Daftar Isi

Sunday, June 22, 2014

Tuhan yang selalu tersenyum


Malam itu beradalah saya di sebuah negeri yang terkenal  gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Sebuah negeri yang kaya sumber daya alam, yang memiliki iklim tropis nan bagus, dan penduduk yang ramah. Tapi malam itu, beberapa hari sebelum Bulan Ramadhan tiba, suasana seluruh negeri mulai tegang. Tak ada lagi senyum ramah, sapa bersahabat dan tawa kecil yang menjadi penanda keluhuran jiwa. Usai debat capres ke sekian, malam itu yang berseliweran adalah kalimat olok-olok, debat kusir, kampanye hitam dan upaya saling jatuh menjatuhkan antar sesama anak negeri.

Memang sempat muncul sikap saling memaafkan, atau minimal meminta maaf, ketika menyadari jiwa-jiwa yang kotor akan memasuki bulan suci. Beberapa tulus terucap. Beberapa hanya meneruskan broadcast message, tanpa semangat dan kebesaran jiwa. Mungkin hanya basa basi belaka. Tapi setelah itu, kita kembali mengasah kata-kata setajam mungkin. Menunggu pertempuran dahsyat di 9 Juli, lantaran suasana panas tak kunjung mereda akibat polah para elit politik kita. Hampir dua minggu berselang, Tuhan pun tak pernah tersenyum –karena saling kutuk dan bongkar aib begitu massif terjadi di negeri ini.

Para jenderal seperti anak SMA. Pendidikan Lemhanas dan Sekolah Staf dan Komando yang pernah mereka jalani,tinggal sebatas formalitas untuk naik pangkat belaka. Politisi sipil tak jauh beda. Kita seperti berada di pusaran permusuhan, terperangkap dalam sikap pro dan kontra, dikipas terus menerus oleh tayangan-tayangan berita. Kita beropini sesuai imajinasi. Kadang tanpa bukti, demi menegaskan dan memaksakan apa yang kita pikirkan. Tak ada lagi ruang dialog terbuka. Hilang pula rasa toleransi.

Memang sejenak kenaikan tensi itu mereda, saat piala dunia tiba. Bisa dibilang, ini hikmah terselubung.  Tuhan mungkin mengaturnya secara arif, lantaran semua tak pernah tahu jika para capres dan cawapres yang bertarung ternyata hanya ada dua kubu. Laksana sebuah perjalanan panjang di gurun pasir yang gersang, masih ada oase tempat kita meletakan penat. Tempat sejenak menyeruput kesegaran mata air dan mengalihkan perhatian. Semua berharap ini menjadi langkah awal kita mulai mensucikan jiwa di bulan puasa.

Jika pusat pelacuran Dolly di Surabaya di tutup sebagai makna pemberangusan nafsu hina memasuki bulan puasa, elit-elit politik Jakarta mestinya belajar untuk menutup mulut, demi kesucian bulan agung itu. Sebab, puasa adalah ibadah istimewa. Ia hanya perlu iman dan tak butuh kata-kata. Tidak juga perlu pengakuan orang lain, karena pahala puasa itu urusannya dengan Allah. Jangan pula berfikir, jika moment itu bisa dijadikan ajang pencitraan, kalau kita tak mau kemarahan Tuhan datang lebih cepat.

Cukuplah sudah bencana demi bencana menjadi pengingat kita, betapa kita begitu keras kepala memperjuangkan kepentingan pribadi dan partai. Kita seperti menjadi hamba partai. Bukan hamba Tuhan. Hakekat manusia yang diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah, seolah dinafikan begitu saja. Dalam batas-batas tertentu, kita bahkan secara sadar menjadikan prosesi ritual untuk keuntungan dunia. Kita menjadi manusia yang tak tahu diri, lancang dan penuh kamuflase. Cukuplah sudah.

Puasa tentu bukan sekedar menahan haus dan lapar. Pengendalian diri yang menjadi inti dari ibadah ini, menjadi soko guru dari keagungan perilaku, lebih-lebih disaat hujan fitnah deras melanda di pekan-pekan politik ini. Segala hal yang membatalkan puasa, sesungguhnya telah di desain Tuhan untuk direnung dalam-dalam, agar kita menjadi pribadi yang mawas diri. Misal, mulut adalah sumber kebajikan,sekaligus keangkaramurkaan. Puasa menjadi sarana kita membersihkan jiwa, agar yang keluar dari mulut adalah kalimat-kalimat manis dan bermanfaat, laksana teko yang di dalamnya berisi madu.

