Daftar Isi

Monday, September 2, 2013

Miss World

Memasuki Bulan September,sebuah perhelatan akbar Miss World 2013 akan diadakan di Indonesia. Ini sebuah ajang kontes kecantikan, yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai negara. Ajang Miss World diklaim oleh panitia pelaksana bisa menaikan potensi pariwisata Indonesia. Sementara di sisi lain, penolakan juga tak kalah kencang, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).Alasannya sederhana, kegiatan Miss World tak ada guna buat kemaslahatan bangsa, bahkan dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia.

Isu sentralnya selalu soal adab berpakaian.Panitia Miss World sendiri sudah meyakinkan publik, jika sesi peserta berbikini akan diganti dengan sarung Bali. Ada semacam kompromi maksimal terhadap budaya lokal, agar resistensi penyelenggaraan Miss World tidak berujung seperti di Nigeria misalnya. Miss World bisa tampil lebih sopan, dengan tak meninggalkan ciri khas kompetisinya sebagai ajang adu kecanggihan brain, beauty dan behaviour. Tentu juga tak kalah pentingnya, aspek ekonomi dari terangkatnya nama Indonesia di kancah internasional, karena sorotan kamera dari seluruh dunia akan memberitakannya.

Tak bisa dimungkiri, “perang” sesungguhnya antara panitia pelaksana dan penentang Miss World memang lebih ke perdebatan paradigma. Panitia Miss World berdalih, negara kita bukanlah negara agama. Sementara FPI dan MUI berlandaskan dalil-dalil agama, yang dengan alasan apapun tidak akan membenarkan penyelenggaraan Miss World. Menampilkan lekuk-lekuk tubuh perempuan, walau masih dibalut sarung Bali, tetap dilarang dengan alasan syar’i. Kecantikan perempuan, dalam perspektif yang lebih luas, juga tidak harus dinilai dalam sebuah kompetisi fisik, karena ada hal-hal lain yang bisa menunjukan seorang perempuan terlihat cantik dan cerdas.

Jika merujuk ini, saya jadi teringat kata-kata seorang bijak, yang mengumpakan kehormatan perempuan seperti sebuah permen. Sepotong kembang gula yang sudah terbuka, tentu akan berbeda nilainya jika permen itu masih terbungkus rapi. Meski begitu, ini yang kerap jadi bahan kritikan, ada ketidakkonsistenan para penentang Miss World terhadap kenyataan yang ada. Coba lihat dan cermati, berapa banyak film dan sinetron yang memperlihatkan adegan tak senonoh dan terbuka, yang beredar luas di masyarakat, tanpa ada upaya pencegahan. Bukankah perempuan berbikini sudah menjadi “jualan” para produser film esek-esek sejak lama dan sejauh ini aman-aman saja?

Di era ketika dunia hiburan sudah menjadi industri yang melintas batas  negara,jika pun Miss World diadakan di negara lain, kita bisa mengaksesnya dengan  mudah lewat internet. Mungkin upaya paling realistis adalah memberi penyadaran generasi muda, untuk menimbang dengan cermat saat hendak mengikuti kontes-kontesan; entah Miss Indonesia atau Puteri Indonesia. Jujur diakui,kontes ratu-ratuan kadang dianggap sebagai jalan paling lempang untuk meraih popularitas dan uang lewat dunia hiburan. Sikap serba instan dan enggan mengikuti proses inilah yang membuat jiwa kita menjadi tidak tahan banting.

Bagaimanapun, dunia hiburan penuh dengan intrik dan kamuflase. Seorang teman menyebut, meski diliputi glamouritas, di dalamnya penuh dengan jiwa-jiwa yang sunyi. “Banyak jebakan betmen didalamnya, yang jika kita tak pandai meniti, bisa jatuh terjerembab,”kata sang teman, yang juga mantan presenter di sebuah stasiun televisi swasta terkenal itu. Sore itu, teman saya ini rupanya ingin berbagi informasi, soal rencana lamaran seorang penyanyi dangdut dengan goyang khasnya oleh  seorang laki-laki yang mengaku pengusaha.

Si lelaki, kata sang teman, punya rekam jejak yang buruk sebagai penipu. Teman si mantan presenter sempat akan jadi korban, sebelum semuanya terbongkar. Dengan alasan akan dinikahi, harta bendanya dihisap tanpa mampu dicegah,karena seperti dihipnotis. “Sepertinya si penyanyi dangdut itu sudah mulai terpedaya. Kasihan ya,”katanya. Kisah-kisah seperti ini, sebetulnya sudah jadi makanan pewarta infotainment tiap hari,walau tetap saja ada yang jadi korban karena kewaspadaan yang rendah. Dus, masuk ke dunia hiburan, laksana masuk ke hutan belantara, dengan “binatang” buas dan kejam berkeliaran, yang tiap saat siap menerkam.

