Daftar Isi

Showing posts with label wiSata. Show all posts
Showing posts with label wiSata. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

Bertemu Kepala Kerbau di Laut Jawa

rombongan perahu
Buncahan air laut segera membumbung tinggi, saat tubuh legam itu terjun bebas dari lunas perahu. Beberapa orang menjerit ketika terkena percikan air. Sejenak laju perahu melambat. Sejumlah remaja tanggung menyusul terjun, lantas bergelantungan di seutas tali. Kapal kembali melaju. Seperti bermain ski, anak-anak muda Dukuh Karang Bulu, Cirebon, Jawa Barat itu meluncur deras di tengah serpihan ombak dan dinginnya air Laut Jawa. Suasana ceria, penuh canda, bahkan sedikit membersitkan kengerian mewarnai pesta laut Minggu (9/6) siang, ketika saya berkunjung bersama sejumlah kader Partai Amanat Nasional (PAN), Jakarta.

Saat saya datang, sekitar pukul 09.00 WIB, bau amis ikan segera menyerbu hidung. Suasana sudah mulai ramai. Di tiap pos kamling, yang berjajar dengan jarak 50 meter, berkumandang lagu tarling khas Cirebon. Ratusan warga setempat, yang didominasi muda-mudi dengan baju yang paling bagus, mulai keluar dan masuk ke dalam perahu yang berjejer di sungai Ciberes. Saya sempat ragu untuk menaiki satu perahu. Tapi keinginan kuat untuk menjajal pengalaman seru ini tak terbendung.
berenang di laut


“Ayo, mang.Melu bae...ora bayar kok”kata anak-anak kecil yang saya temui. Beberapa remaja putri dengan dandanan khasnya tak kalah agresif mengajak. Mereka bahkan senang, saat saya tanya-tanya tradisi Nadran alias pesta laut yang diadakan tiap sebelum lebaran. Tanpa pikir panjang, saya akhirnya menaiki salah satu perahu bersama sekitar 20 orang.

Perahu bertenaga mesin diesel itu melaju ke tengah. Puluhan, bahkan mungkin ratusan perahu berkonvoi menuju satu titik. Saya tidak hafal di mana titik yang dituju. Namun setengah jam setelah perjalanan penuh goyangan ombak itu, tiba-tiba semua perahu melaju ke arah yang sama. Saat jarak antar perahu sudah semakin rapat, mesin-mesin dimatikan. Bodi perahu saling bersenggolan. Lantas mulailah seperti yang saya ceritakan tadi. Laut Jawa yang dingin menjadi arena pemandian. Luar biasa.
 
damainya laut Jawa
Perahu beranjak sedikit, nampak keranjang bekas tempat kepala kerbau sudah mengapung-apung. Pelarungan kepala kerbau inilah rupanya, yang mengundang ratusan perahu berkumpul di satu titik. Berikutnya, tiap perahu yang ikut mengiringi pelarungan dibasuh dengan air laut. Bekal-bekal nasi kuning dan minuman dari daratan dibuka. Dalam kondisi mesin mati, tiap orang makan-makan di tengah laut. Minum dan menutup hidangan dengan buah jeruk. Semua berpesta. Beberapa mengabadikan dengan kamera ponsel yang dibawa, setelah makanan tandas tak bersisa.
 
markonah
Rangkaian acara Nadran berupa pelarungan kepala kerbau memang yang paling ditunggu-tunggu. Kata Markonah, ibu satu anak yang ikut bersama saya satu perahu, acara ini menjadi hiburan tersendiri. Semuanya gratis. Memang sebelumnya ada iuran warga. Tiap kepala keluarga ditarik Rp 20 ribu. Hal ini untuk membiayai semua urutan kegiatan. “Soale ora mung ngelarung endas kebo. Ana pentas sandiwara,wayang kulit karo pengajian juga,”kata Markonah.

Grup sandiwara Candra Kirana didatangkan dari Majalengka. Sementara grup wayang kulit Swara Muda cukup dari Cirebon. Sebuah panggung besar yang berdiri di sisi Kali Ciberes, menjadi pusat kegiatan. Berapa biaya untuk mengadakan tradisi Nadran saban tahun?”Sekitar 50 juta habis,”kata Casmun, anak muda yang mengemudikan perahu yang saya tumpangi. Saat saya datang, semua biaya Nadran dan bantuan perlengkapan nelayan sekitar Rp 300 juta di sumbang oleh PAN.
 