Beberapa hari ke depan, dan ketika kita memasuki bulan puasa, ada baiknya kita rehat sejenak membuka kejelekan sesama. Bukan atas nama korsa, bukan pula berharap pujian dunia. Takutlah kita tentang peringatan Tuhan, yang menyamakan manusia sebagai pemakan bangkai , lantaran suka membuka aib  saudaranya. Atas nama apa saja. Dengan motif apa saja. Termasuk motif untuk mendegradasi elektabilitas lawan politiknya.

Beberapa hari ke depan, dan ketika kita memasuki bulan puasa, ada baiknya kita rehat sejenak memuji diri sendiri .Entah atas nama harga diri, atau biar dianggap punya nyali dan peroleh simpati. Takutlah kita akan peringatan orang-orang alim, jika kesombongan adalah pintu menuju kesesatan. Seperti Fir’aun yang mengaku Tuhan, dan akhirnya musnah dibenamkan ke dalam laut merah tanpa daya. Puasa adalah momentum untuk belajar berendah hati, setinggi dan sebesar apapun prestasi yang pernah kita lewati.

Pada akhirnya puasa adalah bulan tempat kita bercermin. Sebagai khalifah Tuhan dimuka bumi, apakah kita telah menepati janji-janji? Mengingat segala jejak yang berbekas, benarkah kita telah memanggul amanah dengan bijak ? Mengurai umur yang telah sirna, yakinkah kita telah bermanfaat bagi sesama ? Cermin itu terpasang kukuh di dada, dan puasa menjadi ajang pembersihan sang cermin, agar kita menjadi pribadi yang peka, selain bertakwa.

Malam itu beradalah saya di negeri yang penuh dilingkupi senyum ramah. Dunia maya dipenuhi kalimat-kalimat bermanfaat. Koran dijejali berita-berita berimbang. Televisi menjadi sarana yang mencerdaskan. Para elit berangkulan, dan bahu-membahu berjuang mensejahterakan rakyat. Lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an terus berkumandang dari masjid-masjid. Sebuah negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negeri yang subur,makmur, adil dan aman). Negeri yang akan membuat Tuhan selalu tersenyum gembira#

Monday, June 16, 2014

Allah Kok di Ajak Kampanye


Teman saya, seorang Islam Abangan, sungguh amat berminat mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa. Tim sukses sudah ia bentuk. Dana disiapkan. Sebelum pendaftaran dimulai, ia sempat berdiskusi dengan seorang kyai kampung, yang ikut jadi penasihat spiritualnya . Si bakal calon (balon) kepala desa ini rupanya masih bimbang dengan masih kuatnya politik aliran di desanya. Terutama yang terkait dengan isu-isu agama.

“Sampeyan khan tahu kyai? Saya tidak ingin terlihat bodoh dan mendapat cap buruk sebagai tidak Islami. Saya ingin mulai besok, bakal membiasakan diri pakai baju koko dan peci. Kalau disuruh berpidato, saya akan mengawali dengan mengucap salam secara takzim,”kata sang balon.

Pak kyai sempat termenung lama. Ini memang ide lumrah. Trik biasa yang sudah kerap dianut para politisi,termasuk balon-balon lain. Tapi rupanya pak kyai masih punya pertimbangan lain. Ada rona ketidaksukaan dengan usulan si balon.Pak kyai lantas menarik nafas panjang,sebelum ia mengeluarkan suara.

“Sudah saya duga hal itu bakal sampeyan lakukan. Mungkin sampeyan ingin juga menyebar foto sholat, mengumbar bacaan-bacaan Al Qur’an,menyuruh istri memakai jilbab, bilang bakal pergi haji dalam waktu dekat, dan lain-lain. Pertanyaan saya,apakah itu penting?”ujar pak kyai.

