Daftar Isi

Thursday, March 20, 2014

Stiker


Di tengah hujan rintik-rintik, saat kemacetan hebat sedang melanda jalan Mampang Prapatan,Jakarta Selatan, peristiwa sepekan lalu ini terjadi secara cepat.Sebuah sepeda motor dengan stiker bertuliskan sebuah keluarga besar satu kesatuan TNI, berusaha mencari celah jalan. Saya meyakini ia adalah aparat,karena laras pistol di pinggang nampak menyembul dari balik jaketnya.Mungkin karena kurang cepat menginjak rem, sebuah sepeda motor di samping saya terlanjur maju, dan rodanya yang basah menyentuh celana si tentara.Ya,hanya menyentuh,tidak menabrak.

Tapi adegan berikutnya sungguh diluar nalar. Tanpa ampun, pemilik motor berstiker TNI itu menendang keras roda motor si laki-laki malang yang terlambat menginjak rem. Tak cukup itu, bogem mentah segera melayang ke helm.Buk! Saat ada jalan kecil terbuka,laki-laki penabrak celana itu mencoba menyelinap. Seolah tak mau buruannya lenyap,si laki-laki bertubuh tegap itu terus mengejar,menabrak roda belakang sambil mengeluarkan sumpah serapah. Dari tengah keriuhan suara mesin mobil dan motor,saya masih mendengar suara permintaan maaf,tapi semua tak ada guna.

Sesungguhnya, saya pastikan,ini bukan peristiwa pertama kali terjadi. Jalanan Jakarta kini seperti hutan rimba.Mungkin jika tak ada hukum yang berlaku, siklus rantai makanan seperti yang berlaku di dunia binatang akan dianut juga. Tapi di jalanan,  dalam tindak yang paling sederhana, tabiat tanpa perikemanusiaan seolah sudah menjadi kebiasaan. Mungkin di sinilah lantas timbul pertahanan diri,berupa warning sejak awal, yang termanifestasi dalam bentuk stiker.

”Anda jangan macam-macam dengan saya ya? Saya ini anggota perkumpulan pendekar Banten lho,”mungkin inilah pesan yang ingin dilontarkan,jika ada motor atau mobil yang memasang stiker, “Keluarga Besar Pendekar Banten”.Kali lain, ada yang memasang stiker “Paspampres”,”Keluarga Besar Mabes Polri”,”Pemuda Pancasila”, atau yang agak intelek,”Ikatan Dokter Indonesia”. Lucunya,tak ada yang mau memasang stiker yang bisa mengundang tawa,misal,”Anggota Asosiasi Pelawak Indonesia”.

Sebagai jurnalis, tak bisa dipungkiri, saya juga sempat tergoda untuk memasang stiker “pers”.Ya, minimal ketika akan diberhentikan saat ada operasi lilin, siapa tahu pak polisi mau bermurah hati meloloskan.  Jika pun polisi masih tega memberhentikan, setelah melihat stiker “pers”, niat untuk menilang jadi urung. Tapi timbang punya timbang, niat itu hingga kini tak kuwujudkan,lantaran saya tak ingin dicap menjadikan kolektivitas profesi sebagai daya tawar untuk sebuah pelanggaran hukum.

Saya tak hendak mengatakan,jika pemasangan stiker identitas  adalah naif dan menunjukan ketidakpercayaan diri. Dalam kasus sang serdadu yang mengejar buruannya seolah ia musuh negara yang mesti dilenyapkan, kondisi problematik kejiwaannya bahkan lebih akut lagi. Fungsi pembinaan mental prajurit mungkin hanya seremonial belaka.Kondisi ini seolah membenarkan joke yang biasa ditujukan ke alat negara kita.”Bergaya di masa damai,mati di masa perang”. Nampak gagah dan seram di mata rakyat,tapi tak berdaya di depan musuh bangsa.

Stiker, entah nama organisasi negara,atau omas bentukan swasta, dalam berbagai bentuk dan tampilan,jika sudah digunakan sebagai identitas di kendaraan, sudah pasti menunjukan kelemahan hati. Susahnya, gejala ini tak hanya menyerang kalbu masyarakat biasa. Dalam kasus-kasus tertentu, ulama sebagai “dokter” yang menyembuhkan penyakit mental, juga ikut-ikutan mengalami krisis identitas diri. Jika sudah begini, susah rasanya menerima ilmu, hikmah dan makrifat, lantaran hatinya masih belum tertata.

