Daftar Isi

Thursday, April 24, 2014

Glory Hunter



Usai dikalahkan kesebelasan Granada dengan skor 1-0 di ajang La Liga, para punggawa Barcelona mendapat banyak cemoohan,saat mereka kembali ke markasnya di Camp Nou, Barcelona,Spanyol,pekan lalu. Kekalahan ini melengkapi penderitaan Barca, setelah sebelumnya mereka tersingkir dari arena Liga Champion,setelah kalah agregat dari Atletico Madrid. Perjuangan untuk mempertahankan status juara La Liga pun semakin berat.

Ejekan itu bahkan cenderung rasis, saat mereka menirukan suara monyet untuk bintang Barca asal Brasil,Neymar Junior. Sang mega bintang, Lionel Messi, tak luput dari hardikan. Neymar dan Messi dituduh hanya fokus di Piala Dunia, dan tidak berjuang mati-matian untuk kejayaan klub. Banyak yang menuduh,sikap fans Barca lebih dikarenakan mereka sebagai Glory Hunter,dan bukan The Real Fans.

Situasi berbeda terjadi di klub besar asal Inggris, Manchester United (MU). Kendati di ajang Liga Primer mereka hancur lebur,dus gelar juara liga primer musim lalu bakal melayang,sikap fans MU tak seekstrim penggemar Barca. Sama seperti Barca,  MU juga tersingkir di Liga Champion, setelah kalah dari Bayern Munchen. Tapi, the real fans MU tetap bisa tenang dan mendukung penuh sikap tim.

Sindrom Glory Hunter alias pemburu kejayaan,seiring perjalanan waktu memang memiliki pergeseran makna.Ulah fans kesebelasan yang tidak simpatik,ditengah semangat sportifitas yang dijunjung tinggi di dunia olahraga, membuat spirit perjuangan untuk meraih kejayaan tak lagi dipandang berarti.Mereka lebih melihat hasil dan hasil. Tak peduli itu dilakukan dengan cara tak elegan. Alhasil, sepak bola tidak lagi dipandang sebagai sebuah game, yang kadang menang,bisa pula kalah.

Lantaran kejayaan dan kemegahan menjadi tujuan utama,yang masih di atas ingin terus bertahta. Mereka yang dibawah,berusaha sekuat daya merangkak naik. Ini pula yang terjadi di tanah air, di minggu-minggu yang penuh hiruk pikuk politik, saat Sindrom Glory Hunter merasuki banyak politisi karbitan. Jika revolusi,kata Bung Karno, kerap memakan anak kandungnya sendiri,maka demokrasi,tak bisa dipungkiri, sering merusak  tatanan sosial ekonomi masyarakat. Sindrom Glory Hunter membuat praktik money politic merebak. Kekalahan menjadi aib yang tak pantas disandang. 

Banyak  yang bilang, ini adalah buah dari ketergesa-gesaan sistem. Orde Baru tumbang begitu cepat,dan semua belum siap berdemokrasi secara sehat. Di sisi lain, ada anggapan jika menjadi politisi adalah profesi terhormat menuju jalan pintas kekayaan dan kepopuleran. Kombinasi ini membuat mereka yang terjun di dunia politik masih sebatas pemburu kejayaan. Bukan real politisi.

Belajar dari kesuksesaan Presiden Obama, politik sejatinya adalah titian jalan panjang. Bertahun-tahun Obama menggeluti dan terjun sebagai aktivis sosial. Ia dikenal lantaran kerja sosialnya.Bukan kekuatan finansial atau menjual janji-janji setelah namanya berkibar didunia hiburan.Politik adalah dunia pengabdian. Mereka dipilih karena integritas dan misi visinya. Bukan karena gencarnya serangan fajar,atau wajahnya sering muncul tiap hari di sinetron stripping.

Sindrom Glory Hunter juga membuat jabatan sebatas batu loncatan. Saya pernah berdebat keras soal ini, ketika seorang bintang sinetron terkenal yang juga anggota DPR RI dari PDI P, menyatakan maju sebagai calon gubernur Jawa Barat. Jika si artis tersebut gagal, rekan separtainya sukses meninggalkan posisi wakil bupati Tangerang,untuk meraih jabatan sebagai wakil gubernur Banten. Padahal, saat jadi wakil bupati Tangerang, tak ada prestasi yang ditorehkan dan bisa jadi kebanggaan.

Ketika gubernur DKI Jakarta dengan cepat memilih untuk sibuk mengurus pencapresannya, dibanding urusan-urusan gubernuran,tanda-tanda terkena sindrom Glory Hunter seperti menemukan buktinya. Terlalu naïf jika atas nama partai lantas amanat masyarakat Jakarta diabaikan begitu saja. Glory Hunter masih jadi momok politisi kita, hingga dana milyaran tak jadi soal,untuk memburu jabatan publik. Entah di lingkup eksekutif atau legislatif.

Kondisi ini diperparah oleh pengurus partai yang pragmatis, membuat semua seolah-olah berjalan secara demokratis. Sebetulnya sudah lama kritik pedas ini dilontarkan para pengamat. Tapi atas nama hak asasi, tak bosan-bosan para pengurus partai menyediakan karpet merah untuk para caleg dari kalangan artis misalnya,sekedar untuk mendulang suara. Tak aneh, Senayan kerap menjadi pelabuhan para politisi kembang kertas –mereka enak diliat tapi tak punya “akar” ke bawah.