berkumpul di satu titik
Ketika matahari sudah di ubun-ubun kepala, semua perahu membubarkan diri. Perut-perut sudah kenyang. Beberapa ABG memang masih terlihat asyik berenang di laut. Mereka lantas dengan sigap menangkap ban di sisi perahu, dan naik tanpa kesulitan. Yang lain terus berselancar menggunakan dadanya,sambil berteriak-teriak kegirangan. Asap hitam sesekali mengepul dari mesin diesel yang menderu-deru, mendorong tubuh perahu menuju daratan.
 
memandikan perahu
Jujur, saya kagum dengan kemampuan berenang mereka. Tapi belakangan saya tidak heran, karena saat perahu mulai masuk ke sungai Ciberes, puluhan anak kecil dengan stereofoam mengambang berenang di sisi perahu, timbul tenggelam. Mereka enak saja bermain-main di sungai yang dalam, tanpa takut tertabrak perahu. Kata Markonah, laut sudah jadi sahabat mereka. “Dadi wis biasa. Ora heran maning,”ujarnya.

Dengan kepala cenut-cenut karena kepanasan, saya tinggalkan perahu dan ingar-bingar musik dangdut kampung nelayan Dusun Karang Bulu. Siang itu perut sudah mulai melilit. AC bus yang saya tumpangi bersama puluhan wartawan lain, tak mampu mengusir kliyengan di kepala, karena hempasan ombak yang menggoyang kapal yang baru saja saya naiki. Tapi melihat anak-anak muda berenang, remaja-remaja putri Dusun Karang Bulu berdandan,dan kepolosan Markonah, membuat keruwetan hidup di Jakarta seperti mencair.
 
bekal makanan

“Mang, aja kelalen inyong di foto ya?Ben mlebu koran,”canda Markonah sebelum berpisah. Jepret,jepret. Saya ambil beberapa foto. Gambar-gambar itulah yang seolah mengingatkan saya; ada dunia indah di dekat kita. Tempat di mana tidak ada kepentingan politik, persaingan kantor, trik kotor, dan tetek bengek problem hidup yang ruwet dan menjengkelkan di tiap jengkal Jakarta. Hidup ini sebenarnya indah, jika kita bisa menikmatinya dengan ceria, sebahagia Markonah dan anak-anak nelayan itu.Idilah, loken?

Sunday, October 28, 2012

Misteri Harta Karun di Tepi Situ Cileunca

Situ Cileunca di sore hari
Nama laki-laki itu Asep Jabog. Umurnya 56 tahun. Saat menyebut namanya, beliau mengusap janggut peraknya yang menjuntai lebat. Saya tak tahu apa arti jabog dalam Bahasa Sunda. Tapi dengan janggut dan mata kecil yang memancar tajam, sosok Asep Jabog terlihat sangat misterius, saat saya temui di tepian Situ (danau) Cileunca, Pangalengan, Bandung, awal Oktober 2012 lalu. Kala itu, hari sudah mulai menjelang senja.

Saya sendiri bertemu tak sengaja. Pak Asep terdengar sedang berbincang-bincang dengan seseorang, waktu saya mendatangi kebun strawberry-nya. Naluri jurnalis saya langsung terpantik, untuk bertanya lebih lanjut soal kebun yang banyak dikunjungi wisatawan Situ Cileunca.  Saya dekati beliau, dan mengalirlah cerita-cerita lain yang menarik, seputar kawasan Situ Cileunca.

Tak ada yang mengira, jika Pak Asep adalah juru kunci tempat itu. Pakaian lusuh dan kaki dekil, seolah tak menggambarkan wibawa seorang juru kunci tempat keramat, yang biasanya memakai busana rapi dan bersih. Dandanan Pak Asep lebih mewakili profesinya sebagai petani, bahkan parasnya lebih mirip dukun, yang biasa muncul di sinetron-sinetron misteri kita. Tapi mungkin ada baiknya kita dengar pengakuan Pak Asep.

“Kalau pagi sampai sore saya memang menunggui kebun. Tapi kalau malam, biasanya ada yang mau datang ke makam Mahesti. Jadi saya antar mereka ke makam. Jangan disebut juru kuncilah…sebut saja satpam,hehe,”kata Pak Asep merendah.

Cerita dari “dimensi lain” inilah yang kemudian menyita saya, Mia (anak Pos Kota) dan seorang lagi dari Gatra.com, untuk mengerubungi Pak Asep. Kata Pak Asep, tak jauh dari kebun miliknya, terbaring tenang jasad Mahesti, mandor yang juga orang sakti suruhan Belanda, saat Situ Cileunca mulai dibangun. Ketika Mahesti meninggal, jasadnya kemudian dimakamkan di sisi makam istrinya.