Siapakah yang mesti digugat?Mengeluarkan peraturan daerah larangan memasang stiker kelompok,rasanya tidak perlu. Selain tidak efektif,ia bisa mematikan pengusaha stiker. Atau minimal mengurangi laba koperasi sebuah institusi,yang sengaja membuat dan mengedarkan stiker narsis. Lagi-lagi, fungsi kemanusiaan kitalah yang bisa menimbang.Bahwa teori kebutuhan penghargaan ala Abaraham Maslow,sejatinya tak bisa dituai hanya dari sebuah stiker kesatuan,tanpa implementasi nilai-nilai persaudaraan dan welas asih.

Dalam gambaran saya, konsep pertahanan rakyat semesta TNI yang melibatkan seluruh rakyat,akan rapuh jika perilaku seperti kejadian di atas terus dibiarkan.Ah,boro-boro kita mau bantu. Mereka kerepotan menghadapi musuh,ya biarkan saja,karena sudah terlanjur pernah menyakiti. Pertanyaannya, jika melihat kondisi sosial politik dan pertahanan kita yang masih adem ayem,mungkinkah perang besar yang bakal menguji nyali serdadu kita bakal terjadi dalam waktu dekat?

Tentu tak semua stiker kelompok masuk kategori tak berguna. Trend penghuni komplek perumahan sekarang juga mengeluarkan stiker internal. Ini berfungsi identifikasi. Bukan intimidasi. Apalagi gagah-gagahan,biar tak ada orang yang sembarangan menyenggol. Tidak pula seperti kebiasaan rumah makan etnis tertentu, yang selalu memasang foto orang berseragam, supaya dikira masih punya famili. Dus,preman dan pengamen tak bakalan berani mengutip uang jago.

Stiker, pada akhirnya seperti pisau bermata dua. Meski untuk apa pula ketinggian kemanusiaan kita,hanya dihargai sebatas stiker? Apalagi untuk menakut-nakuti. Padahal jika mau kreatif sedikit, stiker juga bisa menjadi ladang amal. Mau tahu, dan ini benar-benar saya temukan di mobil, saat melintas di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan. Bunyinya,”La Tahzan,Innallaha Ma’ana.Janganlah kamu berduka cita,sesungguhnya Allah beserta kita,”. Kalau membaca stiker terjemahan Al qur’an Surat At-Taubah ayat 40 ini,rasanya hati menjadi tentram bukan? Jadi bijaklah dalam berstiker ria..


Monday, March 3, 2014

GELAR



Dua minggu belakangan, banyak undangan mampir ke rumah. Ada yang mengkhitankan anaknya. Beberapa bakal naik pelaminan. Tak hanya bentuk undangan secara fisik, ada pula yang hanya lewat Blackberry Messenger (BBM). Tentu saja diawali dengan permohonan maaf, jika undangan lewat BBM itu dilakukan karena keterbatasan waktu dan tenaga. Sambil tak lupa meminta, undangan gaya baru itu anggap saja seperti undangan dalam bentuk cetak.

Ini bulan baik dan hari baik untuk menikah.Ada ilmu petung, yang menurut khasanah Budaya Jawa,atau dalam segi-segi tertentu menurut kepercayaan agama, bisa mendatangkan barokah jika mengadakan hajatan di bulan ini.Mungkin saja. Walau banyak juga yang sekedar ikut trend,karena aneh rasanya jika mengadakan hajatan di bulan lain.

Sekarang mari kita lihat, apa yang tertulis di dalam undangan. Dulu sempat ada rangkaian kalimat,yang "mendikte" kita untuk tidak memberikan kado. Bunyinya,”Dengan tidak mengurangi rasa hormat,sudilah kiranya bapak/ibu tidak memberikan sumbangan dalam bentuk kado,”.Begitulah kira-kira redaksionalnya. “Petunjuk” ini memang sempat menimbulkan pro dan kontra. Ada sindiran keras, situ yang nikah, kok, kita yang disuruh bayar. Namun berangsur-angsur, belakangan ”titah” itu akhirnya lenyap.