Menjadi tantangan para penyelenggara negara dan pengurus partai ke depan,bagaimana merubah imej politik sebagai arena pengabdian. Fakta jika yang melenggang ke Senayan kebanyakan pengusaha, menjadi tolok ukur kalau dunia politik banyak diwarnai  semangat transaksional. Faham ini akan menghasilkan orang, yang jika menang ingin tetap untung, namun jika kalah akan cepat mutung.

Penghitungan suara nanti akan menjadi pembuktian, apakah mental-mental Glory Hunter masih bersemayam dalam diri para politisi kita atau tidak. Apakah artis-artis yang tersingkir akan kembali ke dunia hiburan, atau akan terus jadi pengurus partai,dengan konsekwensi hidup sederhana. Apakah akan tetap normal,atau jadi linglung. Sementara cukuplah fakta-fakta berita ada sumbangan ditarik lagi, caleg gagal masuk perawatan rumah sakit karena depresi,dan uang sogokan diminta kembali, menjadi bukti jika sindrom ini telah menjangkiti banyak politisi di daerah#



Rhoma dan Pencapresan


Pagi, saat rencana pengunduran diri Rhoma Irama dari kursi calon presiden beredar,saya baru yakin inilah jalan paling baik bagi si raja dangdut. Di awal-awal ia maju sebagai capres, masih ada penghormatan itulah hak Rhoma sebagai warga negara. Meski sebagai penggemar Rhoma, saya tentu berharap ia masih mau berdiri di atas semua golongan dan parpol. Ini artinya, Rhoma jangan berafiliasi dengan parpol tertentu. Jangan mau terkooptasi oleh kekuatan tertentu. Rhoma adalah Rhoma,yang menyuarakan sikap politiknya berdasar kejujuran atas realitas yang ada.

Tanda-tanda jika angin baik tak lagi berhembus ke pihak Rhoma memang sedikit terasa,ketika hasil pileg diumumkan oleh lembaga-lembaga hitung cepat. Nama Rhoma seperti tenggelam dalam euporia para politisi, yang kasak kusuk saling incar kursi. Jangankan disebut sebagai calon presiden,seperti niat awalnya yang terbilang menggebu-gebu. Untuk kursi calon wakil presiden saja,nama Rhoma hilang. Mungkin pengurus parpol yang mengusung Rhoma bersikap realistis. Atau, jika pun ada peluang mengincar kursi cawapres,ketua umum parpol tempat Rhoma bergabung pun sepertinya berminat.

Rhoma tentu bukan harga mati.Seperti kata ahli politik Prusia-Jerman, Otto Von Bismarck (1815-1898), politik adalah seni memainkan segala kemungkinan. Semua masih ingat,bagaimana mantan walikota Solo selalu berujar tidak berambisi mengincar kursi DKI 1.”Wajah jelek begini kok ngincar kursi gubernur Jakarta. Ya,nggak mungkin,”katanya. Belakangan, saat kursi DKI 1 sudah ditangan, ketika ia ditanya soal pencapresan,selalu berujar,”Ndak mikir,ndak mikir...”. Tapi kemudian,publik akhirnya tahu.

Sudah diingatkan artis hanya dipakai parpol sebagai vote getter (pengumpul suara). Politik bukanlah dunia mereka,karena disini harus punya hati tega. Sementara seniman bermain dengan ‘rasa’.Partai tahu dan bisa memanfaatkan. Buktinya,banyak partai yang membiayai pencalegan artis hingga milyaran untuk maju jadi caleg.Jika jadi syukur,tidak juga tak apa-apa yang penting suara melonjak. Hitung-hitungannya, daripada membeli suara dari konstituen langsung dan itu bisa dianggap pelanggaran pemilu,lebih baik membiayai artis terkenal untuk “membeli” suara masyarakat.

Ini tentu saja bukan kabar angin. Meski untuk mengejar pengakuan para artis terasa musykil. Yang jelas, dari transaksi parpol dan artis,muncul pula makelar yang mencari calon-calon artis untuk dimasukan jadi caleg. Imbalannya,begitu dana operasional turun,sang makelar mendapat sekian persen sebagai komisi. Para makelar ini menyebar dalam berbagai profesi, utamanya mereka yang punya akses ke artis yang bersangkutan.Lengkap sudah praktik money politik dalam beragam modus.

Pola ini membuat fighting spirit para artis tenar tak begitu kuat.Mereka merasa nothing to loose. Jadi syukur. Tidak juga tak apa-apa.Toh semua sudah difasilitasi. Boro-boro menyiapkan diri secara intelektual untuk tugas-tugas anggota legislatif. Jika pun dewi fortuna berpihak ke mereka, keberadaannya di parlemen sekedar untuk pelengkap kuorum rapat. Hanya satu-dua yang mau dan bisa berbicara dengan konten berbobot. Lainnya memilih diam,sembari asyik menerima gaji bulanan tanpa kontribusi berarti.

