inggris!Ngok...

Rebutan Foto
Ada permintaan aneh bin nyleneh, sebelum Ronaldo memasuki ruangan jumpa pers. Pertama, tidak boleh memotret memakai blits. Kedua, kalau mau motret, jangan kedengaran bunyi “klik”. Syarat terakhir ini diprotes teman-teman. Bagaimana mau memotret tanpa kedengaran “krek”?Sudah dari sononya kamera model profesional yang ada suaranya “ceklik” kalau nembak sasaran. Apa mesti suaranya di ubah jadi “brot”. Protes ini akhirnya diterima.

Saat muncul, Ronaldo pakai baju putih dan celana jins, cengengesan di depan, menjawab pertanyaan moderator, tapi tidak membuka sesi tanya jawab dengan jurnalis. Rupanya panitia takut, ada wartawan yang tanya kenapa pacarnya, Irina Shayk ngumpet mulu?Ada juga yang mau minta komentar soal pelatih baru Madrid, Charlo Ancelloti. Malam itu, CR7 khusus bicara mangrove. Tidak yang lain. Apalagi soal persaingannya dengan Messi,hahaha..
 
pak presiden foto bareng CR7
Nah, ada kejadian kocak, saat puluhan jurnalis meminta diadakan sesi foto bareng. Karena tak mau melayani satu persatu, Aviani Malik, penyiar Metro TV yang juga jadi moderator, menyuruh CR7 memunggungi  kumpulan wartawan. Dalam hitungan detik, semua wartawan berlari mendekat, sampai menabrak-nabrak kursi. Saya yang bertubuh pendek, cuma bisa cengar-cengir tak dapat tempat, saking banyaknya yang mau foto bareng. Nasib....

Usai foto, CR7 langsung ditarik keluar ruangan. Agenda berikutnya adalah gala dinner, yang tertutup bagi para kuli tinta. Malam itu, saya pilih tidur di kamar, daripada mikir acara gala dinner, yang konon CR7 ditemani Irina. Soalnya, pukul 06.30 harus sudah keluar kamar untuk balik ke Jakarta. Puas tidak puas, ya harus dipuas-puasin. Yang penting semua acara sudah saya ikuti, meski tidak maksimal karena berbagai kendala.

Pagi-pagi, naik dua kijang Innova, sekitar sepuluh wartawan Jakarta dianter ke bandara. Tak ada panitia yang melepas. Semua masih tidur. Tapi kami sudah sampai pada tahap muak.”Sudah, nggak usah dipikir, biarpun kita seperti habis manis sepah dibuang. Ini mobil anteran juga kita ngotot. Tadinya disuruh naik taksi sendiri ke bandara,”kata seorang teman yang nampak geram dengan perlakuan panitia.

Pesawat lion air tiba di Jakarta pukul 09.00. Ada jemputan mobil dari kantor. Beberapa teman menagih oleh-oleh, seperti kaos joger. Saya bilang oleh-oleh dari Hongkong?Ini liputan paling amburadul dari sisi manajemen. Mungkin pihak artha graha merasa, nama besar CR7 sudah cukup jadi jaminan kita senang meliput. Anggapan yang ternyata tidak sejalan dengan alur berfikir para peliput.

Lha, buat apa lihat Ronaldo tapi hasilnya cuma capai?Emang gue penggemar dia?Kalau bisa foto bareng Messi, mungkin bisa terobati. Intinya,hasil yang didapat, tak sebanding dengan rasa kangen 4 hari berpisah dengan anak. Belum lagi jika berfikir, yang mengundang adalah pengusaha  sekelas Tomy Winata (TW). Sekali lagi, TW getoo lho...Nggak tahu TW ngerti atau tidak. Saya menduga, anak buahnya bilang, semua beres, termasuk perlakuan terhadap wartawan. Ah, andai saja Pak TW baca blog saya ini.Biar anak buahnya semua ditendang bokongnya satu-satu...buk,buk!





Saturday, September 15, 2012

Laskar Pelangi from Jembayat

Saban kali memegang kamera Canon EOS digital,ingatan saya langsung berlesatan di sekitar pertengahan 1989 silam. Kala itu, dengan mata yang sedikit saya sipit-sipitkan, berbagai objek di atas panggung perpisahan SMP Negeri 1 Margasari saya bidik. Tak banyak yang saya bisa memang. Maklumlah. Itu bukan kamera milik pribadi. Sang empunya “Kodak”, Pak Supadio, bahkan harus mengajari saya memakai “makhluk” itu dengan telaten.”Dibikin fokus dulu ya obyeknya. Baru dijepret,”kata Pak Padio, sambil memutar-mutar lensa kamera yang masih manual.

Saya tak tahu kenapa ditunjuk oleh panitia jadi seksi dokumentasi. Tapi toh, segala aktivitas untuk “mengawetkan” aksi teman-teman itu, tak banyak membantu untuk mengingat-ingat kembali segala peristiwa saat saya menuntut ilmu di sana. Banyak kenangan tergerus lintasan zaman. Banyak memori membeku, tersaput keterbatasan kecerdasan yang saya miliki. Maka, saat satu demi satu nama teman-teman mulai disebut di situs jejaring sosial, sedikit demi sedikit, dengan sangat perlahan-lahan,  bayangan wajah mereka mulai tergambar.

Sudah pasti kondisinya telah jauh berbeda. Ada yang nampak sudah seperti Surya Paloh –dulu parasnya khas oriental, dengan gaya bicara yang cepat dan bersemangat. Beberapa bahkan harus saya ingat-ingat lagi, di mana ciri khas yang bisa membuat saya ngeh, bahwa ini adalah teman  sekelas. Begitulah. Segala proses untuk coba kembali memutar jarum jam kehidupan ini, saya nikmati seperti sebuah permainan puzzle yang mengasyikan.

Cah Ndeso Masuk Kuto
Jauh sebelum saya masuk SMP Negeri 1 Margasari, tiap kali peringatan 17 Agustus, memang saya kerap mendengar nama SMP N 1 disebut. Sesekali, saya bertandang untuk berlomba. Beberapa kali saya juara baca puisi, dan sekali ikut lomba mengarang.  Tentu tak ada pikiran, jika saya akhirnya harus terdampar di situ, yang menurut para guru saya itu adalah sekolah terbaik di kota kecamatan Margasari. Yang jelas, di awal-awal saya masuk, segala hal baru dan menakjubkan segera saya lihat dan rasakan.

Pengalaman tak terlupakan barangkali soal jaraknya yang lumayan jauh. Ini terkait alat transportasi yang mesti saya gunakan. Kebetulan usai lulus  dari SD Negeri Jembayat 4, almarhum bapak menghadiahi sebuah sepeda berwarna merah menyala. Dengan sepeda itulah, tiap hari saya mengukur jalan, menuju kota kecamatan. Saya, Ais Zakiyudin, Ma’mun dan sesekali Fahruri, harus menggenjot pedal, berangkat sendiri-sendiri dan pulang bersama-sama. Kami tak bisa berangkat bareng, karena rumah kami berjauhan untuk bisa janjian.