Tentu tak semua jebolan Miss World atau kontes-kontes kecantikan lain, sukses berkarir di dunia  hiburan. Dalam banyak kasus, event seperti itu bahkan menjadi bukti penting cengkeraman kapitalisme global, dengan “bungkus” pencarian perempuan-perempuan berbakat.  Lagi-lagi, walau untuk mengikuti kontes seperti itu adalah pilihan pribadi, diperlukan pemikiran panjang agar kita tak jatuh hanya jadi sekedar komoditas. Tak hanya jadi sekedar obyek, dari pemodal kuat yang bermain di belakangnya. Jika kesadaran semacam ini sudah tumbuh, tanpa perlu dilarang pun, kontes-kontes seperti itu akan lenyap dengan sendirinya.

Akhirnya, Miss World di satu sisi, dan penentangnya di sisi lain, walau saling berhadapan secara diametral, semoga bisa menjadi mosaik keindahan berdemokrasi. Ibaratnya, anda boleh saja tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi hak anda untuk berbicara akan saya bela mati-matian. Soal apakah nanti perhelatan Miss World akan menuai maslahat atau mudharat, waktu nanti yang akan membuktikan.  Kedewasaan berbeda pendapat, akan meneguhkan kita sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Bukankah esensi demokrasi adalah sepakat untuk tidak sepakat?






Monday, August 19, 2013

Tragedi Mesir


Lagu-lagu dalam Bahasa Arab, meski bersyair tentang patah hati yang merintih-rintih, kerap dianggap sebagai lagu shalawat oleh masyarakat kita. Saat Fairuz, diva legendaris dari Lebanon, bersyair tentang romantisisme lewat nada-nada indah, kita kadang tak bisa membedakannya, apakah itu lagu pujian pada Tuhan, atau tidak. Begitu pula lagu-lagu dangdut, karena ada unsur gambusnya, kerap dianggap lagu Islami, walau syairnya berbunyi,”Aduh,aduh, aduh…salome…satu lobang ramai-ramai,”.

Saat puluhan ribu massa demonstran berteriak ‘Allahu Akbar’ di depan masjid Rabiah Al Adawiyah, ketika deru tank tentara Mesir menggusur mereka, kita langsung menganggap ada kezaliman terhadap umat Islam. Bentrok massa Ikhwanul Muslimin dan tentara Mesir itu lantas menuai banyak simpati. Di jejaring sosial, di status-status blackberry, kerap terpasang display picture dengan teriakan lantang,”Save Egypt” atau “Stop Massacre”.

Pembantaian itu tentu saja memilukan hati. Bertahun-tahun Mesir dikenal sebagai pusat studi Islam dengan Universitas Al Azharnya yang termasyhur. Berpuluh tahun pula Mesir jadi kekaguman dunia karena pusat peradaban  kuno dengan situs fir’aunnya. Mungkin seperti Amerika Serikat saat ini. Kala negeri Barat masih di selimuti takhayul dan pemujaan pada roh halus, 3000 tahun sebelum Masehi Mesir sudah membuat piramida yang maha rumit.

Citra sebagai negeri yang aman dan beradab, sempat pula diangkat ke layar lebar lewat film Ketika Cinta Bertasbih. Sebelumnya, setting film Ayat-ayat Cinta juga mengambil lokasi Mesir. Sayang, hanya dalam hitungan hari, sejak Presiden Muhammad Mursi dikudeta militer Mesir, citra positif itu luluh lantak. Mesir kini jadi wilayah yang menakutkan! Negara-negara dari berbagai dunia, berlomba-lomba mengevakuasi warganya keluar dari Mesir.

Masyarakat Indonesia sendiri kadang kurang cermat melihat persoalan. Jika korbannya berteriak ‘Allahu Akbar’, selalu dipandang sebagai tragedi umat Islam. Padahal bisa jadi itu hanya tragedi kemanusiaan, karena yang dibunuh dan yang membunuh sama-sama satu keyakinan. Tragedi di depan masjid  Rabia Al Adawiyah, tak beda jauh dengan tragedi Tiananmen, saat ribuan mahasiswa di lapangan Tiananmen digilas oleh tank-tank tentara China, karena menuntut reformasi dan demokratisasi sistem yang korup dan tertutup.

Memang dalam banyak hal masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang melodramatik. Mudah kasihan dan jatuh iba. Apalagi jika berasal dari Timur Tengah, selalu diidentikan dengan Islam, meski sejatinya itu bukan. Beruntung, sejauh ini aksi simpati baru sebatas slogan. Dalam sudut pandang yang lebih subtil,tragedi  Mesir juga mencuatkan banyak hal yang bisa jadi renungan.Kita patut berbangga, para penguasa yang pernah memerintah negeri ini, lebih mendengarkan nurani ketika kehilangan kekuasaan.

Saya tak bisa membayangkan jika Soekarno  menggerakan barisan Soekarno untuk melawan musuh-musuh politiknya. Seoharto bahkan punya kans untuk menggelar operasi militer saat didesak mundur oleh mahasiswa. Tapi ia memilih lengser keprabon, demi menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah sesama anak bangsa. Gus Dur lebih elok lagi. Kata Gus Dur, tak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian. Ia memilih balik ke Ciganjur, dan memerintahkan pendukungnya untuk pulang ke Jawa Timur.