Seniman harus jujur dalam berkarya.Maka saat masuk politik ia dipaksa berbohong,karena bohong adalah “Tuhan”nya para politisi. Sejak awal digaet parpol,Rhoma mestinya sadar ia bakal di manfaatkan.Bagaimanapun, pengalaman berpolitiknya cukup panjang dan mumpuni.Pernah di PPP,gabung ke Golkar,tapi semua membuatnya kecewa. Meski untuk itu Rhoma tidak “teriak” dan lebih memilih mundur dari dunia politik dan kembali berkesenian.

Sebagai calon presiden, modal Rhoma juga minim. Baik modal kapital maupun ideologi.Modal popularitas saja tak cukup mumpuni untuk mendongkrak elektabilitas. Justru popularitas Rhoma dimanfaatkan caleg parpol,untuk menaikan nama mereka dengan cara ikut dipasang gambarnya di spanduk-spanduk. Secara masif,nama Rhoma dijadikan ikon,untuk mengingatkan calon pemilih.Istilahnya,kalau mau mencoblos si Fulan,ya yang spanduknya ada gambar Rhomanya.Luar biasa.

Agak naif kalau parpol tertentu yang suaranya melonjak 100 persen di pileg kemarin karena kerja keras para kadernya.Parpol ini terkenal sebagai parpol lokal yang menasional. Artinya, menonjol hanya di wilayah-wilayah tertentu,yang banyak bermukim orang-orang penganut Nahdlatul Ulama. Kehadiran Rhoma, menimbulkan ‘efek Rhoma’ yang luar biasa. Jika ada hitung-hitungan ekonomi,berapa harga Rhoma untuk mendongkrak suara parpol yang bersangkutan?

Kalaua khirnya Rhoma berniat mundur,ini bukan kekalahan Rhoma. Ini kemenangan kebenaran. Dunia seni masih membutuhkan kiprah Rhoma. Lantaran seperti dunia dakwah, seni bersifat universal. Bahasa seni harus bisa diterima semua kalangan. Seniman yang terpenjara oleh warna baju,akan membuat geraknya menjadi terbatasi. Kursi presiden pun akan membuat kemungkinan serangan-serangan sistematis berdatangan,lantaran ideologi dan pilihan hidup yang dipilih Rhoma selama ini tak begitu populer di mata masyarakat.Misal pandangannya soal poligami.

Jika Rhoma kecewa,saya bisa mafhum. Boleh saja ia bilang,”Terlalu...”,untuk menggambarkan realitas politik yang ada. Tapi apapun,saya ingin mengutip statemen menarik dari film Kungfu Panda 2.”Ceritamu awalnya mungkin tidak menyenangkan.Tapi itu tidak berarti sudah menunjukan siapa kamu. Akhir cerita yang menentukan. Dan sekarang kamu yang menentukan akan jadi apa,”. Seperti kata Livius,sejarawan Romawi kuno,apa yang terjadi nanti malam belumlah pasti. Hari ini Rhoma sempat berencana mundur,meski kemudian ditangguhkan, dan siapa tahu nanti maju lagi. Tapi saya berharap ia tetap jadi seniman.Bukan politisi.

Saturday, April 12, 2014

Sepotong Sajak


Seberapa jauh sepotong sajak bisa mengubah keadaan atau bahkan memicu sebuah revolusi sebuah bangsa?Jelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru, ada satu penggalan penting tentang betapa takutnya seorang penguasa terhadap sebuah sajak. Kala itu, sajak berjudul “Peringatan” kerap dibacakan di depan massa demonstran. Sang penulis, Wiji Thukul, yang juga seorang buruh pabrik,tak putus-putus menyuarakan keresahannya dengan kata-kata keras dan tegas. Dan penguasa mendengarnya dengan seksama. 

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan.Dituduh subversif dan mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata:lawan!” 

Wiji akhirnya menjemput takdirnya sebagai martir. Hingga kini nasibnya tak diketahui, masih hidup atau sudah meninggal. Nasib Wiji,memang berbeda dengan penyair besar almarhum WS. Rendra. Sajak “Sebatang Lisong” karya Rendra tak kalah keras menohok penguasa Orde Baru. Penyair berjuluk ‘Si Burung Merak’ ini memang sempat dipinggirkan. Pentas-pentasnya dilarang. Hak ekonominya dicabut. Sampai-sampai, Rendra harus bekerja kantoran,sekedar untuk bertahan hidup. 

Kerja kantoran Renda, tentu bukan laiknya para pekerja masa kini. Ia hanya memenuhi tawaran teman-temannya yang kasihan,karena kepenyairannya dibungkam. Kondisi ini berimbas pada asap dapurnya. Rendra jadi pajangan di kantor. Saban pagi naik Datsun,ngantor sejenak,sekedar menunggu angin baik saat ia bisa kembali pentas. Mungkin karena nama besar Rendra yang sudah menasional, hingga penguasa takut untuk “melenyapkannya”. 

Efektifitas sajak sebagai palu godam untuk menggedor tebalnya pintu kekuasaan memang terasa berbeda,ketika zaman masih diliputi kegelapan. Sastra menjadi “pedang” bermata ganda. Ia bisa menjadi katarsis dari sumpeknya jiwa yang dibelenggu tanpa sebab,dan disisi lain dapat menggambarkan realitas yang kerap ditutup-tutupi sekuat daya oleh sebuah rezim.“Menghisap sebatang lisong,melihat Indonesia Raya,mendengar 130 juta rakyat, dan dilangit dua tiga cukong mengangkang,berak di atas kepala mereka,”kata Rendra. 