“Lho, sampeyan ini bagaimana toh kyai?”tukas si balon cepat.”Sudah jelas itu sangat menentukan elektabilitas saya nanti, karena mereka menganggap saya sebagai bagian dari mereka. Saya bukan orang lain. Minimal jarak yang tadinya lebar jadi sempit. Ingat kyai, isu ini sangat sensitif. Kalau tidak kita antisipasi sejak awal, saya bisa dianggap kafir, nggak jelas agamanya atau setidaknya dipandang tidak relijius,”sambung si balon.

“Lha, itu yang saya khawatirkan. Kenapa harus mengajak-ajak Tuhan untuk kampanye? Apa urusan Tuhan dengan ambisi sampeyan? Kalau mau salam, atau mengutip sholawat saat pidato, ucapkan saja tanpa pamrih. Saya tak mau Tuhan menganggap sampeyan kurang ajar, gara-gara membawa Dia dalam kampanye. Menjual kebesaran-Nya untuk membesarkan sampeyan sendiri. Atau menjual ayat-ayat-Nya dengan harga murah,”ujar pak kyai.

“Waduh,pak kyai sepertinya tidak ngerti politik. Ini cara paling mudah untuk memberi citra baik. Tuhan pasti memaafkan. Lagi pula pihak lawan juga pasti melakukan ini. Jika mereka ogah memakai cara ini, kita bisa serang mereka dengan menghembuskan isu ini secara akurat. Biar mereka dianggap tidak jelas keyakinannya,”jawab si balon.

“Justru saya punya ide, urusan keyakinan, ya untuk diri sendiri saja. Memang kalau kita tidak bisa bismilah, itu masalah buat mereka? Dari situ, jika kita cermati, kita bisa belajar kejujuran. Kalau istri sampeyan belum siap berjilbab, buat apa dipaksakan? Islam itu gampang. Tidak mempersulit. Dengan kita tampil adanya,tanpa harus bertentangan dengan hati nurani, orang akan melihat karakter kita. Hidayah tidak bisa dipaksakan,”ucap pak kyai.

“Saya tertarik dengan argumentasi pak kyai. Tapi politik tetaplah politik. Kata Machiavelli, untuk merebut kekuasaan, segala cara bisa kita tempuh. Termasuk dengan sedikit tipu-tipu.  Atau dalam bahasa pak kyai, dengan mengajak Tuhan berkampanye. Kalau tidak, kita bakal kena knock out lawan,”ujar si balon.

“Ini yang sering kita lupakan. Tujuan baik mestinya harus dicapai dengan jalan baik. Islam melarang kita menipu diri. Karena dari situ bisa muncul sikap merasa diri paling baik. Ujung-ujungnya,kita bisa tergoda untuk menyudutkan orang lain. Itu akan menyakiti mereka. Lagi-lagi, Islam melarang kita menyakiti orang lain,”ceramah pak kyai.

Lantaran dialog tak kunjung menemukan simpul, saya segera angkat bicara,“Begini,saya punya usul,”
“Pasti kamu sependapat dengan ide saya khan bung?Kita rebut suara umat Islam dengan tampilan artifisial. Bila perlu,kamu ajak lawan kita untuk bertanding baca Al Qur’an. Saya tidak takut. Karena itu pasti tidak akan terjadi, lantaran  undang-undang tidak mengatur. Ya, semacam psy war-lah,perang psikologis,sekaligus menyampaikan pesan jika kita lebih alim dibanding lawan”sambar teman saya.

Saya tercekat. Tapi tanpa pikir panjang saya sampaikan usul, yang sedari tadi mengganjal di kepala.
“Saya minta kamu mundur saja dari pencalonan kades. Biar pak kyai saja yang maju. Dukung dia. Kasih dana. Saya yakin perdebatan semacam ini tidak akan terjadi. Bagaimana? Setuju dengan usul saya?”

Teman saya nampak terperanjat. Tapi saya tak peduli. Pak kyai lebih kaget lagi. Tapi saya yakin ini solusi terbaik. Saya tak ingin biaya dan waktu terbuang mubazir, hanya untuk memoles seseorang yang mengaku Islam abangan, agar terlihat lebih “hijau”. Pikiran saya simpel. Kalau ada yang lebih genuine,kenapa pilih yang “KW” dua? Satu-satunya yang pas, yang berada di hadapan saya saat itu,ya pak kyai.