Jalanan Jembayat-Margasari waktu itu masih sepi. Di kiri kanannya lebat oleh tanaman jati. Saya bahkan   pernah mendengar suara monyet bersahut-sahutan, di tempat yang dikenal dengan nama kandang iwak. Jika pulang hujan, kami semua basah kuyup, karena tak ada tempat berteduh.  Pernah  saking tebalnya kabut hujan, saya nabrak Ais, dan kami hanya tertawa-tawa setelah jatuh. Peristiwa paling mengenaskan barangkali saat saya menabrak becak di dekat pasar Margasari. Sepeda rusak, baju saya belepotan oleh kotoran kuda, yang kala itu masih banyak mangkal di sisi  pasar.

Bukan maksud saya mendramatisir peristiwa itu. Tapi rangkaian gambar masa lalu, dengan segenap suka dan duka bersepeda, mengingatkan saya akan perjuangan sekelompok bocah di novel Laskar Pelangi. Dalam hal-hal tertentu, kami memang lebih beruntung. Jika lagi malas menggenjot pedal, saya pilih naik bus Kalitangi, yang seluruh bodinya terbuat dari kayu. Bunyi mesinnya, “greng-greng,greng-greng,greng-greng”, dengan badan bus yang terus bergoyang tak kuasa menahan getaran knalpot.

Di kota Margasari, saya pertama kali melihat penjual mie ayam. Agak takut-takut juga waktu nekad mencoba mampir. Sebagai orang kampung yang biasa makan pakai tangan, jari jemari rasanya bergetar memegang sumpit, malu kepergok tatapan mata dari pengunjung lain. Selain mie ayam, saya juga takjub melihat game wacht, yang banyak disewakan di depan SD dekat SMP 1. Di rumah Bambang gendut, saya sering mencoba mencicipi minuman dingin dari kulkas –hal yang tak pernah saya rasakan di rumah.

Ada kejadian lucu saat saya bermain ke rumah Donny, yang memiliki toko tak jauh dari sekolah. Di situ saya dengar lengkingan suara yang mirip-mirip tone vocal wanita dari sebuah tape recorder. Saya tanya,”Don, itu siapa yang nyanyi?”. Donny menjawab cuek,”Michael Jackson,”. Saya terhenyak. Oh, jadi vocal Jacko begitu ya?Bisa melengking tinggi seperti perempuan, batin saya. Itulah pertama kali saya mendengar kaset almarhum Jacko, yang kalau tak salah waktu itu sedang mendendangkan tembang “Billie Jean” (bener ora ya tulisane,hehehe).

Bambang dan Donny, bisa jadi masuk dalam kategori soulmate saya, karena rumahnya yang dekat dengan sekolahan. Saya juga sering ikut shalat di rumah Budi Rumekso. Tapi sebagai anak baru gede, saya banyak belajar pada Rohmani, don juan dari Pakulaut, yang berpengalaman menaklukan banyak perempuan. Dia kerap cerita, saya jadi pendengar setianya. Saya kadang kagum, mendengar semua petualangan cintanya, bak seorang Casanova. Beberapa bintang kelas juga saya dengar namanya, dan kemudian kenal dekat ketika kami berkumpul di kelas 3 A.

Sari Rapet,Sari Rapet
Kelas satu dan dua, tak banyak teman wanita yang saya kenal. Jujur saja, saya minder dan tidak percaya diri, terutama dengan rambut keriting saya. Siswanto selalu menyebutnya dengan kata ‘petarangan ayam’. Beberapa yang lain, meski dengan nada bercanda, ikut mengejek, membuat saya memutuskan untuk menyembunyikan rambut dibawah naungan sebuah topi.

Itu berlangsung terus menerus, dan saya seperti jadi kecanduan memakai topi. Rasanya ada yang kurang, jika di kepala tidak bertengger sebuah topi. Bukan karena saya sok ngetop, biar mudah dikenali alias sebagai personality branding layaknya Putu Wijaya. Bukan. Ini murni persoalan biar terlihat lebih ganteng saja (hahaha….akhirnya ngaku). Karena menyangkut hal prinsip, saya bahkan sempat sangat marah, ketika seorang  teman merebut topi saya dan membuangnya. Ini penghinaan yang tak termaafkan.

Bapak terlalu sibuk untuk ikut memecahkan masalah psikologis ini. Tapi belakangan saya berfikir, sesungguhnya inilah fase dimana saya harus belajar mengendalikan diri, sesuatu yang amat penting ketika akhirnya saya harus berhadapan dengan berbagai macam karakter orang. Apalagi kemudian, soal rambut tak jadi halangan berarti, ketika saya bisa menjalin ‘cinta monyet’ dengan seorang dara. Namanya Dewi Kusumawati. Dengan dialah satu-satunya kisah asmaraku di SMP Negeri 1 terjalin, walau tidak berlangsung lama, dan tidak jadi pendamping hidup sesungguhnya.

Soal percintaan ini, baiklah,  saya tak mau membukanya secara lebar di sini. Takut ada yang marah,huahahaha. Tapi benar, ujian kesabaran itu datang, saat saya masuk kelas 3 A. Di kelas ini, segalanya dituntut kompetitif, rapi, tertib dan tidak boleh mblatang. Ini tentu berlawanan dengan sikap dasar saya yang nyeniman, celelekan dan suka bercanda. Saya sempat “bergesekan” keras dengan Pak Sarwiji guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kami.

Saya tak ingat, dimana letak  kesalahan  teman-teman, hingga satu ketika wali kelas menuntut kami meminta maaf pada beliau. Usai diberi nasihat, bel istirahat berbunyi, tak lama beliau lewat di depan kelas. Sontak saya langsung nyeletuk,”Ayo temen-temen pada njaluk pangapura,”. Celetukan saya itu rupanya di dengar beliau. Besoknya, saya dipanggil ke ruang guru. Apa yang terjadi? Subahanallah…saya dimarahi habis-habisan, dari A sampai Z.

Kemarahan Pak Sarwiji benar-benar diluar kontrol. Dan itu dilakukannya di depan guru-guru. Saya sampai menangis, tak kuat menahan malu dan amarah. Mungkin jika itu terjadi di zaman kini, saya bisa laporkan ke polisi, dengan undang-undang perlindungan anak karena telah terjadi kekerasan verbal. Tapi masa itu, siapa sih yang bisa mengedukasi jika itu sesungguhnya tidak boleh terjadi. Memang, beliau cukup sportif, ketika beliau mengucapkan selamat, karena nilai ujian akhir PMP saya mencapai sembilan. Tapi tetap, tindakan itu terus terkenang hingga kini.