Kesadaran pentingnya karya sastra untuk memotivasi perubahan politik,ditangkap sebagai ancaman dan hal ini banyak terjadi di berbagai negara penganut komunisme.Sastrawan peraih Nobel tahun 1958, Boris Pasternak, harus jatuh miskin lantaran buku-buku kumpulan sajaknya dilarang terbit oleh pemerintah Uni Sovyet. Tak banyak penghormatan saat Boris meninggal 30 Mei 1960 di rumahnya,kecuali belakangan setelah era glasnot dan perestroika berhembus, Boris Pasternak dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan dan teror. 

Vaclac Havel mungkin lebih beruntung. Puisi-puisinya yang keras terhadap sistem komunisme, menghantarnya meraih popularitas tinggi usai komunisme hancur di Eropa Timur. Vaclac satu-satunya sastrawan yang sukses di dunia politik, dan menjadi Presiden Ceko dari 1993-2003. Wiji, Rendra,Boris dan Vaclac, menjadi contoh betapa sastra dan kekuasan diletakan dalam sebuah teater kehidupan yang mengusung idealisme dan nilai-nilai dasar kemanusiaan kita. 

“Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berfikir, bila terpisah dari masalah kehidupan,”teriak Rendra. 

Tentu karya sastra dan sastrawan tak imun dari godaan yang membuatnya terjerumus dalam kepentingan politik golongan.Munculnya Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra yang didirikan oleh DN Aidit 17 Agustus 1950, menjadi era paling menyedihkan dari reputasi sastra sebagai alat pembebasan. Keberpihakan sastra dipertanyakan,terlebih banyak tekanan terhadap mereka yang enggan bergabung dengan Lekra. Musim yang buruk itu menjadi titik paling kelam dalam sejarah perjalanan bangsa kita,khususnya di dunia kesusastraan. 

Maka saat para politisi saling berbalas sajak jelang Pileg dan Pilpres 2014, ada pertanyaan besar menggantung, seberapa jauh hal itu menggambarkan kondisi riil masyarakat kita. Memang, di satu sisi, gairah dan perhatian massa terhadap karya puisi dan sajak kembali menjelma. Selama ini, ketika era reformasi orang bisa bicara apa saja,kata-kata indah dalam rangkaian sajak tak lagi mendapat tempat layak. Ishadi SK, pakar komunikasi yang juga petinggi sebuah stasiun TV swasta,saat meluncurkan buku kumpulan puisinya, sampai-sampai ‘hanya’ menjadikan puisi sebagai hadiah untuk ulang tahun istrinya,lantaran murah meriah. 

Mungkin tuntutan saya terlalu berlebihan. Tapi ketinggian marwah sajak sebagai alat tohok penguasa lalim, menuntut kita semua untuk terus menerus mengingatkan,ketika akhirnya ada yang menggunakan sebagai alat politik jangka pendek. Bagaimanapun, sepotong sajak telah membawa kita pada kekaguman terhadap Pangeran Diponegoro misalnya, yang digambarkan bersenjatakan keris dan pedang,dengan semangat yang tak bisa mati. Atau sajak yang menggugah semangat juang,seperti Karawang-Bekasinya Chairil Anwar. 

Jika kebebasan berkreasi menjadi alasan dasar, ada baiknya masing-masing pihak mengadakan lomba pembacaan sajak saja di tiap kecamatan. Hadiah besar sediakan. Peserta harus membaca sajak wajib berjudul “Sandiwara” atau “Sajak Tentang Boneka”. Pihak lainnya usung sajak berjudul “Pemimpin Tanpa Kuda”. Cara ini,selain membuat gairah bersajak semakin menggelora, hadiah yang ada juga bisa menjadi tambahan beli beras dan mentraktir kawan. Ini lebih bermanfaat,daripada ribut di televisi tak berkesudahan. Tabik!

Saturday, March 29, 2014

Empat Jempol Buat Giring

“Bokap gue wartawan.Makanya gue respek banget ama profesi ini.Karena dari dunia jurnalistik gue dibesarkan dan bisa seperti sekarang ini,”kata Giring,vokalis grup Band Nidji,awal Maret 2014 kemarin. Sejenak,ada desiran aneh yang menjalari urat-urat kalbuku. Antara haru dan senang. Namun tanpa ragu, aku tepis jauh-jauh rasa itu, dan segera aku alihkan pembicaraan ke topik lain. Aku tak mau terlalu sentimentil mendengar empati Giring.

Sore di Kawasan Kota Tua Jakarta, deru mobil dan motor masih terdengar garang. Hari itu, Giring memang menjanjikan untuk bertemu. Awalnya, saya kesulitan mengontaknya. Dua kali saya telepon, Giring tidak mengangkatnya. Aku sempat bertanya pada seorang tukang parkir, di mana grup band Nidji sedang syuting video klip. Juga seorang penjual siomay,yang mangkal di depan pintu masuk Kawasan Kota Tua.

“Tadi sih ada orang nenteng kamera.Tapi nggak tahu mau syuting dimana,”kata si penjual siomay. Tak berselang lama, ponsel aku berdenting. Giring mengaku sedang berada di Museum Bank Mandiri. Aku tanyakan lokasinya pada tukang parkir. Dalam satu lesatan pandang,aku melihat di atap Museum Bank Mandiri, para personil grup Nidji sedang sibuk diambil gambarnya.