Penyebabnya kira-kira begini. Sekarang orang sudah ogah membawa kado ke arena pernikahan. Sudah berat, membungkusnya juga susah. Belum kalau ke tempat resepsi pernikahan naik motor. Repot bin njlimet. Sebab lain, membawa uang lebih praktis. Atau bagi mereka yang nakal, kondangan hanya bermodal baju batik dan celana hitam pun cukup. Di kotak tinggal masukan amplop tanpa nama, sekaligus tanpa isi. Bukankah sang pengantin tak mungkin protes, meski jatah makanannya sudah berpindah ke perut tamu undangan tak tahu diri itu?

Oke, soal kado sudah selesai masanya. Tapi ada hal menggelitik lain, yang sering membuat saya termenung-menung. Pernah lihat undangan yang nama mempelainya mencantumkan gelar akademis berderet-derat? Ir, SH, MA atau DR. Tak ketinggalan haji.Misal, menikah Fulan,SH,MA dengan Fulani, A.Md,S.Ag.  Pertanyaan saya, ini undangan pernikahan atau kegiatan akademis?Semacam presentasi keilmuan yang digeluti si pengundang? Atau mungkin dengan undangan itu,katakanlah ada pesan, jika yang mengundang adalah seorang intelektualis?

Gelar akademis, juga gelar lain yang non akademis, termasuk haji,ustaz atau kyai, memang masih dipandang sebagai pelengkap sosial untuk menunjuk di kelas mana seseorang berada. Ini pikiran yang secara substantif dipengaruhi budaya feodal. Saya tidak mengatakan bahwa ini salah. Tapi dalam kondisi tertentu, kita sering mencantumkan gelar secara keliru. Istilah orang-orang tua kita; tidak empan mapan.

Betul jika kita telah berjuang keras meraih gelar itu. Habis waktu,pikiran dan dana agar diwisuda. Jual sawah,kebun atau menghabiskan warisan untuk pergi ke tanah suci Mekkah. Tak heran, dikalangan masyarakat  tertentu, suasana egaliter terasa sangat langka, lantaran pengkotak-kotakan akibat gelar. Orang-orang yang tinggal di Pulau Madura misalnya. “Haram” rasanya jika sudah naik haji,tapi sehari-hari tak memakai topi putih.Bahkan untuk kegiatan yang tak terkait dengan momen-momen religi,seperti mencangkul ke sawah. Ada kebanggaan. Ada “rasa” yang beda.

Bahkan jika pun belum cukup modal untuk mewujudkan mimpi naik haji, identitas topi putih lumayan mengundang penghargaan,walau mungkin dibelakang disertai cibiran. Dalam lingkup sosial masyarakat pinggiran, yang  jauh dari akses informasi dan masyarakat yang kurang teredukasi,fenomena semacam ini sudah lumrah. Kondisi ini juga menyangkut gelar akademis, yang menjadi penanda kelas sosial,politik bahkan ekonomi.

Maka ketika tokoh sekaliber Rhoma Irama tertangkap basah memasang baliho dengan gelar “profesor”, saya justru bingung,apa pesan yang ingin disampaikan? Jika ditelisik lebih jauh, gelar ini juga berbuah pertanyaan lanjutan;kapan dan dimana Rhoma pernah menjadi civitas akademica?Minimal,apakah selama ini si raja dangdut pernah menjadi dosen,misal untuk ilmu “sejarah dangdut”?Segenap pertanyaan ini mesti dijawab,karena gelar profesor bersifat khas dan hanya diberikan untuk mereka yang aktif mengajar.

Tentu perlu waktu untuk memberi penyadaran pada masyarakat, jika gelar hanyalah “alat” yang mesti dipakai dalam momen dan kegiatan yang pas. Di luar negeri, terutama di Amerika Serikat,ketika mayoritas masyarakatnya minimal berijasah sarjana,kualitas individu justru lebih kuat jadi referensi untuk “menilai” seberapa “harga” dari orang yang bersangkutan.Jika mengingat ini,kita mungkin sepanjang jalan bakal tertawa terbahak-bahak,lantaran semua baliho caleg yang bertebaran sepertinya “haram” jika tak mencantumkan gelar.

Lepas dari sisi negatif yang ada,kita bisa belajar dari dunia hiburan, entah di Indonesia atau di Amerika. Berapa banyak gelar Doktor,Phd,Ir dan bahkan profesor yang disandang para pesohor, yang digunakan secara proporsional. Misalnya para penyanyi rock. Saat mereka ngerock di panggung, atribut akademisi itu lenyap tak berbekas. Namun ketika mereka mengajar di kampus,atau dalam acara-acara akademis, semua tahu saat curicullum vitai dibacakan, jika mereka adalah jebolan dari universitas bergengsi.Bahkan dengan nilai akademis summa cum laude alias sangat memuaskan. Mestinya beginilah kita bersikap dan bertindak.Tapi kalau tidak setuju, ya monggo saja.Suka-suka saja..