Celetukan nakal, dikelas 3 A diharamkan. Ini pula yang terjadi pada Rohmani, saat pelajaran Biologi sedang berlangsung. Mungkin karena otaknya sudah banyak terkontaminasi novel Enny Arrow, saat bu guru sedang menerangkan “persetubuhan”  tumbuhan antara putik dan benang sari, Rohmani langsung nyeletuk,”Sari rapet,”. Akibatnya fatal. Rohman di suruh maju, dan dari mulutnya harus memproduksi kata “sari rapet” sebanyak 100 kali. Tontonan ini membuat kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Kacau,kacau….

Berkelahi di Jalan
Jika di sekolah dasar saya mempunyai saudara yang suka berantem, saat masuk SMP, skala kekerasan fisik antar teman sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Istilah zaman sekarang biasa disebut tindakan bullying (bener ora kiye?). Di kelas saya, ada dua jagoan neon. Satu bernama Slamet Edy Haryanto, lainnya saya lupa namanya, tapi dia berasal dari daerah sekitar Prupuk. Tubuhnya yang kekar, membuatnya amat ditakuti di kelas jika sedang marah. Apalagi kalau sedang malak.

Jalanan yang memanjang antara perempatan Margasari hingga lokasi sekolah, saat itu kerap jadi ajang tinju bebas yang seru untuk ditonton. Mungkin karena zaman masih katro, perkelahian mereka selalu dengan tangan kosong. Saya sendiri cuma bisa menonton, sambil geleng-geleng kepala, atau sesekali bertepuk tangan memberi semangat pada Slamet EHE –begitu Slamet Edy Haryanto biasa disapa.

Pertanyaannya, apakah kenakalan semacam itu patut untuk dikenang? Jawabannya,di satu sisi mungkin iya. Bagaimanapun, itu bagus untuk bahan introspeksi, agar sebagai orang tua saya punya banyak bahan untuk mendidik anak. Tapi di sisi lain, saya juga berharap, pihak sekolah bisa lebih tegas menerapkan sanksi disiplin. Sebab, di zaman itu, SMP tak pernah memberi hukuman keras, misal dengan mengeluarkan mereka yang suka berantem. Padahal sebagai sekolah yang punya reputasi baik, kelakuan mereka ibarat nila setitik, yang bisa merusak susu sebelanga.

Saya sendiri tak tahu, bagaimana kondisi Atik cs sekarang yang kerap membuat ulah di SMP Negeri 1. Mudah-mudahan nasib mereka tak berbeda dengan teman-teman lain, yang saya tahu tidak mblatang ketika sekolah. Lihat saja, ada Momo yang jadi motivator  bak Mario Teguh. Atau Zuhlifar Arissandy, yang memilih karir sebagai kuli disket top di Tegal Raya. Farhatun bahkan sedang menyusun tesis. Kristina dan Puji terjun sebagai prajurit sapta marga. Juga teman-teman Jembayat,yang sekarang sudah sukses di bidang masing-masing. Ya, siapa tahu, dari nama-nama yang saya sebut, atau nama-nama yang luput karena saya lupa, nantinya ada yang bisa jadi bupati Tegal. Saya dukung, asal jangan lantas korupsi, dan kemudian masuk bui….

Akhirnya, di tengah kebahagiaan yang membuncah karena kembali menemukan teman-teman seperjuangan di SMP, diam-diam saya juga merindukan kabar guru-guru SMP. Pak Tarno, guru Bahasa Indonesia, amat berjasa karena kerap mengantar saya ikut lomba baca puisi hingga tingkat kabupaten. Pak Pujo, guru matematika, paling benci sama saya, karena kalau disuruh maju tak pernah mau (soalnya nggak mudeng otak saya). Guru agama, guru fisika, dan guru olahraga, Pak Agus, juga memberi kesan mendalam, karena karakter mereka. 

Juga guru SD, Bu Nunung Aspiyah,yang baru saja saya temukan akun facebooknya. Teman-teman di SD Negeri Jembayat 4 alias SD Inpres.Birin, Sarwo, Fahruri, serta para srikandi lulusan pertama SD Negeri Jembayat 4, yang banyak bermukim di Dukuh Petung.Pak Herman,yang pernah sangat marah ketika kami mandi di kali Kumisik usai main bola di Danaraja.Beliau bilang,"Dasar tampang kriminal,".Waktu itu, saya tak tahu apa arti kriminal,hehe. Adakah yang bisa memberi informasi dimanakah mereka kini berada?Salam buat semua...





Thursday, August 2, 2012

SMA 1 Slawi Dalam Lintas Kenangan

Sore,sekitar  akhir Juli 2012, telepon genggam saya berdering lamat-lamat. Saat itu, saya sedang ngobrol dengan istri dan dua anak saya. Biasanya saya hati-hati mengangkat, ketika nomor panggilan belum tersimpan dalam phone book. Maklumlah. Saya agak trauma dengan tele marketing, yang kerap “meneror” dengan tawaran asuransi atau pinjaman lunak. Tapi berhubung BB saya sudah hilang sebulan yang lalu, banyak nomor teman yang belum tersimpan, kadang melakukan panggilan tanpa nama tertera di layar ponsel. Saya pun langsung mengangkatnya,”Halo?”.

Di ujung sambungan, seorang laki-laki mengucap salam secara lengkap. Ini memang ganjil. Saya sendiri tidak punya pikiran, jika ucapan salam itu sengaja diucapkan secara lengkap, sebagai sinyal bahwa yang ingin bicara dengan saya adalah teman karib saya. Maka saat ia mengaku bernama Arif Ade Setyawan dari Slawi, saya langsung ngeh. Spontan saya langsung berseru,”Arif SMA siji?”. Begitulah.

Ini moment yang tak terduga tentu saja. Berikutnya saya menyapa Handy. Kata Handy, ia sedang berada di rumah Hoji Paralel bersama Teguh dan Arif. Surprise, saya tanya anaknya sudah berapa. Tapi dengan tertawa Handy menolak menjawabnya. Lantas menyahutlah Teguh. Tanpa tedeng aling-aling, Teguh langsung cerita.”Rab, awake dewek bar saka omahmu. Kita mau ngadain reunian SMA siji angkatan 92. Mangkat ya mengko?”. Sedikit tak percaya saya langsung menimpali,”Ah, yang bener? Kapan acaranya?”.”Habis lebaran haji,”kata Teguh, antusias.