Cukur Rambut
“Aku meluncur bro ke Museum Bank Mandiri,”balasku. Berjalan melawan arus, aku menuju museum. Aku tanya pada pak satpam bagaimana caranya naik. Usai diijinkan, aku segera masuk. Tapi baru naik satu lantai, perutku bermasalah. Aduh, ada-ada saja. Mana bingung mencari kamar kecil. Setelah aku tanya pada tiga orang ibu yang sedang asyik berfoto, kamar kecil yang cukup kotor itu aku temukan.

Tapi ritual alami itu mendadak berhenti. Ponselku berdering dan di ujung sana, Giring bilang sudah berada di luar gedung. Ia mau keluar sebentar.Ada keperluan mendesak.Aku diharuskan ikut. Alamak. Lagi enak-enak,malah dipanggil.”Saya tunggu ya mas?Kita cukur rambut dulu,”katanya. Terpaksa aku segera bergegas. Memakai celana,setengah berlari,dan dari lantai dua, aku lihat Giring sudah berdiri di pinggir mobil Hyundai H-1 sambil tangannya dimasukkan ke saku celana .

“Hoi,mas...tunggu ya?”kataku.

Uluran tangannya aku sambut. Usai bersalaman, aku dan Giring masuk mobil,  ditemani seorang road manajer berambut kriwil. Giring bilang, ia akan mencari tukang cukur. Tadi pagi ia marah banget,karena hair style-nya salah memotong rambutnya.”Sampai sekarang masih gondok.Sudah saya bilang jangan dipotong ini-nya (sambil tangannya memegang rambut bagian belakang),saya sambil telepon,eh,tahu-tahu langsung dipangkas.Khan nggak enak dilihat dikamera?”ujar Giring.

Situasi jalanan saat itu sangat ruwet. Macet dimana-mana.Apalagi di sekitaran Harmoni. Si sopir sampai harus meminggirkan mobil berbadan bongsor yang dibawanya lebih mepet,sekedar bertanya pada tukang parkir dimana salon terdekat dari Museum Bank Mandiri. Setelah lelah berputar-putar,kami akhirnya menemukan salon. Giring disambut seorang perempuan muda, yang sangat lihai memangkas rambut.

Untunglah suasana salon sangat sepi.Ditemani dua gelas kopi pahit,tak henti-henti Giring memandu sang kapster,agar tidak salah pangkas lagi.”Coba kacanya.Aku ingin lihat belakangnya,”katanya.

Tak luput, si kapster juga terus menggoda. Mungkin baru kali ini ada vokalis band terkenal mampir ke tempat kerjanya.Suasana jadi ramai. Waktu setengah jam hampir tak terasa. Rasa kopi pahit yang semula panas,kini mulai mendingin. Tapi suasana tetap hangat. Apalagi saat Giring cerita soal istrinya yang dinikahinya dengan status janda. Si kapster langsung nyeletuk,”Saya juga janda lho mas...akakakak,”.Ampyuuun....

Usai pangkas, Giring minta kontak si kapster.Rencananya,kalau di lokasi syuting nanti masih terlihat jelek,ia akan memanggilnya. Namun tak cukup itu. Si enchi pemilik salon,rupanya sejak tadi menunggu pekerjaan anak buahnya kelar. Begitu mau pulang,ia mengkomando anak buahnya untuk foto bareng. Giring dengan senang hati memenuhinya.

“Buat kenang-kenangan,”kata si Enci,malu-malu.

Kami meninggalkan salon dalam kondisi perut lapar. Mas road manajer menawari kami masuk Bakmi Gajah Mada. Tapi Giring menolak. Akhirnya, sambil terus bercanda di dalam mobil, mas road manajer membeli dua nasi goreng dan dibungkus. Menjelang maghrib, rumah makan Bakmi Gajah Mada kami tinggalkan. Di dalam mobil,nasi goreng itu kami sikat. Jujur saja,sebetulnya aku masih kenyang.Makanya tak colek sedikit saja.

Cerita Istri
Dalam perjalanan menuju Museum Bank Mandiri, Giring banyak cerita soal istrinya. Aku melihat,ia tipe orang yang terbuka,jujur dan apa adanya. Bahkan sepanjang obrolan yang lebih banyak disertai guyonan itu, Giring mau bercerita tanpa tedeng aling-aling.  Termasuk keputusannya menikahi Chintya,istrinya yang seorang janda beranak satu. Tentu banyak kerikil yang harus ditaklukan.Banyak ujian yang mesti dihadapi.

“Pokoknya kasihan deh, istri saya saat masih belum saya nikahi,”kata Giring.”Orang tua saya menolak. Bahkan banyak fitnah berseliweran,menuduh dia perempuan nggak bener. Padahal saya menikahi dia,karena dia baik banget. Sampai sekarang,saya tak pernah mendengar ia mengumpat kalau sedang jengkel,”sambung Giring.

Memang, ketika akhirnya ia menikah,sempat terjadi shock cultur. Dari biasa tidur sendiri, tiba-tiba ada anak umur 3 tahun yang muncul dikamar tidurnya,selain istrinya. Beruntung,pelan-pelan Giring mulai menemukan cara menghadapi anak balita. Dalam perjalanan waktu,Zidane,anak tirinya,kini malah tak tahu ayah biologisnya,dan menganggap Giring sebagai ayah kandungnya.