Laiknya makam orang sakti, banyak pihak lantas mendatanginya, dengan berbagai macam keperluan. Mereka berasal dari rakyat biasa, jenderal, sampai pernah Bung Karno yang sudah wafat pun muncul di makam Mahesti. Pak Asep membahasakannya sebagai mantan presiden. Saya bertanya karena penasaran.”Maksudnya Gus Dur gitu pak?”. Semua sudah mafhum, Gus Dur suka mendatangi makam-makam keramat.
Berdayung di tengah Situ

Bagi orang yang berfikir rasional, cerita Pak Asep soal Bung Karno tentu saja seperti mengada-ngada. Tapi namanya wilayah supranatural, saya yakin dan percaya saja. Sama seperti yakin dan percayanya, ketika melihat jarum jam dan paku bermunculan dari tubuh, atau kawat yang keluar dari perut, seperti banyak diberitakan media massa.

Tutur Pak Asep, Bung Karno bisa malih rupa. Ketika naik angkot, wajahnya terlihat seperti orang biasa. Tapi begitu sudah di makam Mahesti, wujudnya berubah menjadi Bung Karno. Dari Bung Karno inilah, terlontar informasi rahasia, jika di sekitar Situ Cileunca terkubur emas dalam peti dengan berat berton-ton. Begitu juga lembaran uang zaman Belanda, yang tak ternilai harganya.

“Tapi sampai sekarang belum ada yang bisa mengambil,”ujar Pak Asep.

Karena penasaran, saya dan Mia minta diantar ke makam. Pak Asep dengan senang hati mengantar. Anak Gatra memilih mundur, karena lebih tertarik melihat-lihat kebun strawberry. Kami melewati kebun tomat yang luas, di tengah udara senja yang mulai dingin. Lewat jalan kecil berliku, kami sampai di makam sederhana. Suasananya sepi dan ngelangut. Jauh dari pemukiman penduduk, dan tak ada suara apapun. Pesona mistis segera menyergap. Apalagi Pak Asep menyuruh kami membaca syahadat, sebelum masuk ke bangunan makam.

“Ashaduallahilahaillalloh…waashaduanamuhammadarosululloh,”saya berujar pelan.

Apa yang terlihat? Dua buah makam dengan nisan batu lancip dan plester sederhana. Pak Asep segera menyapu. Mia duduk bersimpuh sambil mulutnya komat-kamit. Setelah melihat-lihat, kami keluar dan diantar ke tepi Situ. Sepanjang jalan, Pak Asep kembali bercerita. Keberadaan harta karun itu tak banyak yang mengetahui. Peziarah yang datang mayoritas hanya ingin cita-citanya terkabul; entah jabatan tertentu, proyek-proyek pemerintah atau maju di arena pilkada.  Namun puluhan tahun menjadi juru kunci, Pak Asep tak pernah memasang tarif saat mengantar para penziarah berkunjung ke makam Mahesti.

“Syaratnya cuma satu, kalau sudah terkabul keinginannya, hendaknya jangan lupa pada sesama. Sedekah yang rajin. Itu saja. Nggak usah datang lagi ke sini. Saya dikasih kopi sama gula saja sudah cukup,”ujar Pak Asep.

Makam Mahesti
Uniknya, mereka yang punya hajat tak cukup hanya sehari menyambangi Makam Mahesti. Kadang bisa memakan waktu 6 bulan, sekedar untuk ngobrol di tepi Situ Cileunca. Tak ada kegiatan lain, hanya mengobrol, beribadah, dan duduk tenang di tepi Situ. Konon dengan cara demikian, pikiran yang gundah pun menjadi adem. Jangan pula kaget, jika tiba-tiba ada “orang” asing yang menemani kita ngobrol.

Soal harta karun, Pak Asep tak tahu akan sampai kapan itu terpendam. Sejauh ini, dirinya juga tak pernah memberitahu pada orang lain. “Suatu saat pasti ada yang bisa mengambil,”ujarnya, pelan.

Ketika matahari mulai masuk ke peraduan, saya dan teman-teman bergegas naik perahu, meninggalkan Pak Asep yang berdiri di sisi Situ Cileunca. Di atas perahu, banyak yang penasaran terhadap yang saya lakukan. Saya cerita apa adanya, soal makam Mahesti. Malamnya, sebelum berangkat tidur, pihak Trans TV yang mengundang para wartawan  termasuk saya mengundi doorprize. Percaya nggak percaya, yang dapat saya, Mia dan anak Gatra.