Bukan Waktu yang Pendek
Tentu saja waktu 20 tahun bukanlah masa yang pendek untuk sebuah rencana pertemuan. Terbayang betapa serunya jika itu terjadi. Di sisi lain, saya bersyukur.  Arif, Handy dan Teguh, akhirnya menjadi pintu pembuka kabar teman-teman yang lain, baik dari kelas 1 E maupun kelas 2 jurusan biologi SMA 1 Slawi.  Sarana Facebook lantas terbukti manjur menjembatani. Di situ, saya bertemu dengan teman-teman, yang kini sudah jadi orang hebat. Abdul Syakur, Maulana Arsist Tawa, Yudi Pratikno dan semua yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Kenangan sekolah di  SMA 1 Slawi lantas berlesatan keluar. Di kelas 1 E, saya takjub melihat kepandaian Syakur mengurai rumus-rumus matematika. Atau Budi Septiono, yang selalu maju untuk mengerjakan soal-soal rumit fisika dan matematika. Saya pernah bertemu dengan Supardi, saat ada liputan di Bogor. Dia adalah salah seorang teman di kelas 1 E, yang amat rajin, hingga bisa dapat PMDK di IPB.  Begitu pula Maulana Arsist Tawa, yang kalem dan sangat menjaga setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya, persis presiden kita SBY. Ada pula Atikah, cewek mungil yang sregep bikin PR.

Kelas satu menjadi ujian saya sesungguhnya, ditengah semakin merosotnya ekonomi keluarga. Tiap hari, saya bolak-balik naik angkot dari Margasari, dengan ongkos Rp 100. Kadang kalau sudah terlambat, karena jarak sekolah yang lumayan jauh, saya tidak mandi dan sarapan pagi. Tak terbersit sekalipun untuk ngekost misalnya, seperti yang dilakukan teman-teman lain.  Duit dari mana? Saban waktunya pulang, beramai-ramai saya menuju terminal untuk menghadang angkot ke Bumiayu. Tapi saya merasa beruntung, dikelilingi oleh teman-teman yang baik, hingga naik ke kelas dua Biologi.

Catatan paling menyebalkan barangkali terkait dengan kelakukan teman saya, ER, saat saya mulai duduk di kelas dua Biologi. Dia kerap memalak Beny, ketua kelas saya, dengan sejumlah uang. Apalagi ia dengan sombong bilang ingin seperti Try Sutrisno, jenderal bintang 4 yang kala itu menjadi wakil presiden RI. Belakangan saya tahu, ia jadi "preman" di Margasari, karena tak pernah melanjutkan studinya. Jika ingat kelakuannya dulu sama Beny, ingin rasanya saya menampol kepalanya, biar dia kapok.

Kontes Bokong
Saat duduk di kelas dua, sesekali saya masih bertemu Syakur, Arsis, atau Amir Kalibakung, yang masuk jurusan fisika. Maklumlah, otak mereka lebih encer dibanding diriku yang bebal. Tapi sejatinya, saya sendiri masuk Biologi karena ingin jadi dokter. Cita-cita yang ternyata gagal, ketika saya mencoba ikut UMPTN di perguruan tinggi negeri. Hingga kini, saya memang masih kerap mampir ke rumah sakit dekat rumah di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Tapi bukan sebagai dokter, melainkan mengantar bini yang bekerja sebagai perawat.

Di kelas dua, saya menemukan teman-teman yang lebih heboh dan “gila”, dengan segala tingkah polahnya. Arif Ade, Handy, Teguh, Aris, Maya, Ayu, Fransisca dan banyak lagi, yang rasanya susah untuk saya absen, karena keterbatasan memori. Jika kelas satu tak banyak memberi warna karena teman-teman semua serius mau masuk penjurusan, dikelas dua memori kenakalan remaja terasa lebih “nendang” dan penuh cerita.

Di depan bangku tempat saya duduk, ada Diani Adi Mulyanto, yang kerap menangis tanpa sebab yang jelas. Sekali waktu, dia buka rahasia, jika dirinya kesal sama perilaku orang tuanya yang diskriminatif. Adiknya lebih disayang dibanding dirinya. Tapi saya pikir-pikir, setelah saya jadi ayah, mungkin itu hanya perasaan Diani saja. Di sisi kiriku, kadang ada Ahmad Zaenuri, yang kini jadi dosen di Unsoed. Lain tempo saya duduk di belakang, dekat Aris atau Handy, atau Teguh. Seingatku, cowok yang paling rajin duduk di depan adalah Hoji Paralel.

Letak kelas di lantai dua, saya rasa cukup bermasalah karena kami berdampingan dengan kelas fisika. Pernah karena guru kosong, kelas ribut tak karuan. Guru fisika di tetangga kelas yang sedang mengajar marah besar, dan mendatangi kelas kami. Omelan pun tak pelak berhamburan. Tapi enaknya, karena kami berada di atas, teman-teman perempuan sering berjejer memandang ke bawah, membelakangi kelas. Saya sering bercanda menyebutnya sedang ada kontes bokong,hehehe…

Selain belajar, saya juga ikut ekstrakurikuler drama dan karate. Di arena latihan karate, saya mengenal dekat Yudi Pratikno, yang kala itu sedang berpacaran dengan Shasa alias Shasadara Dewi.  Kalau tidak salah, Shasa adalah adiknya Ayu Shamanta Dewi. Saya sendiri sempat naksir dengan seorang teman latihan, tapi semuanya saya pendam, karena dia tak memberi respon sedikitpun. Kekecewaan barangkali agak terobati, jika pulang sekolah bisa ngobrol dengan Lina, anak fisika yang punya bodi aduhai.  Kebetulan rumahnya  searah dengan Ahmad Zaenuri, yang juga melewati jalan yang sama menuju ke terminal Slawi.

Saya tidak tahu, dari mana saya mulai senang tulis menulis. Hal yang saya ingat, Aris pernah minta dibuatkan surat cinta untuk pacarnya, Adyat Dyah Wijayanti. Permintaan itu apakah saya penuhi atau tidak, saya sudah lupa. Yang jelas, saya kadang iri melihat anak SMA sudah pacaran seperti Aris dengan Yanti, atau si Dani anak sosial yang pacaran dengan kakak kelasnya saban bubaran jam sekolah di depan kelas. Mungkin cowoknya si Dani tak punya modal untuk mengajaknya nonton bioskop, atau sekedar makan bakso.  Atau Si Dani sendiri yang memang suka pacaran di depan orang banyak (hehehe…sotoy ya?)

Minder Mania
Kelas dua dan tiga Biologi di SMA 1 Slawi, benar-benar menjadi tahun kelam perjalanan studi saya. Orang tua semakin terpuruk saja ekonominya. Pernah saya tidak bisa berangkat, gara-gara tak ada uang Rp 700 untuk ongkos  naik angkot. Di sekolah, saya minder luar biasa. Undangan ulang tahun teman tak pernah saya gubris, karena tak memiliki pakaian yang layak guna, seperti remaja umumnya.  Bahkan saat seorang teman perempuan dari IPS memberi sinyal jika ia naksir, saya cuek saja. Boro-boro mau pacaran bro. Buat jajan saja saya kadang nyolong tempe satu atau dua di kantin belakang?