Begitu pula ibunya,yang semula menolak Chintya. Kini berbalik sayang. Kata Giring,kuncinya mengenal dengan baik.”Saya jadi percaya pepatah,tak kenal maka tak sayang. Dulu orang tua menolak,karena mereka nggak kenal. Setelah tahu istri saya dari A sampai Z,hubungan orang tua dengan istri langsung mencair,”ujar Giring.

Saat bercerita ayahnya yang sudah almarhum, Giring tiba-tiba terhenti. Kalimatnya terbata-bata. Ia lantas mengeluarkan kalimat, seperti yang aku tulis di awal cerita. Giring menambahkan, ayahnya meninggal akibat stroke,karena bekerja terlalu keras untuk menyelamatkan majalahnya dari terpaan krisis ekonomi.”Ayah tidak mau majalah itu mati, dan berdampak pada karyawan dan wartawannya,”kata Giring lirih.

Gelap mulai menggelayut,saat mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di Museum Bank Mandiri. Jalanan sudah mulai lengang. Giring berjanji akan mengirim foto. Kami berpisah, setelah saling berjabat tangan. Ia membungkuk,dan aku jabat tangannya sambil membungkuk juga. Nasi goreng yang sejak tadi kupegang,aku berikan pada seorang bapak yang sedang menunggu penumpang di dalam bajajnya.


Hari ini,jujur saja, saya baru mendapat pelajaran penting soal kerendahatian dan penghargaan. Dengan segala atribut yang melekatnya, Giring terlihat beda. Saat kesuksesan dan kekayaan kerap mengubah seseorang menjadi pribadi yang arogan dan memandang rendah pihak lain, Giring memaknainya dengan kapasitas yang tidak dimiliki musisi lain.Saya bersyukur bisa mengenal dan mengawalnya raun-raun di sekitaran Kawasan Kota Tua,Jakarta, meski tak lama. Empat jempol buat Giring#

Jalan Sunyi


Syahdan,suatu hari almarhum mantan Presiden Gus Dur mengajak dua temannya menemui seorang waliyullah di sudut Kota Baghdad,Irak. Saat itu, Gus Dur masih menuntut ilmu di Timur Tengah. Dalam perjalanan spiritual itu, mereka sempat menjumpai seseorang dengan jubah panjang,dahi hitam dan jenggot menjuntai.Orang itu sedang tekun berdzikir.Sang teman bertanya,itukah wali yang dicari?”Bukan,”jawab Gus Dur pendek.

Sembari tersaruk-saruk, mereka terus melanjutkan perjalanan. Tak lama,disatu majelis, ditemui seseorang yang sedang berapi-api memberikan tausyah. Serbannya menggelantung indah. Air mukanya bersih.Sang teman lantas memastikan,itukah waliyullah yang hendak dituju Gus Dur? Sambil berbisik, Gus Dur menyahut,”Bukan,”.Mereka lantas melanjutkan perjalanan.

Disebuah keramaian,di tengah deretan toko, tiba-tiba Gus Dur memperlambat langkahnya. Di depan mereka,ada seorang laki-laki dengan baju kumal,yang sedang duduk di depan toko. Laki-laki itu sedang mencari angin. Tiba di depan orang itu, Gus Dur mengucap salam. Setelah basi-basi sejenak, Gus Dur meminta didoakan oleh orang yang dipanggilnya ‘syeh’.Tak lupa, Gus Dur berbisik pada temannya,kalau itulah waliyullah yang dicari.

Melihat Gus Dur tahu jatidirinya, si syeh nampak terkejut. Tapi mau tak mau ia akhirnya mendoakan, sambil tak lupa berguman,”Ya,Allah.Dosa apa saya hingga orang ini tahu,”. Gus Dur tersenyum kecil,sambil mengamini doa yang dipanjatkan orang itu. Di kalangan kaum spiritualis, si syeh dikenal telah memilih ‘jalan sunyi’, berbeda dengan para alim lain yang beramai-ramai menunjukkan penguasaan ilmunya.

Belum lama saya diundang diskusi iklan oleh Irwan Hidayat,pengusaha jamu terkenal. Ia akan merilis iklan berjudul “memaafkan”. Iklan ini berkisah tentang sosok Suroto dan Elisabeth Diana, orang tua dari almarhumah Ade Sara Angelina, yang dibunuh oleh teman SMA dan bekas pacarnya, Hafidt dan Assyifa. Saat iklan itu diputar,tak terasa bulir-bulir air mata jatuh dari sudut mata saya. Ada kesedihan melanda.

Sesungguhnya rasa haru bukan semata kenapa Ade Sara harus terbunuh sia-sia, dari sosok yang mestinya tidak melakukannya. Tapi pilihan pasutri Suroto dan Elisabeth Diana,dengan kekuatan iman Kristianinya, untuk memaafkan Hafidt dan Assyifa yang telah menghilangkan nyawa anak tunggalnya, menjadi daya dorong yang berhasil meruntuhkan bendungan air mata saya. Mungkin jika kejadian itu menimpa anak saya, ceritanya menjadi berbeda. Tapi, Suroto dan Diana telah memilih ‘jalan sunyi’.