“Pikiranmu sangat radikal bro. Jangan menjerumuskan orang jujur seperti pak kyai ke dunia politik yang penuh tipu daya. Berbahaya. Dia bisa disetir orang lain, yang lebih tega. Justru saya menawarkan diri, karena saya sadar, politik ya seperti itu. Kita harus banyak janji dan nampak bersungguh-sungguh dengan janji itu. Nanti meskipun saya terpilih dan kemudian disumpah jadi kepala desa untuk satu periode, kalau ada kesempatan nyalon bupati, tinggal diserahkan ke pak carik. Gampang toh?Politik gitu lho,”cuap si balon.

“Saya juga tidak mau,”potong pak kyai tegas. “Saya lebih nikmat mengurus masjid dan umat. Wong sudah jadi karyawan Allah,kok masih mau memburu jabatan dunia. Setua saya, ketika semua hal berbau dunia sudah saya rasakan, sudah waktunya untuk mengabdikan diri pada Allah. Jadi jangan tarik-tarik saya untuk berpolitik,”

“Hush, pak kyai jangan terlalu tinggi omongan politiknya.Ingat,sekarang lagi musim pilpres,”kata saya.

“Lho, dari tadi yang kita omongkan bukannya itu?”.


Monday, June 9, 2014

Politik Citra


Sarung dan teklek (sandal kayu), dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), sering digambarkan sebagai simbol kesederhanaan. Para kyai besar di Jawa Timur, pemilik pondok pesantren masyhur, kerap menjadikan dua benda itu sebagai  “makanan” sehari-hari. Namun bukan berarti mereka miskin. Cerita tentang kekayaan kyai, walau itu bukan sesuatu yang biasa dibicarakan secara terbuka, kerap hanya terlihat dari luas dan besarnya pondok. Atau jumlah santri.

Belakangan, mobil dan segala pernak pernik kehidupan modern, memang sudah tak tabu lagi. Gamis yang licin mengkilat juga tak dihindari, meski sarung dan sandal selop –sebagai pengganti teklek- masih setia menempel di badan. Tapi segala yang dipakai, bahkan saat harus menggunakan mobil Mercedez Bens, menurut budayawan NU Muhammad Sobari, justru sebagai simbol mereka telah “lepas” dari hal-hal keduniawian,dan menjadikan barang itu sebagai sarana menuju takwa kepada Allah.

Soal kesederhanaan kyai NU,memang selalu menarik untuk diulik. Sobari sering membahasakan mereka dengan “Kyai Bejo”, lantaran doanya mudah dikabulkan oleh Tuhan. Tapi jika kita membayangkan “Kyai Bejo” dengan gamis dan serban berkibar, atau tangan tak lepas dari biji tasbih, itu keliru. Mereka muncul dengan celana dan kemeja biasa, tak banyak cakap, kadang-kadang hilang begitu saja. Jarang pula orang mengenali, kecuali orang-orang yang punya indra keenam hasil olah batin selama bertahun-tahun.

Kesederhanaan dalam konteks kultural NU, lebih dimaknai sebagai wujud dari kerendahatian yang tak butuh pujian dan penilaian. Apalagi  untuk tujuan survei politik. Semua genuine. Asli tanpa dibuat-buat. Sikap askestis semacam itu, didorong oleh keasyikan mencerna kesejatian jiwa. Kebutuhan raga hanya dilengkapi yang perlu. Meski kadang-kadang, life style seperti itu secara tidak langsung menjadi role model para santri.

Saya berfikir, nilai-nilai yang hidup dan dianut para kyai itu tak melulu berkembang di kalangan para penganut ahlussunah waljamaah. Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang penganut syiah,tak kalah ekstrim “menolak” kenikmatan dunia. Pilihan Mahmoud lebih didasari oleh pengejawantahan nilai-nilai spiritual yang diwariskan seniornya, Ayatullah Khomeini, dan jauh dari urusan citra sebagai politisi.

Sama seperti Almarhum Khomeini, gaji Mahmoud sebagai presiden disumbangkan ke baitul mal. Mobil yang dimilikinya sebuah sedan tua tahun 70-an. Namun Iran dibawah kepemimpinannya adalah Iran yang berkarakter, karena Mahmoud adalah simbol dari pribadi yang independen, sederhana tanpa dibuat-buat, keras dan tegas. Lepas dari ideologi yang dianutnya, citra Mahmoud terbentuk lantaran kekuatan kepribadian dan bukan karena hal-hal yang bersifat artifisial.