Saya dapat blackberry, Mia ponsel Samsung dan anak Gatra menggondol laptop Compaq 14 inci. Kenyataan ini kami obrolin menjelang sarapan pagi dan banyak teman yang buru-buru tertarik ingin ke makam Mahesti.Tapi, acara pagi itu sangat padat, diantaranya harus menjajal rafting dan paintball. Hingga sorenya, kami harus segera beranjak ke Jakarta. Meninggalkan Pak Asep, makam Mahesti, dan kecantikan Situ Cileunca, yang sempat dijuluki Swiss-nya Indonesia, karena panoramanya yang mempesona…

Friday, June 29, 2012

Di Selo, waktu seperti berhenti berdetak


merapi pagi hari
Dari ketinggian 1600 meter di permukaan laut (dpl), wajah gunung Merapi, Merbabu dan Lawu nampak tertutup kabut, saat saya menjejakan kaki di bangunan bernama Joglo Wisata II, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, awal Juni lalu. Jarum jam masih menunjuk di angka 05.00 WIB. Udara dingin menyambar-nyambar ganas, ditingkahi tempias embun pagi, membuat darah seperti membeku keras. Seiring naiknya sinar matahari, puncak Merapi yang legendaris itu terlihat menguning, laksana bongkahan emas di puncak Monumen Nasional.

Pagi itu, Joglo Wisata masih sepi. Biasanya dari sinilah para pendaki Gunung Merapi mengawali langkahnya. Bangunan yang mudah dikenali karena ada tulisan besar “New Selo” itu dibuat tahun 2003, saat Mantan Presiden Megawati mengunjungi Selo. Sebelum Megawati, konon Bung Karno juga pernah menjenguk tempat ini. Untuk mencapai puncak Merapi, dari sini pendaki hanya butuh waktu tiga jam jalan kaki, yang biasanya dilakukan saat tengah malam.

***
Lereng Selo memang kalah terkenal dengan kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta.  Banyak kendala yang menghambat pembangunan Kecamatan Selo sebagai pusat plesiran.  Tak seperti Kaliurang, untuk mencapai lereng Selo, jalan yang menghubungkannya dengan pusat Kota Boyolali terkenal sempit.  Bus besar yang biasa dipakai untuk mengangkut wisatawan tidak bisa masuk, karena saat berpapasan dengan mobil lain harus minggir hingga memakan bahu jalan.

Banyak obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi di Selo. Diantaranya wisata budaya, berupa labuhan kepala kerbau oleh  Keraton Solo di Puncak Merapi.  Begitu pula tiap tanggal 17 Agustus, ada upacara penaikan bendera merah putih di Puncak Merapi. Selo juga menawarkan pemandian pengging, yang kerap dipakai untuk kegiatan ritual kejawen. 
salah satu homestay

Sejauh ini, wisatawan yang berkunjung banyak didominasi dari dalam negeri. Wisatawan asing yang berkunjung ke Selo, biasanya memilih untuk mendaki Puncak Merapi. Mereka menginap di rumah-rumah penduduk, yang disulap menjadi homestay dengan tarif murah, sekitar Rp 40 ribu per malam. Tarif itu sudah termasuk makan pagi, dengan lauk ala kadarnya. Tapi kata Seno Samudro, Bupati Boyolali,  justru inilah yang banyak dicari oleh wisatawan asing. Mereka enggan menginap di hotel yang banyak bertebaran di Kota Boyolali !

***
Pendakian Gunung Merapi sendiri sudah dikelola cukup baik, dengan guide dan porter yang bisa meringankan para pengunjung untuk menikmati keeksotisan Merapi. Tarif guide sekitar Rp 200 ribu untuk perjalanan naik-turun. Sementara porter mematok harga Rp 150 ribu.  Tarif itu hanya sampai di lokasi bernama Pasar Bubrah. Ini pasar imajinatif, berupa hamparan luas batu-batu besar mirip lapak-lapak pasar. Konon di tempat inilah para dedemit Gunung Merapi “berdagang”.

Jika pengunjung ingin memakai jasa guide dan porter lebih ke atas lagi, harus ada harga baru. Tawar menawar bisa dilakukan, untuk mendapatkan harga terbaik. Setelah sepakat, barulah para pendaki diantar “berkunjung” ke petilasan Mbah Joyo, Watu Gajah Mungkur, tempat Gusti Prabu Alap-Alap dan tempat Kyai Petruk. Nama-nama tersebut adalah para pepunden alias penunggu tempat-tempat wingit di lereng Gunung Merapi.