Peraturan bersepatu kulit hitam benar-benar menjadi teror tak termaafkan. Berapa kali saja tiap Senen saya kena razia, karena saya memakai sepatu putih merk Dragon Fly yang saya winter warna hitam biar kelihatan kelam.  Jika sudah begini, sepatu Dragon saya ditahan di ruangan guru BP. Saya tak berdaya, karena almarhum papa (sengaja saya panggil papa biar lebih gaya) tak mampu membelikan sepatu baru. Saya pernah ingat, sekedar iuran Rp 6 ribu untuk jalan-jalan saja, hanya saya yang tak bisa memenuhi. Duh ngenesnya….

Mungkin yang lebih seru, jika awal bulan pak wali kelas mengumumkan siapa yang belum bayar SPP. Karena nunggak beberapa bulan, saya pernah dipanggil guru yang ngurusin pembayaran SPP. Dia heran lihat saya dan langsung bersabda,”Kamu pasti pakai ya itu uang SPP untuk jajan?”. Saya tentu saja kaget.”Lho, kok ibu nuduh seperti itu?”.Awalnya si ibu serius. Tapi dengan bercanda dia bilang,”Ya, saya nggak percaya orang tuamu nggak punya. Wong kulitmu bersih seperti itu?”. Alamak…apa hubunganya tampang keren sama kantong kempes ya?kwkwkwkw

Di kelas dua, saya dekat dengan Arif Ade. Dia sering membonceng saya dengan Astrea Star-nya (kalau tidak salah ya?). Saya diajak ke rumahnya. Jika ingin tak terlalu jauh, ya nongkrong di rumah Teguh, yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari sekolah. Saya memang “ngeri” bergaul dengan teman-teman dari orang tua yang kaya raya seperti mereka. Tapi itu ternyata pikiran yang salah. Sekarang, walau sebagai jurnalis saya hidup pas-pasan, teman-teman saya lintas batas dan profesi. Dari menteri, anggota DPR, jenderal, artis tenar hingga tukang becak. Saya enjoy aja….

Lulus dalam Kedukaan
Jika sekarang ada Ahok –Cina Kristen yang mencalonkan diri jadi calon wakil gubernur DKI Jakarta, sebetulnya ajaran pluralism sudah saya cecap sejak kelas dua SMA. Ketua kelas kami adalah Beny, sama seperti Ahok yang juga beretnis Cina dan Kristen. Sebagai ketua kelas, dia sangat bertanggung jawab. Kalau kelas kami giliran mendapat tugas mengurus shalat Jumat, dia ngecek semuanya.”Pul, kamu yang ngisi kultum ya?”katanya menyuruh saya. Maksudnya kuliah tujuh menit sebelum shalat Jum’at dimulai.

Kultum paling garang pernah saya lakoni, ketika saya mengecam aturan yang melarang pemakaian jilbab oleh sekolah. Tak kurang si Purwo, pria bertubuh subur yang gayanya lemah gemulai, ikut bersimpati. “Salut mas pidatonya,”ujarnya,membuat saya sudah merasa seperti Hitler, jagoan orasi dari Jerman. Saya bahkan pernah mengikuti pertemuan bersama teman-teman, membahas gonjang-ganjing masalah ini. Kebetulan di kelas, saya kebagian mengurus Rohis Islam. Jabatan yang kerap membuat Pak Zaenudin senewen.

Bagaimana tidak?Bacaan Al Qur’an saya lancar. Tapi dipunggung kaos olahraga saya ada “tato” dengan tulisan besar-besar. Bunyinya “malapetaka” bersama gambar cicak yang saat itu sedang ngetrend. Dengar bagaimana Pak Zainudin, guru agama SMA 1 nyap-nyap,”Arifuuuul,”katanya dengan gayanya yang melambai.”Itu buat apa kaos dikotori? Ayo hapus. Kamu khan bagian rohis?Harus kasih contoh yang baik!”.  Tulisan itu memang tak pernah saya hapus. Lha, priben mau dihapus?Wong itu pakai spidol permanen je.

Setelah tiga tahun menimba ilmu, ada moment kelulusan yang juga tak pernah saya lupakan seumur hidup. Waktu itu bapak menerima amplop. Di dalamnya ada tulian “Anda Lulus”. Tapi bukan secarik kertas itu benar yang membuat perasaan saya gundah. Usai memberi uang Rp 3000 (catat; tiga ribu rupiah)  sebagai hadiah kelulusan, bapak langsung pulang, meninggalkan saya yang bingung menghadapi masa depan. Bingung melanjutkan ke mana, karena tak ada biaya.

Kala itu, saya hanya bisa menatapi teman-teman, yang tertawa-tawa sambil berfoto-foto dengan semprotan pilox memenuhi baju dan celananya.  Saya merasa seperti menjadi orang asing. Sangat asing. Tak pernah  masuk dalam bagian mereka. Tak tega melukai batin orang tua yang sedang kesulitan, dengan ikut-ikutan main semprot cat. Sungguh tak tega.

Dalam kegelisahan yang melanda, akhirnya saya putuskan untuk pulang. Merayakan kelulusan sendirian, dengan batin terus merutuki nasib, karena kenyataan saya harus menganggur satu tahun.  Untuk mengisi waktu, saya putuskan bekerja sebagai penarik retribusi truk di sebuah galian pasir di desa. Karena kasihan, tahun berikutnya, bapak menyuruh saya kuliah.

Meski tak ada biaya, bapak tetap memaksa kuliah, walau saat itu saya ingin merantau saja ke Jakarta menjadi sopir bajaj, sekedar meringankan beban hidup orang tua. Kebetulan banyak teman-teman kampung jadi sopir bajaj dan taksi. Saya pikir, inilah peluang satu-satunya, karena di desa tak ada geliat usaha yang bisa mendatangkan fulus.

Dalam perjalanan waktu, keberanian dan keyakinan  membuat saya nekad ke Yogya, kemudian merantau ke Jakarta. Bekerja apa saja. Menghadapi badai sebesar apa pun jua. Di titik inilah, saya berpendapat rasa syukur adalah modal berharga dari semua harta benda yang jadi kejaran manusia. Kesulitan dan tantangan hidup adalah warna. Banyak pelajaran penting kupetik, dan itu semakin menempa karakter dan visi saya, jika penghargaan manusia sesungguhnya datang dari sikap dan hubungan baik. Bukan atribut dunia yang menempel di badan kita (Wah, sudah kayak ustaz aja nih).

Akhirnya, saya masih membayangkan teman-teman terus bermunculan merangkai jalinan silaturahmi. Pasti ada banyak cerita. Pasti ada banyak hikmah. Dan pasti ada ribuan tawa, dibalik sedikit duka yang menemani kita mengarungi lautan hidup. Benar SMA 1 Slawi adalah kawah candradimuka, yang menempa kita semua menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Buktinya, kita patut berbangga, ada alumni SMA 1 yang sekarang jadi menteri pertanian.  Siapa tahu, ke depannya, ada yang bisa menjadi wakil presiden RI, atau sekalian jadi RI 1. Siapa tahu.