Di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi sekarang ini, kenyataan menarik itu pantas diangkat,sebagai refleksi diri dan rakyat pemilih, untuk menilai para calon pemimpin. Sebab terlalu lama negeri ini terbelenggu oleh pencitraan dan politik simbol. Terlalu lama pula rakyat diajari untuk menipu diri, demi meluncaskan syahwat politik. Punya pesawat pribadi, tapi pergi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) naik sepeda onthel. Sehari-hari naik mobil dan punya kekayaan 27 milyar,tapi saat disorot kamera memaksakan diri  naik bajaj.

Belum lama kita melihat iklan ketua umum partai, yang berpeluh-peluh digambarkan jadi kenek bus kota. Kita seperti sudah kehilangan imaji, hingga harus ikut-ikutan bersinetron, meski itu menghina akal sehat. Ironisnya, sosok-sosok yang dulu begitu nyinyir menyebut Presiden SBY sebagai biangnya pencitraan,kini diam membisu dan malah ikut gerbong salah satu capres. Kue kekuasaan menjadi godaan, yang membuat mereka ikut-ikutan menipu diri. Inilah inkonsistensi telanjang bulat, yang berpotensi mengoyak sendi-sendi kejujuran masyarakat.

Bagaimanapun, budaya paternalistik masih kental mewarnai kehidupan bangsa. Di sini berlaku politik patron dan klien. Dalam kondisi ini, kelas menengah masih rapuh, dan yang memainkan  peran adalah lapis teratas (patron)  dan terbawah (klien). Yang atas berbicara, yang bawah mendengarkan. Yang atas berinisiatif, yang bawah submisif. Yang atas menipu diri, yang bawah bakal menipu orang lain, karena sudah miskin dan tak lagi bisa pura-pura menyamar jadi orang miskin.

Politik citra berpotensi menghasilkan politisi-politisi gelembung sabun.  Besar karena tiupan media, dan menjadikan kekuasaan sebagai kemegahan. Dengan sekuat daya selalu berakting tanpa cela, hingga energi habis untuk menutup lubang-lubang keotentikan. Belum lama publik merekam, bagaimana seorang tim sukses capres menganjurkan anggotanya untuk sesaat bergaya hidup sederhana.  Soal usai perhelatan pilpres kembali memakai jam tangan Rolex seharga Rp 150 juta, itu lain masalah. Sebuah konstruksi berfikir, yang membuat kita semakin kehilangan ‘roh’ kemanusiaan, dan sulit membedakan mana politisi,mana artis figuran.

Berpolitik pada akhirnya bukan soal  kalah dan menang. Ada nilai yang mesti diperjuangkan. Nilai inilah yang menjadi kompas yang paten, jika kekuasaan sudah direngkuh. Namun jikapun gagal, nilai itu akan jadi catatan di hati masyarakat, lebih-lebih di mata Tuhan. Seperti Kyai Bejo, Mahmoud Ahmadinejad atau Lech Walesa,bekas Presiden Polandia yang kembali bekerja di tempat lamanya di galangan kapal, usai mengakhiri jabatannya. Sejak Zaman Orde Lama kita sudah terbelenggu dalam politik citra. Mungkin sudah saatnya kita tampil dan bicara apa adanya.Kita sebagai rakyat. Lebih-lebih yang ingin maju sebagai pemimpin, walau hanya ingin jadi ketua RT

Monday, June 2, 2014

Aa Gym diantara Prabowo dan Jokowi


Jelang pemilihan presiden, ada yang menarik dari sikap Aa Gym. Lama “menyepi”, Aa Gym tiba-tiba muncul. Ia muncul bukan sembarang muncul. Pendiri pesantren Darut Tauhid ini terang-terangan memihak pada salah satu capres-cawapres. Langkah Aa Gym ini memang terbilang mengejutkan. Saat dai-dai tenar lain terlihat tiarap, Aa Gym seperti membawa misi tertentu, yang menarik untuk dicermati. Ia mengikuti jejak Kyai Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siradj dan ulama-ulama lain di Jawa Timur, yang memang sudah dikenal sebagai kyai dan politisi.