Keangkeran tempat-tempat itu, membuat fungsi guide menjadi lumayan vital. Dialah yang mengingatkan pendaki, agar mematuhi aturan tak tertulis selama dalam perjalanan.  Diantaranya, para pendaki tak boleh mengeluh, apapun kondisi yang dialaminya. “Kalau kedinginan, jangan mengeluh kedinginan. Juga aturan-aturan lain, yang jadi pantangan selama mendaki. Pokoknya guide menjadi penunjuk jalan dan pemberi peringatan, supaya pendakian berjalan lancar,”kata Tri Joko, ketua kelompok sadar wisata Kecamatan Selo.

Hampir saban malam ada kelompok wisatawan yang ingin naik gunung. Mereka biasanya berangkat pukul 23.00 WIB dan sampai puncak dini hari, hingga bisa melihat matahari terbit.  Keramaian mencapai puncaknya saat peringatan 1 Suro. Ketika itu, labuhan kepala kerbau digelar.  Joglo Wisata II bisa penuh oleh pengunjung, yang hendak ke puncak. Tak heran, di sekitar bangunan itu banyak berdiri kios-kios yang menjual kebutuhan wisatawan, seperti makanan dan minuman.

***
Letak Selo yang berada di lereng gunung, membuat potensi agrowisata juga mendapat sentuhan serius. Menurut Tri Joko, ada sekitar 50 rumah yang siap menampung pengunjung yang datang berombongan. “Kita menyebutnya kampung home stay,”ujar Joko. Untuk menikmati sejumlah tempat wisata yang ada, penduduk setempat membuat sistem paket wisata, yang harus diikuti minimal 30 orang. “Pengunjung bisa memilih apa mau tinggal satu hari atau dua hari,”sambung Joko.

Sistem paket biasa di-booking oleh perusahaan, yang ingin memberi hiburan pada karyawannya.  Untuk paket satu hari, pengunjung akan mendapat well come drink, menonton keindahan panorama Selo di Selo theater, dihibur tarian topeng hitam, outbound dan makan siang. Juga ada kegiatan memetik sayur, memerah susu dan mengunjungi pusat kerajinan kuningan di Tumang, sekitar 4 kilometer dari puncak Selo.
penduduk Selo sedang memerah sapi
Jika memilih paket dua hari, tambahan atraksi wisata diberikan, berupa pengenalan mainan cokekan, kenduren nasi gunung, serta mengunjungi wahana Gua Raja, petilasan Prabu Kanigoro dan melihat-lihat tempat pengamatan Gunung Merapi, yang dilengkapi dengan seismograf. Kalau masih ada waktu, bisa juga melihat-lihat kebun tembakau, selada dan buah khas Selo yaitu kesemek. Pengunjung bisa langsung mencicipi kesemek setelah dipetik. Untuk menikmati paket wisata ini, tiap orang kena tarif sebesar Rp 75 ribu per hari.
suasana tenang perkampungan
Layaknya hawa pegunungan, suhu udara bisa turun hingga 18 derajat celcius. Persiapan matang pun harus dilakukan, sebelum memutuskan untuk menginap. Baju tebal dan selimut untuk tidur wajib dibawa, kalau tidak ingin “membeku” saat rehat di kamar. Begitu juga air untuk mandi. “Kalau nggak kuat mandi dengan air dari sumur langsung, lebih baik dipanaskan dulu. Karena kalau belum biasa disini, seperti mandi dengan air es,”ujar Joko mewanti-wanti.

Namun hawa dingin yang mendera, mungkin bisa sedikit terusir, jika kita turun sebentar ke Pasar Selo. Di sini terkenal dengan jadah goreng yang nikmat saat dimakan dengan minuman kopi. Pilihan kuliner lain bisa dipilih, jika menghendaki variasi makanan. Nasi campur ala Selo wajib dicicipi, sebelum beranjak meninggalkan homestay. Selebihnya, makanan ringan untuk oleh-oleh bisa dikunjungi, sebagai buah tangan untuk orang rumah.
***
Selain agrowisata, Selo juga menyimpan potensi berupa daerah penghasil kerajinan kuningan dan tembaga. Jika memasuki kampung Tumang, hampir 90 persen penduduknya menggantungkan hidup sebagai pengrajin kuningan. Hasil kerajinan kuningan dari Tumang tak hanya beredar di dalam negeri. Tapi juga sampai diekspor ke luar negeri. Pembeli dari mancanegara biasanya memesan barang di Tumang tanpa merk, kemudian menjualnya kembali dengan merk mereka sendiri. Kondisi ini sudah berlangsung sejak almarhum Supri Haryanto merintis kerajinan kuningan tahun 1983 lalu.
ruang pamer kerajinan kuningan
Pemilik Muda Tama Galery, Agus Haryanto misalnya. Anak Supri Haryanto ini sering mengekspor produknya ke Perancis dan Amerika Serikat, tanpa embel-embel merk perusahaannya. Agus mengaku tak bisa berbuat banyak, karena lebih memilih untuk menjaga kesinambungan pesanan. Apalagi sejak ayahnya meninggal, persaingan semakin ketat, sebab banyak karyawan ayahnya yang membuka galeri sendiri.