Wednesday, August 1, 2012

SIM dari Hughes

hughes di depan homeschoolingnya
Saban menjalani ibadah puasa, saya tak pernah lupa dengan peristiwa ini. Memang bukan kejadian besar. Juga bukan momentum yang membuat perubahan penting dalam hidup saya. Tapi setidaknya, inilah pertemuan yang bisa menjadi bukti, betapa kebaikan hati seorang Dewi Hughes pun tak mampu menolongnya dari persaingan keras dunia hiburan. Hughes yang dulu sangat terkenal sebagai presenter, dengan jilbab terobosannya yang unik, kini menghilang hanya gara-gara blunder perceraiannya.

Saya sudah lupa kapan tahunnya. Tapi yang jelas bulan puasa. Kalau tidak salah pas mau lebaran. Kala itu, tabloid akan mengangkat trend bisnis pakaian muslim para artis. Hughes masuk  dalam radar, karena beliau punya butik khusus untuk perempuan bertubuh besar. Di situ ada busana muslimnya juga. Usai janjian, pertemuan dirancang di studio Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat. Kebetulan beliau menjadi presenter acara buka puasa di Metro. Saya datang sendirian, karena stok foto-foto Hughes lumayan banyak. Jadi tidak usah ambil gambar lagi.

Cukup lama menunggu, hingga kemudian Hughes keluar dari ruang siar. Di samping saya, reporter Metro TV rupanya juga ingin wawancara. Tapi karena saya yang lebih dulu punya janji, jadi Hughes langsung meminta saya untuk mengajukan pertanyaan. Obrolan pun berlangsung.  Usai ngobrol, sejatinya saya mau langsung cabut. Maklum belum buka puasa. Perut rasanya sudah melilit-lilit. Tapi pas ketika hendak beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba Hughes menahannya. “Sebentar dulu,mas,”katanya.

Dalam hitungan detik, dia mengeluarkan beberapa lembar Rp 100 ribuan dari tasnya. Sudah tentu saya kaget. “Jangan mbak,”tolak saya. Bukan saya sok aksi menolak rejeki. Tapi memang saya yakin, saat itu masih ada uang untuk membeli sekedar pembuka puasa. Rupanya, Hughes tak mau nyerah. Dia bilang begini,”Jangan ditolak mas. Ini saya kasih dengan ikhlas. Baru saja saya ambil uang sebelum ke Metro.  Ini khan bulan puasa?Jadi niatnya sedekah”. Saya sekali lagi mencoba menolak. Reporter Metro TV disamping saya, kulihat hanya tersenyum-senyum saja.

Tapi belum sempat saya beranjak, tiba-tiba  Hughes langsung meraih kantong baju, dan memasukan lembaran uang ke dalamnya. “Uangnya masih baru-baru. Baunya enak,”katanya bercanda. Kali ini, saya tak bisa menolak. Dari pada ribut di depan teman sejawat? Khan malu?hehehe. Apalagi Hughes bilang niatnya ingin sedekah.  Saya lantas mengucapkan terima kasih, sebelum meninggalkan dia yang lantas diwawancara anak Metro. Setelah saya hitung, jumlahnya lumayan.

Sesungguhnya, bukan jumlah uangnya itu yang terus saya ingat. Tapi saat itu kebetulan saya tak punya SIM. Setelah sampai di rumah, langsung terbetik untuk membuat SIM dari uang sedekah Hughes. Esoknya saya langsung meluncur ke Polres Depok. Ini pengalaman pertama buat SIM. Jadi agak buta juga. Saya juga enggan memakai kartu pers, karena saya ingin mencoba melalui semuanya dengan prosedur resmi. Bayangan itu akhirnya sirna, begitu saya mencoba masuk sistem pembuatan SIM. Ternyata prosesnya ribet.  Lelah menunggu, saya mencoba jalan-jalan ke halaman polres.

Seorang anggota polisi menawari lewat jalur khusus. Biayanya pas Rp 250 ribu. Karena sedang dikejar waktu, saya sanggupi. Setelah mengisi semua berkas dan menunggu sebentar, saya dipanggil untuk foto. Tak lama, SIM pun jadi. Horeeee…..SIM ini menemani saya hingga 2009. Waktu yang lumayan panjang, meski tak sepanjang kisah asmara rumah tangga Dewi Hughes dan Alvin. Bagaimanapun, Hughes orang baik. Ketika ia menggugat cerai, saya sempat menunggui rumahnya di Kemang. Kala itu Alvin hendak konperensi pers.
Hughes dan Roy
Tentu saja amat disayangkan, rumah tangga mereka tidak panjang. Hari-hari setelah Hughes melepas jilbab, dan menata rambutnya dengan gaya ngebob, saya masih sempat menemuinya untuk wawancara. Ia masih suka bercanda, saat saya menjumpainya di daerah Jakarta Utara. Di sana, Hughes membuka homeschooling. Ia sudah menikah lagi. Namun, seiring perjalanan waktu, karirnya seolah berhenti. Tak ada lagi program teve yang dibawakannya. Jilbab khas-nya sesekali masih dipakai saat tampil, tapi sudah tak menimbulkan greget.

Sesungguhnya banyak rahasia hidup yang masih diselimuti perihal sosok Hughes. Penyebab perceraiannya,hingga kini masih remang-remang. Begitu pun status perkawinan keduanya dengan Roy. Apakah baru kawin siri atau sudah nikah resmi secara negara. Saya sempat diajak kerjasama oleh Roy untuk membuat buku. Tapi rencana itu batal, karena Roy tak juga memberikan modal kerja. Padahal kita sudah sempat meeting di Senayan City. Sepanjang saya berinteraksi dengan Roy, tak sekalipun Hughes ikut menemani suaminya.


Hughes sedang jadi presenter
Dewi Hughes menjadi salah satu, dari ratusan artis yang memilih perceraian sebagai jalan hidupnya untuk memecahkan persoalan rumah tangganya. Memang ini dunia yang unik. Banyak artis yang terlihat harmonis diawal-awal rumah tangga, saat diwawancara, bahkan hingga beberapa minggu menjelang perceraiannya. Tak aneh, perceraian Hughes mengejutkan banyak pihak. Saya pribadi merasa sedih, karena sejak bercerai, talenta Hughes sebagai presenter seolah tak dilirik lagi oleh para pemakai jasanya. Hughes tenggelam, dan entah bagaimana kabarnya saat ini.