Perjuangan Aa Gym, jika boleh dibilang begitu, tidak setengah-setengah. Lihatlah tweet politiknya, yang belakangan beredar di dunia maya. Aa Gym bilang,”Yang pilih Jokowi artinya memilih Ahok jadi gubernur.Yang pilih Prabowo artinya memilih Jokowi jadi Gubernur Jakarta,”. Tak cukup lewat twitter, Aa Gym juga menyarankan langsung, agar Jokowi menuntaskan amanahnya di Jakarta selama 5 tahun. Tanggapan publik, tentu beragam. Ada yang setuju. Tapi pihak tertentu mengecam keras,bahkan cenderung kasar.

Di awal-awal Aa Gym mendekat ke kubu Prabowo, ia memang beralasan soal kiprah Prabowo sebagai jenderal “hijau” yang banyak membela kepentingan umat Islam.  Aa Gym seolah mengisyaratkan, ada kemaslahatan Umat Islam yang bakal terganggu, jika ia tidak “turun gunung”. Atau setidaknya, ada nilai-nilai Islam terkait kepemimpinan yang ingin di share, dan itu bukan soal kalah dan menang.  Aa Gym mungkin merujuk kriteria pemimpin ala rosul Muhammad, yang menekankan pada sifat Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah.

Manuver Aa Gym, bagi saya lumayan menarik. Selama ini, ia dikenal memilih untuk berjuang di wilayah ideologis. Bukan politis. Ibarat “petani”, ia lebih suka menggarami tanaman “padi” (baca Islam), agar tumbuh subur dan menghijau. Bukan tipe ulama garis keras, yang memilih jalan dengan unjuk kekuatan untuk menghalau “tikus-tikus”, yang akan memakan “padi”.  Meski popularitasnya sebagai dai sudah meredup, namun sikap Aa Gym ini, tak dipungkiri punya peran penting,minimal sebagai wahana pencerahan bagi jamaahnya.

Sebagai negara dengan penganut Islam terbesar di dunia setelah India dan Pakistan, massa muslim sudah pasti amat diperhitungkan. Namun memang, isu-isu yang kerap diusung untuk memperebutkan suara kaum muslim, lebih bertumpu pada seberapa religiusnya sang capres-cawapres. Jarang yang sadar, jika sejatinya ada kepentingan umat Islam yang lebih utama, dan inilah yang sedang diperjuangkan Aa Gym.  Ia nampaknya “terganggu”, setelah Solo diwariskan ke wakilnya oleh Jokowi,kini Jakarta pun bakal mengalami nasib serupa.

Sejak era reformasi bergulir, move seperti yang dilakukan Aa Gym bukanlah sesuatu yang membahayakan kepentingan nasional. Meski masih menggunakan asas tunggal Pancasila, beberapa partai politik sekarang sudah menggunakan Islam sebagai asas perjuangannya. Ini tentu berbeda saat orde baru masih berkuasa.  Kala itu, sekitar tahun 1973, Islam politik dilemahkan dengan kebijakan fusi partai-partai Islam dalam satu partai. Puncaknya tahun 1984, kala Partai Persatuan Pembangunan mendapat pukulan berat agar mengganti asas Islam menggunakan ideologi Pancasila.

Kaum muslim semakin terpinggirkan secara politis, setelah peristiwa Tanjung Priok meletus.  Kalangan Islam santri lebih sedikit berkiprah di elit militer dan birokrat.  Mereka memainkan peranan yang lebih kecil dibanding jumlahnya. Begitu juga kiprah di ranah ekonomi, yang dikuasai oleh kalangan Tionghoa. Perusahaan-perusahaan milik pengusaha muslim tidak memiliki peran signifikan, di tengah putaran roda ekonomi nasional. Atas nama toleransi,umat Islam dituntut untuk menerima kesetaraan bersandar pada ideologi Pancasila, sehingga mereka harus menerima posisi yang tidak berdaya secara ekonomi dan politik.