Karakter dan nilai-nilai yang hidup dan membesarkan para pemimpin kita, menjadikan mereka sosok yang legawa, kompromistis dan menghargai setiap nyawa pemberian Tuhan.Saya tidak ingin menyebut secara khusus ini adalah budaya Jawa. Tapi jika merujuk pada filosofi Jawa, banyak hal bisa diangkat dan menjadi bekal para pemimpin Indonesia berikutnya.

Menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan yang kalah), ngluruk tanpa bala (menyerang tanpa pasukan) dan digdaya tanpa aji (kuat tanpa jimat), diantara filosofi yang kental dianut para pemimpin kita. Namun apa pun namanya, dalam fatsun politik,demokrasi tidak menganut zero sum game; yang menang mengambil semuanya dan yang kalah kehilangan segalanya.

Ketika Mursi memenangkan kursi presiden Mesir dan menendang habis oposisi dari jabatan politis,benih-benih sakit hati mulai ditebar. Anjuran pihak militer untuk rekonsiliasi juga tak didengar. Saat militer mengkudeta, ironisnya para petinggi Ikhwanul Muslimin tak mau kalah. Mereka tetap memaksakan Mursi harus dikembalikan ke posisi semula. Apapun taruhannya. Berapapun harganya.

Ada anekdot, karena sikap keras dan non kompromi orang Timur Tengah, maka agama-agama Samawi di turunkan di sana. Sebab, para nabi memang perlu melewati ujian berat dari masyarakat yang berwatak keras, ngeyel, tak mau nurut dan sotoy. Mungkin dari kawah candradimuka semacam itulah, kualitas nabi-nabi Allah itu terasah, hingga menginspirasi para pendakwah sesudahnya, untuk memiliki syaraf baja.

Jika Mesir tersandung karena urusan kekuasaan,untunglah Indonesia lolos dari tragedi mengerikan saat terjadi pergantian pucuk pimpinan. Mesir jadi bahan pelajaran berikutnya, setelah Irak, Libya dan Suriah bergolak karena penghambaan terhadap kekuasaan yang berlebihan. Tabik pada Soekarno, Soeharto dan Gus Dur.Wallahualam bishowab.


Sunday, July 28, 2013

Mudik

Seorang teman bertanya kabar dan rencana mudik lebaran besok. Saya jawab lebaran ini tidak bisa mudik. Saya belum mengatakan apa sebabnya, ketika dia tiba-tiba seperti merasa aneh dengan rencana saya. Dengar apa katanya,”Kerja tuh jangan ngoyo.Sekali setahun masa nggak bisa pulang?Kalau nyari duit terus mah nggak bakal puas,”. Saya terperangah. Diskusi berlanjut. Saya coba memancing,”Terus kalau tidak punya uang, lantas nggak bisa mudik,itu salah?”.

“Bukan begitu. Jauh-jauh merantau tunjukin dong hasil kerjamu di kampung. Kalau nggak bisa, mending jadi kyai kampung. Waktu banyak, dapat sedekah beras berlimpah-limpah,”. Saya kembali tertegun. Tapi dengan nada bercanda, saya komentari “ceramah” teman,”Oh, jadi itu ya makna lebaran?”. Stop. Dia berhenti menjawab. Entah membenarkan kelakar saya, atau dia bingung mau kasih nasihat apa lagi.

Tentu saja saya bukan golongan orang anti mudik. Masih ada orang tua di kampung. Barangkali akan lebih afdol bila sungkem saat lebaran. Meminta maaf. Merayakan bersama hari kemenangan. Meski ongkos sosial dan ekonomi yang mesti dibayar begitu menggiriskan. Ongkos sosial dan ekonomi tak melulu tarif yang naik gila-gilaan. Tapi juga tindakan-tindakan super gila, yang rasanya tidak akan sanggup dilakukan dalam keadaan normal.

Coba bayangkan. Ratusan kilometer bersepeda motor membawa anak kecil. Berdiri berhimpitan di bus hampir 24 jam. Terjebak macet berjam-jam tanpa kejelasan kapan jalan. Kecopetan. Dibius di terminal bus. Bahkan risiko kehilangan nyawa karena kecelakaan akibat keletihan luar biasa. Jika ditanya kenapa semua itu ditempuh, jawabannya simpel, seperti kata teman saya,”Yah, setahun sekali nggak apa-apa,”.

Para pakar tak henti-henti mengulas fenomena ini. Ada yang bilang, ini wujud dari filosofi Jawa Mangan Ora Mangan Ngumpul (makan tidak makan kumpul). Saat ada yang merantau karena desakan ekonomi, lebaranlah waktu yang asyik untuk santai sejenak. Berbagi uang Tunjangan Hari Raya (THR) dari kantor, atau rejeki dari berdagang. Pokoknya ada yang disedekahkan, sebagai simbol sukses, sebagai tanda keberhasilan di tanah rantau.