Di tempat Agus, berbagai alat rumah tangga, hiasan dinding dan pernak-pernik dari kuningan dan tembaga dibuat. Tidak tanggung-tanggung, agar kualitasnya terjaga, Agus mengaku mendatangkan kuningan langsung dari Italia dan Korea Selatan. “Kuningan dari Itali maupun Korea lebih mudah dibentuk. Bahannya lebih lentur dan tidak mudah pecah,”kata Agus. Tiap bulan, Agus mampu mengekspor perangkat dari kuningan dengan nilai ekspor sekitar Rp 150-200 juta.

tekun membuat barang kerajinan
Pasar lokal juga tak luput dari bidikan Agus. Produk kaligrafi tercatat yang paling laku dibeli. Agus mempromosikan usahanya dari mulut ke mulut. Selain itu, ia juga sering mengikuti pameran kerajinan yang kerap diselenggarakan pemerintah pusat. Agus juga banyak mendapat pelanggan atas rekomendasi pemerintah Kabupaten Boyolali, jika ada pihak yang ingin membeli barang dari kuningan, tembaga atau aluminium.

Tumang memang menawarkan sisi lain ketenangan Selo, dengan dentingan palu godam dan suara pahat yang bertalu-talu memecah kesunyian. Namun karena jaraknya tak jauh dari puncak Selo, suasana tenteram masih terlihat nyata. Mereka bekerja seperti anak sekolah, dengan jam kerja yang ditentukan lewat bunyi bel; kapan mulai mengelas dan kapan istirahat. Usai berkarya, sekitar pukul 17.00 WIB, para pekerja itu kembali ke rumah masing-masing, berkumpul dengan anak dan istri. Keheningan kembali menyergap, dengan desau angin  khas suasana pegunungan mengalir lirih, membuat waktu di Selo seperti berhenti berdetak.

Friday, June 15, 2012

Mencari kehangatan di Jalan Braga

jalan Braga, Bandung
Sepotong jalan di Kota Bandung itu akan semakin riuh, manakala matahari sudah tenggelam di bagian Barat. Beberapa tempat hiburan mulai buka, lampu-lampu dinyalakan dan deretan motor serta mobil akan memenuhi bahu jalan, hingga fajar merekah di langit kota yang juga terkenal dengan julukan Kota Kembang itu. Ya, Jalan Braga, kesitulah sebagian besar para pelancong menghabiskan waktu, membuang penat dan bercerita dari mulut ke mulut, hingga membuat jalan sempit ini terkenal sampai ke manca negara.

Braga memang banyak berubah. Aspal hotmix sudah diganti conblok yang cepat pecah. Pedagang lukisan jumlahnya menjadi puluhan. Galeri seni dan resto dengan beragam jenis menu bertumbuh di kanan kiri jalan. Gedung-gedung tua yang dulu sempat ngetop telah berganti fungsi atau tutup karena tak kuat bersaing. Satu-satunya penanda yang tak lapuk di makan usia adalah tempat-tempat bersantai, yang sudah hadir sejak puluhan tahun silam. New Braga Club, R Caraoce, Escobar Live Music, Grhyfone Live Caraoke, Caesar Pallace Distrik dan Intro Live Music adalah diantaranya.
***
Laiknya kawasan hiburan dan “cuci mata”, Braga tak luput dari otak bisnis para seniman lukis. Boleh jadi para seniman lukis sekitar  Bandung berfikir pragmatis, pelancong yang memadati Braga adalah mereka yang berkantong tebal. Maka selain jadi pusat hiburan, Braga juga menjadi sentra berbagai aliran lukisan dipajang. Dari kelas kaki lima hingga galeri-galeri seni yang didesain dengan sentuhan kontemporer, semua ada. Semua hidup, bergerak dan berdenyut menikmati limpahan rejeki dari para kolektor lukisan. Salah satunya adalah Pak Ujang (67) yang sudah 30 tahun berjualan lukisan di Jalan Braga.