Di tengah tekanan militer sebagai alat politik penguasa yang begitu keras terhadap kaum muslim, konon Prabowo punya peran menentukan. Seorang ulama pimpinan ormas Islam terkenal menyebut, mantan danjen Kopassus itu pihak yang berani membela umat Islam. Tak heran, dikalangan Islam, ia dipanggil Umar,merujuk pada sahabat Umar bin Khatab, yang gagah berani membela Islam dari serangan pihak luar. Aa Gym pun menyentil ini, dan ia mungkin merasa inilah saatnya untuk membalas budi.

Terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) tahun 1990 memang menjadi titik balik hubungan mesra negara dan umat Islam. Apalagi kemudian Pak Harto menunaikan ibadah haji, setelah sebelumnya dianggap memeluk sinkretisme. Alam demokrasi yang kian berkembang, membantu pemahaman tentang Islam sebagai kekuatan yang harus dirangkul, sebagai manifestasi ajaran Islam Rahmatan lil Alamin –rahmat bagi semuanya.

Apresiasi saya terhadap manuver Aa Gym, lebih ke keyakinan saya jika ia melakukannya jauh dari harapan posisi duniawi. Aa Gym mungkin berbicara karena mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Bukan berbicara karena ingin mengatakan sesuatu. Mungkin dengan meminta Jokowi agar meneruskan pekerjaan sebagai gubernur, sesuai prinsip Nahdlatul Ulama, ia ingin mempertahankan sesuatu yang dianggap baik, entah buat Jakarta sendiri,lebih-lebih buat kemashlahatan Umat Islam.

Di titik ini, seperti yang saya sebut diatas, kalah menang bukanlah menjadi tujuan. Jika mengingat ini, sepakat atau tidak, tak bijak jika kontroversi Aa Gym yang pernah dilakukan di masa lalu, dijadikan senjata untuk menghujatnya. Ada banyak cara menyikapi ketidaksetujuan. Tapi hanya satu cara untuk menunjukkan keluhuran budi seseorang, saat ia menyikapi perbedaan dengan tabbayun yang baik, dan meluangkan waktu untuk berfikir positif. Bukankah lawan kita dalam berdebat adalah teman kita dalam berfikir?

Wednesday, May 28, 2014

Kecap nomor satu (renungan ttg kepemimpinan nasional)



Pagi, saat mentari belum beranjak naik,seorang ekonom terkenal menyapa saya lewat blackberry messenger. Minggu pagi pekan kemarin saya sebetulnya masih terkantuk-kantuk,lantaran habis menonton final Liga Champion antara Real Madrid versus Atletico Madrid. Ekonom yang giat menyerang sistem ekonomi neo liberal ini rupanya tergelitik mengomentari display ficture saya, yang memasang  gambar lucu capres-cawapres yang maju.

“Sekarang hari bingung nasional ya?”ujarnya. Saya tertawa kecil. Diskusi ringan lantas berlanjut. Pengusung konsep ekonomi kerakyatan ini akhirnya mengaku sudah memiliki ketetapan hati memilih. Ia bahkan membuka kisah masa lalu,tentang betapa intensifnya ia berdialog dengan salah satu capres. Topiknya apalagi,jika bukan soal ekonomi.Intinya, kita harus tegas menolak intervensi asing yang akan menjadikan Indonesia sebagai “jajahan”nya secara ekonomi.

Sebagai negara berkembang,tentu diperlukan nyali hebat. Seorang pemimpin berhati singa. Malaysia pernah punya Mahatir Muhammad, mantan perdana menteri yang dijuluki Sukarno kecil. Dengan konsep ekonomi kerakyatan yang jelas, dan kepemimpinan nasional yang tegas dan berani, tak ada celah bagi negara lain melecehkan kita. Sesuatu yang selama ini jadi keprihatinan banyak orang,lantaran para presiden RI setelah masa reformasi,lebih suka menggunakan soft power.

Dua kali pemilihan presiden langsung,membersitkan harapan pada presiden setelah SBY,yang bakal bertarung 9 Juni nanti. Visi ekonomi yang jadi bahan obrolan pagi itu,sejauh ini memang tak banyak terekspos,lantaran jadwal debat yang dipersiapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum terlaksana. “Sekarang yang lebih banyak beredar iklan kecap nomor satu. Masyarakat juga enggan mencermati apa isi kepala para capres,”kata ibu ekonom itu.