Monday, February 24, 2014

Gundik


Menurut kamus  besar Bahasa Indonesia,gundik artinya istri simpanan, selir, atau perempuan piaraan.Pokoknya yang serba ‘gelap’.  Mungkin sekarang lebih halus lagi menyebutnya;istri siri.Tapi jika istri siri lebih kental aroma religinya,  sebutan gundik mungkin secara sosiologis tak begitu sedap didegar,karena maknanya lebih luas. Bisa sah,bisa tidak. Mungkin juga seperti cabo kata orang Betawi bilang.

Sekilas,fenomena gundik hanya terlihat sebagai gejala sosial biasa. Tapi jika melihat trend yang kini terjadi di banyak kasus korupsi di Indonesia, isu ini sebetulnya sangat menarik untuk dikaji. Saya tidak ingin menghakimi, jika para koruptor yang tertangkap KPK, pasti mempunyai gundik. Namun jika kita belajar dari negara China misalnya,ada hal-hal yang bisa direnungkan,untuk semakin menggiatkan para penegak hukum agar Indonesia cepat-cepat bersih dari penggerogot uang negara.

Gundik di China berkelindan dengan budaya leluhur,yang sudah berumur berabad-abad. Kaisar-kaisar China tempo dulu, rasanya tidak afdol jika tak punya gundik. Bilangannya bukan satuan.Tapi ratusan. Lucunya, budaya ini banyak ditiru oleh para koruptor di China.Ada semacam kelainan jiwa bernama Emperor’s Complex –sindrom kaisar. Menjadi “kaisar” berarti punya banyak perempuan. Bagi mereka itu simbol kebanggaan.

Tak heran, menurut pemerintah China (2007), para kekasih gelap,atau bini gelap, telah jadi simbol korupsi. Sekitar 90 persen pejabat yang jatuh akibat skandal korupsi, pasti punya gundik bahkan lebih dari satu.Mantan Menteri Kereta Api China, Liu Zhijun misalnya,setelah ditangkap pihak yang berwenang karena tuduhan korupsi, diketahui memiliki 18 wanita simpanan.

Hebatnya di China,mungkin ini bedanya dengan di Indonesia,sebagian besar gundik menjadi whistle-blower.Ada yang kecewa karena merasa tidak diperhatikan.Mereka lantas bernyanyi jadi simpanan pejabat Fulan.Diberi uang belanja tiap hari sekian juta.Mobil,apartemen dan perhiasan. Dari situ,pihak berwenang bisa menengarai berdasar profil pejabat yang dituduh.Apakah penghasilannya sebagai pegawai negeri sipil sesuai dengan kekayaannya.

Sejak Deng Xiaoping melakukan reformasi tahun 1978,China memang sangat keras bertindak terhadap koruptor. Banyak hukuman mati dijatuhkan. Ketika dilantik jadi Perdana Menteri China pada tahun 1998, Zhu Rongji bahkan berteriak lantang, "Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya isi dengan mayat para koruptor, dan yang satunya lagi buat saya sendiri jika saya pun melakukan perbuatan hina dan memalukan itu"katanya.Luar biasa.

Sayang,semangat itu tak pernah kita transfer dalam roh dan jiwa para penegak hukum kita. Sejauh ini,kita masih terikat pada rantai Hak Asasi Manusia (HAM). Hukuman mati tidak manusiawi,begitu kampanye anggota komnas HAM. Para koruptor pun memilih untuk melakukan aksi preemtive strike.Serbu dulu, urusan belakangan. Korupsi dan piara gundik dulu, kalau ketahuan berarti apes. Kalau lolos,alhamdulilah.

Para gundik pun tak punya nyali ganda untuk membongkar kelakuan “mitranya”. Saya tidak tahu,apakah ini dipengaruhi oleh tatanan masyarakat Indonesia yang khas. Sejarah pergundikan di Indonesia tak melulu didasari oleh rasa kebanggaan,seperti di China. Ada motif lain;entah seperti saat sekarang sebagai sarana pencucian uang.Atau sekedar menyalurkan hawa nafsu liar, ditengah himpitan ekonomi para gundik,yang ingin lepas dari kemiskinan akut.