Penghayat  kepercayaan memandang, mudik sebagai kesadaran sangkan paraning dumadi. Ini filosofi yang membedah dari mana kita berasal dan hendak kembali ke mana kita nanti. Wilayah transendental,yang coba di otak atik gatuk dengan gejala sosial. Gatuk-nya dimana, saya juga masih meraba-raba. Tapi secara pragmatis,dan ini yang sudah jadi faham umum, mudik sebagai wujud dari keinginan untuk terus menjalin tali silaturahmi. Sesuatu yang, kata mereka, diajarkan oleh agama.

Tentu saja tidak salah argumentasi itu. Namun jika ditelisik lebih jauh, angka statistik menjelang lebaran dari berbagai barang kebutuhan sekunder yang naik, mencuatkan tanya berikutnya. Apa sebab rental mobil naik pesat sebelum mudik berlangsung?Motor, jam tangan, pakaian, telepon seluler, sepatu bahkan sarung dan sajadah baru mengalami kenaikan penjualan berkali-kali lipat. Penawaran kredit mobil baru juga bertubi-tubi datang, dengan segala kemudahan fasilitas. Promosinya menarik, “Bisa dipakai bergaya di kampung halaman”.

Lebaran, pada akhirnya menjadi ajang show tahunan paling akbar, yang tanpa disadari telah melemahkan nilai-nilai puasa yang sudah dilakukan. Saya jadi ingat kata-kata ustaz saat khotbah Idul Fitri. Ketika barisan iblis gagal menggoda manusia kala Ramadan,kata ustaz, mereka punya kesempatan di Hari Raya Idul Fitri.

Bukankah iblis, seperti tekadnya saat ia diusir dari surga oleh Allah, akan dengan segala cara mengajak manusia untuk mengikuti jalannya?Saat potensi sikap ujub, sombong, riya dan pamer bertebaran, ketika itulah momen bagus bagi Iblis untuk beraksi –masuk ke dalam aliran darah manusia dan membujuknya untuk memunculkan kelakuan minus itu.“Sifat sombong itu, sekecil apapun ia bersemayam, akan mengurangi pahala puasa kita,”demikian khotbah ustaz.

Mungkinkah tradisi mudik ini terhapus, seturut perjalanan waktu?Pemerintah nampaknya berfikir ke arah itu. Sebab tidak mudah melayani puluhan juta orang “hijrah” dalam satu waktu, dengan segala kompleksitas masalahnya. Namun himbauan untuk tidak memakai sepeda motor, atau meminta peran swasta menyediakan bus sebagai bentuk corporat social responsibility (CSR), juga tak banyak mengubah situasi, tanpa reformasi mindset calon pemudik. Ini hanya soal cara memandang makna lebaran.

Silaturahmi bisa dilakukan kapan saja. Begitu juga distribusi ekonomi ke wilayah pedesaan.Tidak mesti menunggu lebaran. Perkembangan teknologi memungkinkan setiap orang, bahkan orang tua di desa terpencil, sudah bisa mengoperasikan telepon seluler. Kemajuan teknologi informasi membuat kita bisa berbicara sambil melihat wajah lawan bicara secara real time. Dan, last but not least, mudik hanyalah tradisi, bukan kewajiban yang jika tak dilakukan kita terkena dosa.

Di Arab Saudi, usai shalat Idul Fitri, suasana justru sepi. Bangladesh dan Malaysia mungkin masih terjangkit virus mudik. Di Indonesia, lembaga semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI), barangkali bisa ditarik untuk lebih aktif mencegah kengototan mudik, yang justru banyak membawa kesengsaraan. Pikirkan jika saya nekad mudik, dengan membawa dua anak balita dan beberapa tas dan kardus besar. Jakarta-Tegal, atau Jakarta-Kediri bukanlah jarak yang pendek. Untunglah saya tidak mudik.

Hari berikutnya, teman saya rupanya masih penasaran. Dia kembali menyapa saya dan menyampaikan berita mengejutkan.

“Saya juga nggak mudik lebaran,”katanya.

”Lho, kenapa?”tanya saya heran.

“Duitnya mau saya pakai buat kredit motor saja. Biar tiap hari nggak naik angkot kalau kerja. Jika harus mudik juga, uang dari mana?”

Ah, saya jadi malu sendiri. Rupanya dia lebih jujur dari saya.






















































































































































































































































Thursday, July 11, 2013

Mencari "Ruh" Ramadan yang Hilang

Saban kali bulan puasa tiba, kerinduan terhadap jejak Ramadan masa kecil selalu bergelinjang datang. Masa yang indah, dan penuh kekhusyukan, saya lewatkan di desa terpencil di pelosok Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ramadan menjadi istimewa, karena ada beberapa kebiasaan kampung, yang kini telah lenyap tak berbekas. Ada memang beberapa yang dipertahankan. Tapi suasananya tak terasa seperti masa-masa dulu, karena masuknya modernisasi, yang telah menyerap hampir seluruh energi anak-anak kampung.