Kecap nomor satu dalam konteks perhelatan demokrasi memang lebih banyak diwarnai informasi kulit. Tidak esensial. Belum lagi gempuran berbagai kampanye hitam,yang beredar di ranah sosial media. Pembentukan opini tak kalah hiruk pikuk ditayangkan televisi. Jika sebelum pemilihan legislatif pemberitaan didominasi tema soal partai pemilik televisi, kini masing-masing capres-cawapres  punya “corong” sendiri-sendiri.

Memang sempat tersiar kabar ada protes dari awak redaksi sebuah televisi,yang jengah lantaran dilarang menurunkan berita tertentu. “Kita harus lawan kesewenang-wenangan pemilik media.Karena frekuensi adalah milik publik,”bunyi broadcast message, yang di share di sebuah grup kumpulan para kuli tinta. Tapi hingga kini,televisi berita masih dan seolah sudah jadi TV kabel yang beritanya tak jauh-jauh dari capres usungannya.

Melihat TV berita,bagi sebagian orang lantas jadi ritual yang menyiksa. Di sosial media seperti facebook,ingar bingar ini bahkan telah membelah pengguna dalam pro dan kontra tak berujung. Semua beropini,dengan data dan fakta yang kerap diambil dari sumber tak jelas. Kondisi ini tak urung menimbulkan kebimbangan. Atau seperti kata ibu ekonom tadi, sekarang kita sedang dalam kondisi “bingung nasional”.

Tak hanya melanda akar rumput. Para elit partai pun banyak terbelah dalam dua kubu. Perbedaannya,jika mereka berstrategi dengan pertimbangan kursi atau posisi, rakyat kecil yang tak cukup melek informasi sering termakan oleh berbagai pencitraan. Sesuatu yang tidak riil,tapi sengaja “dijual” untuk meyakinkan publik bahwa itu adalah nyata.

Godaan kekuasaan membuat para politisi kerap kehilangan akal sehat. Lihatlah di Jakarta. Musim kampanye belum dimulai, tapi tebaran spanduk sudah memenuhi berbagai perempatan jalan.  Setiap celah aturan,jika mungkin akan disiasati,dan inilah yang membuat situasi semakin runyam. Ada sosialisasi, tapi kita tak tahu apa yang akan mereka perbuat jika terpilih.

Sejatinya,hal paling mudah menentukan calon pemimpin hanya merujuk pada empat kriteria,seperti yang dicontohkan Rosul Muhammad.  Secara universal, inilah ibu kandung dari segala kebaikan, jaminan mutu “kecap nomor satu”, dus,segala ingar bingar kampanye dan propaganda, tak lebih dari tambahan informasi yang bakal semakin memantapkan pada pilihan yang tersedia. Empat kriteria itu adalah Shiddiq (benar), Amanah (bisa dipercaya), Tabligh (menyampaikan) dan Fathonah (cerdas).

Shiddiq mengacu pada bukan saja perbuatannya yang benar,tapi juga keselarasan antara ucapan dan perbuatan. Sesuatu yang amat langka dikalangan para politisi. Shiddiq mesti ditunjang dengan kecerdasan (Fathonah),lantaran setiap keputusan yang menyangkut rakyat banyak, akan berakibat panjang jika tak ada ilmu untuk memutuskan.

Amanah menjadi elemen penting untuk menilai,apakah ia benar-benar bisa dipercaya saat mengemban tugas yang di endorse oleh masyarakat. Kekuasaan yang memabukan, sering membuat sifat Amanah berubah menjadi pemenuhan syahwat kekuasaan belaka. Dilantik untuk lima tahun,namun begitu ada kesempatan memburu jabatan yang lebih tinggi, posisi yang sudah dipegang “dilepas”.

Ironisnya tak benar-benar dilepas,tapi sekadar mengajukan cuti,dengan pikiran jika gagal,ia masih bisa terus “duduk” jadi bupati,walikota atau gubernur. Sekarang sudah saatnya tutup telinga,tapi buka mata lebar-lebar. Semua informasi bisa datang dari mana saja, untuk meyakinkan diri sendiri,jika mereka yang nyapres benar-benar memiliki empat sifat itu. Jika sudah yakin, saya jamin “bingung nasional” tidak akan berkepanjangan