Cerita Nyai Dasima misalnya.Lakon karangan G.Francis yang dirilis tahun 1896 itu menunjukan kedudukan gundik sebagai pihak yang tak punya power.Baik ekonomi maupun politik. Perempuan simpanan bangsawan Inggris Edward William ini konon diangkat dari kisah nyata gadis dusun Kahuripan, tak jauh dari Ciseeng,Bogor. Begitu pula Hikayat Siti Mariah, satu-satunya karya sastra Pra-Indonesia yang muncul di saat tanam paksa 1830-1890 dan membahas pergundikan.

Kita masih berkutat pada cerita panjang penindasan para pemodal terhadap gundik-gundik yang dimilikinya. Termasuk cengkeraman stigma jelek gundik,yang membuat cap ini sebisa mungkin dihindari. Dikasih mobil Alphard,mengaku teman biasa. Diberi apartemen, berdalih rekanan bisnis. Kalau bisa,sebelum dipanggil KPK, ramai-ramai mengaku tidak kenal. Atau berulang-ulang bilang dibayar secara profesional, karena jasanya didunia seni.

Di negara komunis seperti Republik Rakyat China, hati nurani para gundik masih berbicara,saat ada kepentingan bangsa yang dirugikan. Mungkin ini sebagai penebus dosa,karena masuk dalam perangkap para pengumbar hawa nafsu. Tentu saja penegak hukum tak hanya mengejar pengakuan,sebagai satu-satunya bukti. Tapi petunjuk lebih awal lekas tertangkap,ketika niat berjujur ria itu muncul,walau karena motif sakit hati misalnya.

China lekas bangkit sebagai kekuatan ekonomi dunia,karena penegakan hukumnya yang tak pandang bulu dan maksimal. Tak ada salahnya kita belajar,seperti hadis nabi Muhammad,”Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China,”. Perlu ada gebrakan keras KPK,untuk membuat efek jera para koruptor.

Jika para gundiknya enggan berkompromi,sekali-kali undang-undang tindak pidana pencucian uang (TPPU) diseriusi untuk menjerat mereka.Bukankah selama ini mereka hanya terlihat berlenggak lenggok di gedung KPK, tanpa sanksi hukum yang terang untuk menjebloskan mereka ke dalam penjara, meski nyata-nyata sudah menikmati aliran uang dari hasil merampok negara?



Monday, February 17, 2014

Sabar dan Marah

Salahudin Al Ayubi


Syahdan,saat Raja Inggris Richard The Lion Heart menderita sakit,Sultan Salahudin Al-Ayubi segera mengirim hadiah dan tim medis untuk mengobati penyakit Richard. Salahudin juga menghentikan pertempuran. Kala itu,Raja Richard memang sedang mengepung Yerussalem, yang sudah dikuasai Salahudin. Pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir ini berharap,musuhnya sehat dulu, baru kemudian beradu strategi di medan laga.

Pernah pula,saat Richard berjalan kaki bersama prajuritnya, Salahudin mengirim kuda Arab terbaik,agar sang raja bisa menungganginya. Ia tak tega,seorang raja harus berjalan kaki di padang tandus, yang bisa merendahkan derajat kebangsawannya.Pertempuran di bulan Desember 1191 dan berlanjut di bulan Juli 1192 ini memang menjadi catatan penting tentang sosok sultan yang di dunia Barat dikenal dengan nama Saladin ini. Ia dikenal karena kesantunan,kerendahatian dan kasih sayangnya.

Berabad-abad kemudian,setiap nama Sultan Salahudin disebut,kisah keberanian dan kesabarannya selalu menggetarkan hati kaum muslim. Dari kaca mata seorang anak kecil yang mendengarnya di musola kampung di pelosok Tegal, saya pribadi meyakini, dialah sosok paling representatif dan mendekati paripurna, dari contoh akhlak Rosul Muhammad SAW.Solahudin keras ketika akidahnya disinggung,tapi lemah lembut terhadap sesamanya,bahkan musuh besarnya sekalipun, seperti Raja Richrad.

Saya sengaja mengambil contoh sang sultan, karena saban ada ustaz bertindak melampaui batas,misal karena merasa harkatnya direndahkan, para pendukung ustaz tidak mau terima jika disuruh mencontoh pribadi Muhammad. Mereka berdalih, di sisi Muhammad ada sahabat Umar, yang siap jadi benteng bagi siapapun yang menghina nabi. Namun sepanjang pengetahuan saya,         nabi pun tak pernah marah untuk hal yang bersifat pribadi. Kecuali sudah menyangkut akidah.