Sehari sebelum puasa, beduk di masjid ditabuh bertalu-talu.Sebelumnya, semua masjid dan mushola dicuci bersih. Gotong royong, dengan membawa ember dan pelepah pisang untuk menggaruk genangan air. Saat semua tempat peribadatan telah bersih, shalat tarawih riuh rendah karena banyaknya jamaah yang datang. Belum lagi ketika selesai tarawih. Panganan berupa kue-kue kecil digelar, disantap, sambil ngobrol ngalor ngidul penuh keakraban. Suasananya benar-benar guyub dan rukun.

Selama sebulan penuh, tiap sore bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an saling bersahutan mengisi ruang langit lewat pengeras suara yang dipancang tegak. Tiap grup yang terdiri dari 2-4 orang saling menyimak, dan mencantumkan target untuk mengkhatamkan 30 juz Al Qur’an selama satu bulan. Pagi hari, setelah selesai sahur dan kelar shalat subuh berjamaah, suara para da’i dari berbagai penjuru terdengar mengisi kuliah subuh. Penduduk kampung sebelumnya dibangunkan oleh rombongan remaja, yang dengan alat seadanya berkeliling sambil memainkan ritme musik yang rancak, penuh kegembiraan disertai teriakan “Sahuuuuur,sahuuuuur, sahuuuuur…!”

Momen paling menggairahkan barangkali saat menunggu buka puasa. Warga berkumpul di mushola usai shalat Ashar. Bermain catur, mengkaji kitab kuning, berbagi kisah tentang pekerjaan pagi hari, sebelum semuanya pulang ketika bunyi kentong dan bedug terdengar menyusup lubang-lubang angin. Mushola dan masjid, seolah menjadi pusat kosmis kegiatan, yang merekatkan batin dan rasa senasib  sepenanggungan. Kondisi ini tertolong, karena kala itu hanya ada RRI dan TVRI, sebagai media hiburan yang kadang menyajikan acara yang tidak menarik minat. Bulan Ramadan selalu dinanti-nanti, karena setiap saat cerita terus berganti, penuh kesan dan menancap di hati.

Deregulasi yang mengakhiri dominasi TVRI dan RRI serta membuka kran munculnya stasiun teve baru membuat segalanya jadi serba terkapitalisasi. Kemajuan teknologi juga memutus mata rantai aktivitas temu muka, menjadi cuitan di dunia maya. Keriuhan kini berpindah. Kotak televisi dan layar smartphone jadi sarana pengganti bertegur sapa dan cerita. Komunikasi seolah telah kehilangan “kesejatiannya”. Praktis, selama bulan puasa, tradisi ngumpul bareng itu pelan-pelan lenyap. Apalagi di Jakarta, ketika sebagian besar waktu telah tersita oleh kesibukan kerja.

Saya mungkin terlalu lebay menganggap bulan puasa kini telah kehilangan “ruh”nya.  Boleh pula dituduh ini pikiran orang ndeso. Tapi cobalah cermati fakta-fakta yang berseliweran di sekitar kita. Di mushola dekat tempat tinggal saya di Depok, tiap malam selalu penuh oleh ibu-ibu. Mereka antusias mengikuti tarawih, karena hanya wajah-wajah yang dikenal sering ikut tarawih nanti yang bakal mendapat bingkisan kue, baju lebaran dan sejumlah uang dari si pemilik mushola. Ada niat lain yang mungkin tujuannya bagus, tapi secara tidak langsung mengingkari nilai-nilai keikhlasan sebagai sebuah syarat ibadah.

Di layar teve lebih kronis lagi. Berbagai program yang berbau Ramadan dirancang, dengan menonjolkan simbol-simbol Islam tanpa substansi pesan dakwah yang jelas. Kerudung, baju gamis, kopiah, kutipan ayat-ayat suci Al Qur’an laris manis disajikan, bertebaran disepanjang durasi, dicampur lawakan gaya slapstick. Waktu ngabuburit sambil mengkaji kitab atau aktifitas keliling membangunkan warga, lenyap karena kalah oleh acara teve, dengan sisipan iklan-iklan yang membentuk pemirsa jadi semakin konsumtif. Jangan tanya bagaimana jungkir baliknya para pelaku dunia hiburan, para bintang terkenal. Pontang panting ke sana ke mari, seolah harta dunia akan dibawa mati.

Bulan Ramadan, dengan begitu, telah dikomodifikasi sedemikian massif dan terstruktur. Main catur, mengaji, dan membangunkan sahur memang masih ada. Tapi itu kita jumpai dalam adegan sinetron bertema puasa. Kuliah subuh di mushola berganti dakwah ustaz-ustaz terkenal di layar kaca. Bahkan tarawih pun, kadang lebih suka menonton siaran langsung dari Masjidil Haram di televisi, daripada beranjak ke masjid sebelah. Pembeda bulan puasa bagi orang sibuk kini hanya tinggal aktifitas buka puasa dan sahur, atau sesekali muncul buka bersama dengan para kolega.