‘Jalan sunyi’ sejatinya jalan para wali dan resi.Jalan yang tidak dipenuhi taburan mawar dan puja puji.Inilah jalan yang ditempuh juga oleh Syeh Abdul Qodir Jaelani,seorang wali besar yang bertahun-tahun mengasingkan diri di hutan belantara untuk membersihkan hatinya. Jalan yang dikalangan wali songo pernah dilakoni Sunan Kalijaga,dengan bertapa di sisi kali sebelum pintu pencerahan batin digapainya.

Semua agama mengajarkan,namun hanya sedikit yang mau memilihnya. Betapa banyak sanak saudara yang memilih memelihara dendam,dan terperangkap dalam sakit hati bertahun-tahun,ketika anak atau orang tua dibunuh oleh orang lain. Padahal ketika Suroto dan Elisabeth Diana memilih untuk memaafkan,saat itulah cerita sesungguhnya sedang bergulir. Cerita dua orang sederhana,yang memiliki jiwa agung dan pantas menjadi teladan.

Tiap hari infotainment ramai dengan konflik. Saling bantah,gede-gedean omong,meski kualitas pembicaraannya bak pepatah esuk tempe,sore dele.Tak ada yang konsisten. Musim kampanye dimana-mana umbar janji,saling jatuh menjatuhkan,memutihkan diri sendiri dengan menghitamkan orang lain.Bahkan tak jarang membuat janji untuk bikin jembatan,meski tahu di tempat itu tak ada sungai mengalir.

Baru-baru ini kita melihat,seorang tabib yang mengaku ustaz,satu persatu aibnya dibuka oleh Allah,lantaran meninggalkan ‘jalan sunyi’. Dituduh menipu,digugat melakukan pelecehan seksual,saat popularitas didapat setelah getol mendatangkan infotainment untuk meliput aktifitasnya,bahkan saat bermain-main layangan di tepi pantai. Berapa banyak lagi orang-orang yang mengalami nasib naas seperti ustaz kita tadi, tak terhitung, silih berganti datang dan pergi.

‘Jalan sunyi’ ada,dan itu menentramkan batin. Kita bisa tanya Aa Gym bagaimana rasanya setelah kini memilih ‘jalan sunyi’. Coba korek Dewi Hughes, yang kini menjauhi kamera dan rajin menyisir sekolah-sekolah PAUD di jalur Pantura, Jawa Tengah, untuk menolong keuangan para guru PAUD. Popularitas dan puja-puji adalah racun sukma. Ia akan mendatangkan bala,ketika kita tak pandai mengelolanya.

Para politisi mungkin perlu untuk sejenak mampir di ‘jalan sunyi’. Merenung kembali sumpah yang telah terucap untuk menjabat lima tahun dan kini akan ditinggalkan meski belum genap memenuhi janji. Mengevaluasi lagi apa-apa yang sudah dijanjikan,dan kini telah dimasukan laci meja dengan alasan itu janji politik. Atau jika perlu,meluruskan kembali niat dan memperbaharui sikap yang suka sok suci dan tak mau mengalah.

Pasutri Suroto dan Elisabeth Diana,serta beberapa yang lain pemilih ‘jalan sunyi’,telah menebar ilmu hikmah yang tak terperi pada kita yang mau belajar. Tak banyak orang yang mau bertindak seperti ragi –mengubah singkong menjadi tape secara diam-diam. Tanpa tempik sorak dan sorotan kamera. ’Jalan sunyi’ hakikatnya pengejawantahan tiga pusaka kebajikan,yang diajarkan Rosul Muhammad yaitu merahasiakan keluhan,merahasiakan musibah dan merahasiakan sedekah.

Jika kesunyian abadi belum tiba mendatangi kita,dus artinya kita masih punya kesempatan,kenapa kita enggan untuk sesekali mampir ke ‘jalan sunyi’?Kenapa?

Thursday, March 20, 2014

Tujuh Satria Piningit



Pagi-pagi,usai Jokowi diperintahkan Megawati untuk nyapres, Jum’at (14/3) lalu, betapa riuh rendahnya dunia sosial media dengan aksi saling dukung dan telikung. Penelikung Jokowi kecewa,karena ia melanggar sumpah jabatan untuk menjabat Gubernur DKI Jakarta selama 5 tahun. Masih banyak pekerjaan belum terselesaikan. Sementara pendukungnya lebih pragmatis;kesempatan tidak datang dua kali.

Status di Blackberry, foto-foto display picture,tak urung dari aksi pro dan kontra. Jokowi jadi trending topic. Apalagi setelah Prabowo galau dan menggugat kesepakatan Batu Tulis, yang berisi perjanjian Megawati untuk mendukung Prabowo nyapres di 2014. Tak ayal, hari-hari belakangan, semua orang seperti jadi pengamat politik dadakan. Harga elpiji naik,Jakarta yang belum aman dari banjir,macet dan kriminalitas, sejenak terlupa kan.

Saya sebetulnya tak mau ikut-ikutan rempong soal pencalonan Jokowi. Namun dalam perjalanan Jakarta-Cijeruk,Bogor,Minggu (16/3) kemarin,tiba-tiba tema ini muncul mendadak. Seorang teman,ustaz dan penghayat budaya Jawa,mencoba mengidentifikasi siapakah sesungguhnya sosok satria piningit ketujuh,yang bakal memimpin Indonesia dan jauh-jauh hari sudah diramalkan oleh Ronggowarsito.