Muhammad,misalnya, sangat marah ketika Usamah bin Zaid membunuh Mirdas bin Nuhaik,usai penaklukan benteng Khaibar. Kala itu, Mirdas berhasil membunuh beberapa prajurit muslim. Usamah yang mengejar,berhasil membuat Mirdas kepepet. Dalam kondisi genting,Mirdas mengucap dua kalimat sahadat. Tapi Usamah yang takut itu hanya lips service, segera menghabisi Mirdas. Nabi pun menegur dengan keras.

Kemarahan yang proporsional,apalagi untuk menegakan kesucian ajaran Allah,sesungguhnya menjadi bukti jika penyakit “marah” amatlah berbahaya jika sudah menjangkiti hati. Sekelompok dokter di Inggris menemukan fakta, ketidakmampuan mengontrol diri, berkolerasi positif dengan penyakit jantung, kanker,stroke, frustasi dan bahkan pilek. Marah juga membuat jumlah tindak pidana meningkat. Dalam batas-batas tertentu, kemarahan selama delapan menit akan lebih cepat melumpuhkan kekuatan daripada  delapan jam bekerja.

Para ahli manajemen mewanti-wanti, kita tak boleh marah saat mengambil keputusan. Dari sisi transendental, kata rosul Muhammad, seorang mukmin tidak bisa disebut mukmin,jika ia suka mencela, pengutuk,kata-katanya kotor dan keji.  Termasuk, memaki orang mukmin adalah fasik (dosa) dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam). Apalagi hanya karena masalah suara mike sound system yang kurang keras.

Lantas,apakah benar anggapan banyak orang,jika kesabaran sesungguhnya ada batasnya?Kita bukan Nabi Ayub,yang puluhan tahun diuji penyakit dan lolos dengan kesabaran luar biasa. Atau Rosul Muhammad, yang menaklukan kota Mekkah dengan damai dan memaafkan semua penghuninya,walau pernah memberikan penderitaan luar biasa dalam dakwahnya. Namun jika melihat tebaran ayat-ayat Allah dalam kitabnya, sesungguhnya manajemen marah adalah keniscayaan yang bisa dipelajari semua orang.

Kuncinya adalah bersabar.Imam Al Ghazali menyebut, sabar adalah satu bagian dari dua bagian iman, termasuk bersyukur. Sifat ini bahkan termasuk dalam Asmaul Husna. Banyak ayat Al Qur’an yang memuat janji Allah yang akan meninggikan derajat orang yang sabar. “Sesungguhnya orang bersabar itu,akan dipenuhi pahalanya tanpa mengingat perhitungan” (Surat Az-Zumar ayat 10).

Kasus Ustaz Hariri semakin menunjukan,pembentukan mental dan karakter para da’i (penyampai) telah gagal akibat buaian budaya instan. Tak jarang,untuk menutupi kekurangan itu,kita bermain dengan simbol-simbol agama, yang notabene itu bukanlah esensi dari nilai Islam. Kita terjebak pada peniruan besar-besaran kultur Arab,sekedar untuk mendapat legitimasi sebagai orang alim,meski pondasinya rapuh.

Benar kata Gus Dur, Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’,’sampeyan’ jadi ‘antum’,’sedulur’ jadi ‘akhi’. Gus Dur menegaskan,kita pertahankan milik kita,kita harus serap ajarannya,tapi bukan budaya Arabnya. Rasanya tak perlu dikasih contoh, betapa banyak sosok-sosok berjubah yang nyata-nyata berperilaku menyimpang, dan tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Apakah dengan kesabaran itu kita membuka ruang untuk membiarkan pihak lain merendahkan dan menghina kita?Jika menyangkut ini,kita harus faham tentang dahsyatnya sikap memaafkan. Tindakan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kuat,seperti Nelson Mandela misalnya.Pilihan itu tersedia, kita ingin dikenang sebagai pribadi yang lemah,atau sebaliknya.Namun apapun, mungkin ini bisa jadi pegangan, ketika kita kita sedang direndahkan orang lain,percayalah,pada saat yang sama kita sebetulnya sedang ditinggikan derajatnya oleh Allah. Wallahua’lam bishowab.