Gempuran program Ramadan di teve telah membuat kearifan lokal bulan puasa semakin terpinggirkan. Padahal dari situlah pemahaman Islam sebagai rahmatanlilalamin dimulai dan semangat puasa sebagai pembentuk kesalehan sosial dipupuk .Mungkin kabar baiknya, seperti yang dikatakan para ustaz, Bulan Ramadan adalah bulan Maghfiroh –bulan penuh ampunan. Semua ibadah di bulan ini, pahalanya dilipatgandakan puluhan kali. Apalagi saat malam Lailatul Qadar.

Ini kegiatan personal, bersifat vertikal, yang semakin menebal kala Ramadan tiba. Semacam niat kuat untuk sejenak menjauh dari dunia. Membuktikan apa kata ustaz, jika harta dunia itu seperti air laut. Semakin kita banyak meminumnya, akan semakin haus. Dari sebelas bulan bergelut dengan urusan dunia, tak ada salahnya sebulan untuk enjoy mengisi relung rohani, yang selama ini kerontang oleh sifat cinta pada dunia. Siapa tahu dari sinilah “ruh” bulan puasa bisa kita dapat lagi. Ya, siapa tahu?Wallahua’lam bishowab.

Tuesday, July 2, 2013

Maaf,Silahkan, Terima kasih

Cerita ini saya dapatkan dari almarhum Romo Mangun Wijaya, saat menempuh studi teologi di Jerman (dulu Jerman Barat). Dari flat sederhana yang ditempatinya, sastrawan besar pengarang novel “Burung-burung Manyar” itu melihat pola pendidikan sebuah taman kanak-kanak di dekatnya. Di situ, anak-anak dibiarkan bermain seenak sinyo semau noni.Tak ada bentakan untuk tertib atau aturan yang mengekang. Konon alasannya karena anak-anak bukanlah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh kecil.Mereka, calon generasi penerus bangsa itu hanya diajari secara intensif pentingnya tiga kata; maaf, silahkan dan terima kasih.

Hal serupa terjadi di Jepang. Namun, berbeda dengan di Jerman, Jepang lebih agak tertib. Penghormatan terhadap budaya leluhur, juga menjadi perhatian serius lain. Pola didik dan kemerdekaan berfikir semacam  di Jerman inilah yang konon menghasilkan tokoh-tokoh besar seperti ; Friedrich Nietzsce,Max Weber,Karl Marx, Friedrich Engels hingga megalomaniak paling brutal Adolf Hitler. Sementara Jepang, melesat menjadi negara maju, dengan tetap tak kehilangan pijakan unggah ungguhwarisan nenek moyang.

Sesungguhnya, sebagai sebuah tatanan masyarakat yang masuk kategori beradab, negeri kita dikenal sebagai negara yang ramah. Orang-orang bule yang pernah berkunjung pasti memberi kesaksian seperti itu. Masyarakat Indonesia suka tersenyum. Tak pernah memasang muka masam kala melihat tamu asing. Toleran dan suka menolong. Kita tak kalah dengan bangsa Jepang, bahkan di daerah-daerah tertentu, nilai-nilai itu masih terus dihidupkan, ditengah gerusan modernisasi di segala lini.

Pernah melihat orang tergelincir dari sepeda motor di dekat warung angkringan di  Yogyakarta?Dijamin secara spontan para penikmat nasi kucing akan segera berdatangan. Tanpa pamrih, mereka menolong. Sekian tahun hidup di kota budaya itu, membuat gambaran ideal itu seperti mencuat kembali, menyadari nilai-nilai serupa mulai terkikis di tengah-tengah masyarakat kita. Artinya, bisa saya pastikan,kita sebenarnya memiliki nilai-nilai unik dan bagus, yang hanya butuh penyegaran kembali agar kebiasaan baik itu tidak terkubur begitu saja.

Susahnya, karakter bangsa yang bagus itu, kadang tenggelam oleh pranata-pranata sosial yang entah berasal dari mana. Contohnya, kasur, dapur, sumur dikesankan sebagai wilayah perempuan. Begitu juga tugas menyusui. Dalam lingkup yang lebih luas, strata sosial buatan penjajah Belanda, hingga kini bahkan masih terpatri kuat. Memang orang Eropa, Indo atau China tidak lagi dipandang lebih tinggi dibanding pribumi. Tapi pengkotak-kotakan pribumi dari segi pekerjaan dari “kasta” paling mulia hingga paling rendah masih terus dirasakan.

Tanyalah pada mereka yang berburu posisi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Apa motivasinya ingin jadi abdi negara? Bekerja sebagai PNS masih jadi incaran, karena dinilai lebih tinggi status sosialnya. Minimal dibandingkan dengan profesi lain, walau di zaman Belanda sama-sama disebut Inlander. Alam pikiran bawah sadar ini menjadi semacam impian massif,hingga menjadi pejabat pemerintah dari tingkat tukang sapu sampai presiden menjadi dambaan banyak orang.