Namanya ramalan,mau percaya monggo.Tak percaya tak mengurangi pahala.Raden Ngabehi Ronggowarsito memang menyebut tujuh satria piningit yang bakal memimpin republik tercinta ini.Enam sudah menjabat, tinggal satrio piningit ketujuh yang masih jadi teka-teki.Prabowo atau Jokowi. Atau ada kuda hitam yang meroket di hari-hari terakhir pemilihan presiden.

Soekarno disebut dalam ramalan Ronggowarsito sebagai satrio kinunjoro murwo kuncoro. Seorang pemimpin yang keluar masuk penjara tapi berhasil membuat nama Indonesia menjulang dan mampu membongkar penjajahan Belanda. Lahirlah proklamasi.

Penggantinya,Soeharto, konon identik dengan satrio mukti wibowo kesandung kesampar.Inilah pemimpin yang berhasil membawa kemuliaan negeri. Sampai-sampai,sekarang pun masih ada yang  terobsesi kembali ke zaman orde baru, dengan tagline ‘enak jamanku tho’. Memang di akhir masa pemerintahannya, ia banyak kesandung kesampar. Banyak kena masalah. 

Satrio jinumput sumelo atur diidentifikasikan sebagai BJ. Habibie. Ia terambil untuk sementara waktu,menjembatani presiden periode berikutnya. Saat Gus Dur naik,inilah satria piningit yang disebut oleh Ronggowarsito sebagai satrio topo ngrame wuto ngideri jagat. Kekurangan dalam penglihatan, tak menghalangi ia dalam waktu singkat berkelana ke berbagai pelosok tanah air dan dunia.

Mega muncul dan ia konon sesuai dengan ramalan sebagai satrio piningit hamong tuwuh. Seorang pemimpin yang membawa karisma karena keturunannya (hamong tuwuh). Ia digantikan oleh satrio boyong pambukaning gapuro. Tokoh yang berpindah tempat (boyong dari menteri menjadi presiden),sebagai pembuka gerbang zaman keemasan.

Presiden setelah SBY, diidentifikasi sebagai satrio pinandito sinisihan wahyu. Ia berjiwa satria,tapi relijius. Saking relijiusnya maka disebut pinandito sinisihan wahyu. Konsep satria pinandito sinisihan wahyu, tak hanya untuk presiden.Bisa juga satu paket dengan wakilnya.Jika tepat, mereka akan membawa Indonesia ke arah kemakmuran.

Bisa saja yang terpilih bukan satrio pinandhito sinisihan wahyu. Indonesia bisa terus berjalan,tapi banyak goncangan. Bak sekrup yang tidak pas di sepeda motor. Si motor masih bisa lari, tapi bakal tidak stabil dan penuh goncangan.Satrio piningit ketujuh ini laiknya sosok seperti Joko Tingkir. Orang yang kuat berfikir (think) dan berdzikir. Bersih tak punya kepentingan pribadi apalagi partai.

Pemilihan cawapres menjadi penting,jangan sampai muncul matahari kembar. Dulu ada Mega dan Tutut. Lantas Habibie  dan Try Sutrisno. Mereka berlomba-lomba “naik” dan berebut pengaruh. Siapa yang punya potensi menjadi satria piningit berikutnya, ia berpotensi menjadi Ratu Adil.

Tentu saja  Ratu Adil yang terlihat dari perbuatannya.  Bukan seperti Raymond Westerling, yang membabi buta dengan APRA-nya alias angkatan perang ratu adil. Mungkin Westerling pernah membaca buku babon,yang mengidentifikasi Ratu Adil sebagai orang Belanda keturunan Turki. Tapi ternyata membawa kerusakan. Ratu Adil dinilai dari kemaslahatannya terhadap rakyat.

Jika melihat dua kandidat terkuat;Jokowi dan Prabowo,lantas siapakah yang paling mirip dengan kriteria satrio pinandhito sinisihan wahyu versi Ronggowarsito? Ini memang mirip tebak-tebak buah manggis,meski kadang lembaga-lembaga survey sudah memastikan si A pasti jadi,dengan berbagai kombinasi prosentase perolehan suaranya.

Kalau perjanjian batu tulis menyeruak jadi amunisi untuk menyerang pihak lain,sesungguhnya kita sudah mulai disuguhi pertempuran kecil,sebelum pertempuran demi pertempuran lain bakal terjadi,untuk memenangi peperangan. Naskah batu tulis memang jadi tolok ukur penting,seberapa jauh seorang pemimpin bisa konsisten menegakan moralitas diri.

Dalam kosmologi budaya Jawa,yang diucapkan seorang ratu adalah iduh geni. Sabda pandita ratu. Apa yang terucap adalah undang-undang. Harus ditepati. Kalau diingkari, akan kena tulah.Jika bukan tulah pribadi,Indonesia akan terus dirundung masalah.

Namun apapun hasilnya,lantaran pertarungan belum selesai, silahkan saja para pendukung  masing-masing capres beradu kreatif di dunia maya. Yah,lumayan buat hiburan ditengah kemacetan Jakarta yang sering bikin stress.