deretan penjual lukisan
Pak Ujang adalah penjual lukisan pertama di Jalan Braga. Ia membuka lapak di depan bekas perbelanjaan Sarinah, yang sempat menjadi pusat belanja paling bergengsi di Kota Bandung. Tak jauh dari tempatnya memajang lukisan, bekas bioskop Majestic juga sudah beralih fungsi menjadi gedung serba guna. Begitu pula Hotel Braga, yang tutup seiring bermunculannya banyak hotel lain. Dulu, saat tempat-tempat itu masih berjaya, dagangan Pak Ujang laris manis dibeli pengunjung.”Orang-orang kaya yang habis belanja di Sarinah, biasanya beli lukisan ke saya,”ujar Pak Ujang dengan dialek Sundanya.

Walau penjual lukisan kini menjadi sekitar 60 orang, Pak Ujang masih tetap bertahan dengan profesinya. Ia juga enggan untuk berpindah tempat, takut pelanggannya susah mencarinya.  Pak Ujang bertutur, para pelanggannya yang kebanyakan para kolektor lukisan, secara berkala sering mendatanginya untuk melihat lukisan-lukisan terbaru. Dari merekalah, ia bisa menghidupi anak istrinya. “Selain itu, saya juga jadi kurator. Kalau ada lukisan yang rusak atau kurang bagus saya reparasi,”ujar pria gaek ini.

Harga lukisan yang ditawarkan bervariasi, dari Rp 200 ribu hingga Rp 5 juta. Berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia lukisan, Pak Ujang selalu menyediakan lukisan pemandangan, bunga, kaligrafi dan ikan koi atau kuda yang banyak diburu para kolektor. Sementara untuk lukisan beraliran ekspresionis atau dekoratif hanya beberapa yang berminat. Dari mana Pak Ujang mendapat semua lukisan itu?”Para pelukis datang sendiri ke sini. Biasanya saya langsung beli kontan. Karena kalau nunggu sampai laku kasihan mereka. Kebutuhan hidup khan nggak bisa ditunda,”ujar pria yang tinggal di Ujung Berung ini.

***
Ada untungnya juga gedung-gedung tua di jalan Braga yang tutup karena dimakan usia. Di depan bangunan yang sudah tak terpakai itulah, para penjual lukisan memajang jualannya. Lukisan-lukisan dengan berbagai aliran dan tema, membuat wajah Jalan Braga seperti sebuah galeri besar. Kadang, bila lelah berjalan melihat-lihat lukisan, pusat jajanan menjadi tujuan berikutnya, sekedar untuk membuang penat. Sebuah toko kue kuno, dengan alat timbangan zaman Belanda dan interior bangunan yang lumayan jadul, bisa jadi alternatif bertandang. Namanya; Toko Sumber Hidangan.

Ini toko benar-benar tua secara harfiah. Selain bentuk fisik bangunannya, para pekerja yang melayani pembeli pun kebanyakan berusia lanjut. Maklumlah. Rata-rata mereka sudah bekerja di atas 20 tahun. Salah satunya Mak Engkus, yang sudah bekerja sejak berumur 17 tahun dan hingga kini masih aktif melayani pembeli meski usianya sudah menginjak 64 tahun. Kata Mak Engkus, toko ini sudah berdiri sejak 1926. Pemilik yang mengelolanya sekarang adalah generasi kedua pendiri toko dan sudah berusia 80 tahun. “Kita menyediakan semua jenis jajanan. Bisa langsung dimasak, sambil ditunggu,”kata Mak Engkus.

Pelanggan kue toko ini, uniknya, bisa makan nasi goreng, bistik dan es cream saat menunggu pesanan siap dibawa pulang. Hampir semua kue produksi toko ini laku di pasaran. Pelanggan setianya selalu datang, saat mereka kangen menikmati kue-kue seperti kroket, roti bolu, lemper dan lain-lain. Semua kue yang dimasak toko, rasanya tidak pernah berubah sejak pertama toko berdiri. “Soalnya resepnya tetap sama. Sampai kini resep itu sudah diturunkan ke anaknya yang sekarang mengelola. Kami tidak pernah dikasih tahu. Jadi bumbu-bumbunya tetap dibikin sang pemilik,”kata Mak Engkus.