Dulu di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW, ketika para sahabat diberi amanah sebagai khalifah, mereka akan mengucap istighfar. Bukan karena merasa tidak mampu. Tapi mereka membayangkan, betapa beratnya pertanggungjawaban tidak hanya didunia, tapi juga di akhirat. Sekarang, kalah suara di pilkada pun bisa menjadi pelecut aksi massa yang berujung pada bentrok dan pembakaran. Kita menjadi tuna susila ditengah krisis identitas diri. Merasa diri paling pinter dan menganggap yang lain dibawah, dan tidak mampu. Pejabat kita menjadi arogan dan tak pandai mengukur baju sendiri, karena nafsu berkuasa lebih besar dibanding bayangan pertanggungjawaban yang bakal diminta nanti.

Kasus pemukulan pramugari Sriwijaya Air oleh Zakaria Umar Hadi dan pemukulan yang dilakukan Bupati Seram Timur terhadap petugas Lion Air baru-baru ini, semakin meyakinkan kita, selain tuna etika, mental pangrehpraja zaman Belanda diam-diam masih hidup di dalam sanubari sebagian pejabat kita. Jika kita negatif thingking, barangkali banyak pula peraturan-peraturan di lembaganya yang membuat mereka tak nyaman diinjak-injak. Ini mungkin, karena taat asas dan norma, sesungguhnya menjadi barang wajib yang secara an sich sudah melekat pada seorang pejabat setingkat mereka.

Memang mental pangrehpraja tak hanya menyusup diantara para aparatur pemerintah. Lingkungan pergaulan dan pola didik yang salah, juga membuat segelintir orang kaya dan beberapa artis tenar terkena sindrom Fir’aun. Karena merasa memiliki segalanya, dan menjadi penentu hidup matinya seseorang, Fir’aun akhirnya mengklaim diri sebagai Tuhan. Tentu beberapa artis itu tak sampai mengaku sebagai Tuhan. Tapi sikap intoleran terhadap aturan, bahkan untuk hal kecil seperti tak boleh merokok di ruangan ber-AC, semakin meneguhkan ada yang perlu diperbaiki dalam level keluarga.

Butuh waktu untuk membongkar  pranata sosial yang keliru dalam masyarakat. Banyak kendala menghadang, dari sistem masyarakat patriakhi, hingga bahasa daerah yang membuat kita terkotak-kotak dan jauh dari sikap egaliter.Namun begitu, energi kita tidak boleh habis, untuk mengenalkan betapa keluhuran budi dan jiwa menjadi lebih penting, dibanding jabatan setinggi apapun, karena “kursi” yang kita duduki pasti akan purna. Ya,minimal kenalkanlah dengan tiga kata tadi; maaf, silahkan dan terima kasih. Karena itulah pondasi yang bakal menegakkan menara kerendahatian, setinggi dan sebesar apapun amanah jabatan dan kekayaan yang kita emban. 



Friday, June 28, 2013

Memburu CR7 hingga ke Bali

CR7 dan Irina,model jelek asal Rusia
Telepon genggam saya berdering Minggu (23/6) siang, dan seorang perempuan mengeja nama saya dengan takzim.”Mas Ariful Hakim?”ucapnya. Saya mengiyakan. Si perempuan, yang belakangan saya panggil Ibu Fika Kansil, mencocokkan nama saya untuk tiket ke Bali, sesuai pemberitahuan dua hari sebelumnya. Kata Bu Fika, nanti berangkatnya Selasa (25/6) pagi. Mega bintang sepak bola asal Portugal, Cristiano Ronaldo, akan datang ke Bali dan menanam pohon bakau bersama Pak Beye. Walau saya lebih ngefans Lionel Messi, tapi demi tugas okelah perjalanan itu saya lakoni.

Ada dua hal yang membuat pengalaman liputan pemain Real Madrid yang biasa disapa CR7 ini meninggalkan kesan tak enak. Pertama, kerja panitia yang acakadut. Kedua, sikap CR7 yang suka mengubah-ubah jadwal yang sudah diberikan panitia pada wartawan. Sehari sebelum berangkat, saya mesti dateline naskah hingga pagi. Selasa (25/6) pukul 02.00 WIB, setelah naskah kelar, saya ngebut pulang ke rumah. Tiba di rumah pukul 03.00 WIB, ambil tas, langsung  balik lagi ke kantor. Dari kantor, sekitar pukul 04.15 naik taksi ke bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Saya memang lumayan kesal, karena semua serba mendadak. Bayangkan, pemberangkatan pesawat ke Bali  Selasa pukul 07.00 WIB baru saya terima Senin pukul 23.00 WIB. Mungkin dikiranya saya sudah leyeh-leyeh di rumah. Kelon sama bini. Padahal sejak Senin pagi, saya jaga gawang sampai malam di kantor. Dalam kondisi tidak tidur semalaman, tiba di bandara Soekarno-Hatta pun tak ada satu panitia dari Artha Graha Peduli (pihak pengundang), yang menunggu. Saat saya BBM, Ibu Fika bilang, ketemu di Bali saja ya?Di Hotel Discovery Kartika Plaza. Beuh...aya-aya wae.