Habibietainment

Habibie di rumahnya
Jika saat menjadi menteri riset dan teknologi Prof. Dr. BJ. Habibie terkenal dengan teori ekonominya yang disebut Habibienomic, maka usai lengser dari jabatan presiden RI, Habibie terkenal begitu dekat dengan kalangan dunia hiburan. Musababnya, beliau dan istrinya, almarhumah Ainun, sangat menyukai sinetron Cinta Fitri produksi MD. Entertainment. Kata Manoj Punjabi, owner MD Entertainment, mulanya Ainun kerap mengirim email berisi kritikan soal cerita Cinta Fitri. Dengan insting bisnisnya, Manoj lantas merangkul pasangan harmonis ini, mengenalkannya pada pewarta infotainment, hingga jadilah Prof. Habibie dan istri jadi media darling wartawan infotainment.

Ketika Ainun wafat, atau saat Habibie merilis buku kisah percintaannya dengan almarhumah,bermenit-menit durasi tayangan infotainment memuatnya. Begitu pula berbagai media hiburan, termasuk tempat saya bekerja, tak kalah antusias memberitakannya. Respon pasar bagus. Bahkan Prof. Habibie lewat stafnya minta dikirimi tabloid yang saya tulis, yang di dalamnya memuat berita dia di isu utama.  Habibie benar-benar bangga, dan sesudahnya saban ada kegiatan beliau, wartawan hiburan tak pernah lalai diundang.

Begitulah yang terjadi, kala menjelang bulan puasa  jatuh sekitar pertengahan Juli 2012 lalu. Prof. Habibie mengundang wartawan hiburan, karena akan merilis filmnya yang diangkat dari buku best seller tulisannya. Tentu saja buku kisah cintanya dengan Ainun. Undangan itu datang hari Minggu sore, bertempat di kantor MD Entertainment di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bayangkan, hari Minggu pun, wartawan yang datang berjubel-jubel. Sehari sebelumnya, redaktur pelaksana sudah berpesan, jika acara Habibie akan jadi isu khusus. Ini artinya jadi cover belakang.

Sebetulnya saya letih juga. Soalnya baru beres-beres rumah sejak pagi. Tapi karena ini untuk cover, saya paksakan diri berangkat. Sepanjang jalan saya petakan, siapa saja yang bakal diwawancara. Prof. Habibie wajib dapat. Begitu pula Manoj Punjabi. Berikutnya aktor dan aktris pendukung; Bunga  Citra Lestari dan Rahadian Reza. Penulis skenario dan sutradara kalau bisa diwawancara pula. Pukul 15.00 tepat, sesuai permintaan Public Relation (PR) MD Entertainment, saya sudah sampai. Fotografer bahkan sudah tiba duluan.

Ternyata walau datang on time, tak menjamin bisa cepat dapat wawancara. Manoj rupanya belum nongol. Prof. Habibie baru sekitar pukul 16.00 datang.  Sambil nunggu, saya santap roti dan minum coca cola dingin. Tak lama, Manoj bersedia diwawancara. Di ruang kerjanya yang mewah, kami ngobrol ngalor ngidul. Usai wawancara, Manoj sempat berpose untuk diambil gambarnya. Jepret,jepret,jepret…”Oke, terima kasih ya pak?”kata Manoj pada fotogfrafer saya, yang meski masih muda tapi rambutnya sudah penuh uban.

Tantangan menarik mungkin saat harus wawancara Prof. Habibie.Sebetulnya saya sudah biasa wawancara orang besar. Para menteri, pejabat, anggota DPR dan aktor-aktris tenar. Bagi saya tidak masalah. Tapi betapa nervous-nya saya, saat dikasih waktu untuk wawancara Prof. Habibie. Saya dipersilahkan masuk ke ruangan Pak Manoj, dan di sana Prof. Habibie duduk di kelilingi oleh Pak Manoj, Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, dan semua pendukung film ‘Ainun-Habibie’.”Saya sendirian yang wawancara mba,”tanya saya pada PR MD Entertainment.
Reza Rahardian pemeran Habibie
Terbayang bagaimana saya harus jongkok di depan Prof. Habibie, ditengah tatapan puluhan pasang mata, termasuk para pengawal Habibie yang memenuhi ruangan. Saya sendirian, tidak ada yang lain. Semua wartawan berada di luar ruangan. Ini benar-benar wawancara eksklusif.  Biasanya sih berdua atau bertiga saja. Tapi, dengan tekad bulat, saya pancangkan niat untuk tidak grogi ditatap tamu lain. Anggap saja mereka sebagai batu,hehehe…Wawancara yang saya perkirakan berlangsung singkat itu, nyatanya melenceng dari harapan.

Prof. Habibie memang memiliki kebiasaan “buruk” –kalau mau dibilang begitu- jika diwawancara wartawan. Mungkin karena pengetahuannya yang luas, jika jurnalis bertanya satu, akan dijawabnya panjang lebar. Biasanya pembukaan dulu, kemudian isi, kesimpulan baru penutup. Ya, mirip skripsilah. Tidak to the point. Inilah yang terjadi sore itu. Saya sampai susah memotong perkataannya, dan para tamu lain seperti sudah tak sabar ingin segera bangkit dari tempat duduknya.

Manoj bisa paham. Tapi PR MD Entertainment  rupanya merasa tak enak. Konferensi pers harus segera dimulai. Waktu sudah beranjak sore. Dari belakang punggung Prof. Habibie, sang PR mengkode saya untuk segera menyelesaikan wawancara. Tapi, saya sendiri bingung dan tak enak hati memotong omongan Prof. Habibie. Beliau sedang asyik menjelaskan, masa langsung di cut dengan ucapan terima kasih. Kasusnya beda kalau yang ngomong bukan tokoh sekaliber Prof. Habibie. Ini mantan wakil presiden lho….

Habibie dan Ainun
Akhirnya moment untuk menghentikannya datang juga. Kala itu, Prof. Habibie sedang bicara begini,”Bagaimana sepasang anak manusia, yang bertemu dan kemudian menikah, meniti karir di negeri orang, dalam kondisi nothing hingga menjadi some body. Prianya menjadi orang nomor satu di republik ini, pemecah segala masalah bangsa. Wanitanya menjadi first lady. Semua terus bersatu. Bahkan setelah salah satunya pergi, tapi saya merasa kita tak pernah terpisahkan. Ini semua karena kekuatan cinta,”. Tanpa ragu, langsung saya katakan,”Oke terima kasih,pak,”. Clear. Wawancara selesai.

Lucunya saat konpers, kembali Prof. Habibie bicara panjang lebar. Tapi saya sudah tak peduli. Wong sudah dapat statemennya. Saya di luar saja. Bicara dengan seorang pegawai MD, yang orang Solo asli. Acara yang dirancang selesai sebelum maghrib akhirnya molor. Satu hal yang saya sesalkan, sore itu saya tak sempat mengabadikan Prof. Habibie dengan kamera poketku. Ini untuk jadi ilustrasi blog saya. Kalau di tabloid, semua aman karena fotografer sudah bekerja profesional.