Toko Sumber Hidangan melengkapi tempat-tempat kuliner sepanjang Jalan Braga, yang pantas untuk dicoba. Diantaranya Mie Reman, bebek goreng, atau pusat jajanan modern di Braga City Walk, yang belum lama berdiri. Tak jauh dari Toko Sumber Hidangan, resto Braga Permai juga menjadi tempat yang diincar para pengunjung Jalan Braga. Di resto ini, tersedia Western Food, Italian Food dan Oriental Food. “Ini restoran paling tua di sini (Jalan Braga). Karena sudah dikenal, kami buka dari pagi hingga tengah malam,”kata Rustandi, petugas sekuriti resto yang berjaga di depan.

galeri kaki lima
***
Banyaknya pelancong Jalan Braga, kerap kali membuat toko kerajinan menjadi tujuan berikutnya, sekedar mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ibu Sabrina yang membuka toko kerajinan SiBayak, rupanya mencium peluang itu. Sejak 8 tahun lalu, perempuan yang lahir di Jalan Braga ini banting stir menjual beragam kerajinan tangan, setelah jualan busananya kurang laku. Pilihan Ibu Sabrina ini, nyatanya tidak salah.”Banyak para wisatawan domestik maupun dari luar negeri yang membeli kerajinan tangan untuk kenang-kenangan,”ujar Ibu Sabrina.

Untuk memenuhi kebutuhan pembeli dan menjaga kualitas kerajinan, Ibu Sabrina sampai membina para pengrajin. Mereka dididik agar menghasilkan karya sesuai kualitas yang diinginkannya. Namun begitu, Ibu Sabrina juga kerap menerima titipan dari para pengrajin dari sekitar Bandung. Dari semua barang kerajinan yang dijual, kerajinan wayang menjadi primadona pengunjung tokonya. “Saya juga sempat nggak percaya, karena anak-anak juga suka beli wayang. Entah wayang kulit atau wayang golek,”ujar Ibu Sabrina.

Tak hanya menjual barang di tokonya, Ibu Sabrina juga menerima pesanan kerajinan untuk beragam keperluan. Ada yang dijual lagi, banyak pula yang dipakai untuk souvenir misal pernikahan. Baru-baru ini, ia menerima pesanan membuat 1000 bumerang, untuk dijual lagi oleh seorang pelanggan tokonya. “Untuk koleksi pribadi biasanya pelanggan pesan wayang. Mereka ingin dibuatkan tokoh-tokoh wayang tertentu,”ujar Ibu Sabrina. Tak ketinggalan, ia juga menerima pesanan dari lembaga, seperti patung garuda di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibuat dari tembaga.

***
model dadakan jln Braga
Jalan Braga kini, memang mencoba bertahan dari gempuran pesatnya pembangunan kota Bandung. Gedung-gedung tua sengaja dipertahankan, meski kurang terawat dan tidak digunakan lagi. Keeksotisan wajah Braga ini, membuat para fotografer kerap menjadikannya sebagai tempat untuk mengambil foto-foto. Entah preweeding atau sekedar untuk koleksi pribadi. Seperti Awang, anak Bandung yang tiap minggu mengambil latar belakang gedung tua di Jalan Braga untuk foto-fotonya. Kebetulan ia tergabung dalam sebuah komunitas fotografi di Kota Bandung.

Braga di malam hari
Jalan Braga juga kerap menjadi lokasi syuting film atau sinetron.”Jumlahnya sudah nggak terhitung,”kata Asep, anak muda yang lahir di Jalan Braga dan bekerja di sebuah tempat karaoke. Menariknya, dengan segala aktifitas yang berlangsung dari pagi hingga dini hari, menurut Asep, jarang terjadi keributan berarti. Para pengunjung tempat hiburan yang didominasi orang-orang Malaysia, bisa bebas membelanjakan uangnya dan memberi berkah tersendiri bagi ratusan tukang parkir yang menjaga kendaraan mereka.”Yang datang ke tempat-tempat karaoke biasanya orang-orang berduit. Sedangkan yang berkantong cekak, biasa nongkrong di warung bakso yang  buka hingga pagi,”ujar Asep.

Penyanyi Charly Van Houten salah satu yang suka nongkrong di Jalan Braga. Ia biasa datang, ketika senja mulai menangkup Kota Bandung. Karena hampir sebagian besar resto, pub, karaoke dan diskotik mulai buka setelah pukul 18.00 WIB.  Saat itulah, Braga mulai berkurang dari hiruk pikuk kendaraan yang lewat. Toko kue, cinderamata, penjual lukisan dan aktivitas hunting foto dan syuting sinetron undur diri.Seiring semakin dinginnya udara Kota Bandung, kehangatan justru semakin naik, sejalan dengan kedatangan para pelancong yang membuat Jalan Braga seperti tak pernah tidur.