Friday, June 22, 2012

Harta Karun Bung Karno itu Memang Ada



lantakan emas terhampar
Sebuah lukisan harimau besar menyambut kedatangan saya, menempel tepat di sisi pintu masuk rumah, sebelum kaki melangkah ke dalam dan disuguhi sekitar empat awetan harimau besar lainnya. Ada puluhan miniatur pesawat terbang dilemari kaca besar, di sisi kursi ruang tamu. Begitu pula puluhan lukisan lain, yang bergelantungan di seantero dinding, termasuk lukisan Nyai Roro Kidul yang muncul dari dasar samudera. 

Saya sempat tergelitik, dan iseng-iseng bertanya,”Bapak suka koleksi pesawat sama lukisan ya?”. Tuan rumah menjawab ramah,”Itu jenis-jenis pesawat yang pernah saya naiki. Saya tak cuma suka koleksi miniatur pesawat. Tapi juga keris,”jawabnya.

Serta merta, saya dibawa ke ruang khusus. Ruangan itu tidak begitu besar. Lampunya temaram, hingga tak jelas semua isi di dalamnya. Ada sajadah tergelar. Di sebelah ruangan itu, ada kamar kedap suara, yang berisi alat-alat band. Tuan rumah mengaku, dulu suka menghilangkan suntuk dengan ngeband bersama teman-temannya. Setelah jabatan strategis di partai ia pegang, waktunya tak cukup lagi untuk meluncaskan kegemarannya mencabik gitar.

Menariknya, di sisi pintu masuk kamar kedap suara, sebuah meja rendah nampak berselimutkan hio, dengan semangkok nasi dan segelas air didekatnya. Di atas meja itu, puluhan keris berbagai jenis terlihat tergelar. Percaya atau tidak, kata sang tuan rumah, nasi dan air itu disediakan untuk “makanan” sang keris. Jika telat saat memberikannya,keris-keris itu akan mengganggu anak-anaknya. “Saya juga harus rutin menjamasnya,”kata sang kolektor yang juga politisi terkenal tanah air itu.

Nalar rasional saya memang agak terganggu, melihat kenyataan ini. Yang saya hadapi bukanlah seorang paranormal.  Ia berpendidikan dan memimpin salah satu partai besar di Indonesia. Tapi cerita selanjutnya membuat saya meyakini, bahwa yang dikatakannya adalah benar.  Dia memang memiliki daya linuwih, untuk mendapatkan keris-keris itu dari berbagai tempat keramat di Indonesia.”Sejak muda saya gemar lelaku. Mendatangi makam-makam keramat dan menyerap energinya,”ujarnya.

emas bergambar Sukarno
Sebuah tombak kecil pernah ditariknya di makam seorang wali, saat ia tidur malam-malam di sampingnya. Ia “menyogok” sang penjaga makam, agar bisa masuk. Tengah malam, seekor cicak jatuh di pipinya. Reflek, tangannya membuang dan terdengar suara logam berdenting. Cicak itu berubah menjadi tombak. “Keris-keris ini juga saya ambil dengan lelaku tertentu. Ada juga yang menghilang. Saya anggap berarti dia sudah tak mau ikut saya,”katanya.

Usai panjang lebar menerangkan koleksi kerisnya, ia lantas beralih topik menanyakan kasus Said Agil, mantan menteri agama di era Megawati yang pernah menggali harta karun di Istana Batu Tulis, Bogor.”Pernah dengar khan? Anda percaya tidak kalau harta Bung Karno itu ada?”tanyanya. Saya tentu saja pernah mendengar ramai-ramai orang bicara harta warisan Bung Karno. Tapi saya tegaskan, sebelum melihat sendiri wujudnya, saya anggap isu itu hanya bualan orang-orang tak bertanggung jawab.

“Mau saya perlihatkan?Saya punya 7 ton emas peninggalan Bung Karno,”katanya datar. Dengan benak diliputi tanda tanya, saya kembali dibawa ke ruang tamu. Di sisi kursi tamu, ada peti yang diatasnya bertengger foto-foto keluarga. Setelah bingkai foto itu disingkirkan, tutup peti dibuka dan, subahanallah, lantakan emas terlihat memenuhi peti. Saya sempat mengambil satu. Saya amati cermat-cermat. Batangan emas itu bergambar Bung Karno, dengan tulisan “24 K” di sisi sebaliknya. “Ada empat peti. Tiga peti yang lain ada di kamar tadi,”kata pak politisi tadi.

Ini bukan adegan film Indiana Jones. Saya benar-benar harus percaya. Mata dan tangan ini tak bisa dibohongi. Pertanyaan berikutnya, dimana harta itu berhasil ditarik oleh dia? “Saya ambil di Batu Tulis. Malah sama istri ngambilnya. Anehnya, saat mengambil banyak orang lalu lalang. Tapi mereka tak tertarik,”kata mister politisi tadi. Emas 7 ton itu diantaranya ditaruh diruang tamu, karena ia yakin tak ada satu orang pun yang bakal mengutilnya. Padahal, selain istrinya, sopir dan penjaga rumahnya juga tahu.
emas dalam peti

Lantas bagaimana mekanisme penjagaannya?Nah, inilah sambungan cerita seperti yang saya sebutkan di awal tulisan. Usai mendapat lantakan emas, ia memperoleh wangsit jika harta karun itu bakal dijaga oleh harimau. Tak lama berselang, berdatangan orang-orang yang menawarkan awetan harimau. Dalam seminggu, terkumpul sejumlah itu. Penjaga rumahnya bahkan sempat bersaksi, dirinya melihat harimau beneran, yang menjaga di depan rumah. “Padahal saya nggak memelihara harimau hidup,hehe,”ujarnya.

Politisi ini dikenal bersih. Namanya tak pernah terdengar tersangkut kasus korupsi apapun. Tapi, bukan karena ia memiliki emas 7 ton, hingga dirinya tak tergoda untuk korupsi. “Saya orangnya sumeleh. Apa adanya. Rekening untuk nyimpan uang khusus saja nggak punya,”ujarnya. Soal emas lantakan, dia mengaku tidak pernah menjualnya, karena menunggu wangsit lebih lanjut, akan diapakan harta karun itu. Memang banyak yang menawarnya dengan harga fantastis. Tapi semua ditolaknya.

Sepanjang jalan pulang, benak saya terus terganggu dengan logam mulia itu. Ini pengalaman hidup yang belum pernah saya alami sepanjang waktu.  Saya sempat menghitung-hitung, berapa nilai rupiahnya, jika emas sebanyak itu dijadikan uang? Tapi, ah otak bebal saya tak bisa menjangkaunya. Di rumah, ketika saya searc di “paman” Google, ada memang berita yang menyebut, situs Batu Tulis saat digali mantan menteri agama Said Agil tidak menghasilkan apa-apa. Jangan-jangan, Said Agil kalah cepat dengan politisi tadi. Harta karun sudah diambil, dia baru bergerak berdasar petunjuk seorang kyai dari Banten, yang diyakini memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib.Hadeh, pusing kalau mikir ini….