Sebagai jurnalis yang biasanya tinggal terima beres, terpaksa saya bayar airport tax sendiri. Berangkat sendirian kayak orang hilang. Bahkan sampai di Bandara Ngurah Rai, sekitar pukul 09.00 WITA, lagi-lagi tak ada panitia yang bisa ditemui. Saya BBM lagi, kali ini saya disuruh naik taksi sendirian lagi ke  hotel. Untunglah saya cukup hati-hati, meski akhirnya harus bayar Rp 50 ribu untuk jarak yang begitu dekat. Ini taksi borongan. Tak ada argonya. Mobilnya saja merk Honda City. Tapi sudahlah, yang penting selamat sampai hotel.

Lagi-lagi ujian kesabaran harus saya lalui, usai registrasi di media centre. Saya di suruh chek in. Tapi begitu ke resepsionis, kamar jatah saya baru bisa dibuka pukul 14.00 WITA. Eh, busyet deh. Saya sempat ngomong ke panitia. Tapi alasan mereka, katanya nama saya baru masuk.”Lha, saya sudah ditelepon sejak minggu je...,”kata saya. Tapi tetap saja, kunci kamar tertahan. Terpaksa saya tidur di kursi lobi. Saat perut lapar, saya coba keluar hotel. Dalam bayangan saya, siapa tahu ada warteg yang bisa dimasuki.

Tapi saya lupa.  Ini Bali bung. Apalagi hotel yang saya tempati berada tepat di depan pantai Kuta. Semuanya restoran mahal. Ah, males buat makan harus buang-buang duit. Untung saja ada pedagang keliling. Orangnya naik sepeda motor. Ia menjajakan nasi, lauk, dan makanan camilan. Gaya pakaiannya lumayan membuat saya terhibur. Sandal ungu, kaos kaki, helm, baju, dan celana  semua serba ungu. Wow, rupanya si mpok ini penggemar band Ungu ya? Saya beli dua bungkus kacang rebus.”Harganya dua ribu,”ujarnya.Lumayan buat mengganjal perut.

Ubah-ubah Jadwal
Pukul 13.00 saya bilang terus terang sudah lapar pada panitia. Saya disuruh menuju restoran Pond, yang berada dilantai bawah hotel. Usai menyantap nasi, daging, udang dan buah, saya sambangi lagi resepsionis. Alhamdulilah, akhirnya kunci kamar diberikan. Sore itu, saya masuk ditemani seorang kameramen tayangan C&R. Dalam rundown acara, CR7 akan datang pukul 23.00 dan kita diagendakan untuk meliput di Bandara Ngurah Rai. Tapi sekitar pukul 21.00, saya ditelepon panitia. Peliputan Ronaldo dibatalkan. “Manajemennya bilang, biar Ronaldo bisa fit,”kata si mbak panitia. Ya, sudah, mending tidur saja.

Acara hari Rabu (26/6), pagi-pagi sekitar pukul 06.30 harus sudah siap-siap di lobby hotel. Semua jurnalis akan di bawa ke Tanjung Benoa, tempat CR7 dikukuhkan sebagai duta mangrove bersama Pak Beye. Untunglah saya tidak terlambat bangun. Dengan bus kecil, kami berangkat ke Tanjung Benoa. Sampai di sana sekitar pukul 08.00. Ratusan tamu undangan sudah datang. Begitu juga anak-anak SD yang disuruh menyambut  Pak Beye.

Kita standby bukan dalam hitungan menit. Tapi hampir dua jam lebih, baru CR7 datang. Sepuluh menit kemudian Pak Beye dan Bu Ani tiba. Repotnya, karena ada R1, semua jurnalis tidak boleh moving untuk mengambil gambar. Kalau sudah ambil posisi di satu tempat, ya harus disitu terus. Akhirnya saya pilih di sisi panggung tempat penanaman pohon bakau. Konsekwensinya, saya tak bisa memotret acara seremonial.
nanam bakau
CR7 nampak tersenyum-senyum di sisi Pak Beye, saat acara penanaman dimulai. Ia mengenakan kaos biru dan celana jins, dengan sepatu putih. Tak butuh lama, CR7 dan Pak Beye segera meninggalkan tempat acara. Jika Pak Beye langsung ke hotel, CR7 masuk ke dalam tenda untuk rehat. Tak ayal, banyak orang-orang yang menunggunya keluar. Ada yang bawa kaos dan sepatu untuk ditandatangani.
                                        
Penjagaan ketat polisi, tentara dan pecalang, membuat semua upaya penggemar CR7 meminta tanda tangan gagal total. CR7 langsung masuk mobil Alphard, dan bahkan tidak membuka kaca. Panitia hanya menjanjikan pada peliput, konperensi pers akan diadakan pukul 14.00 WITA. Dengan kondisi lemas dan panas, akhirnya saya mencari bus untuk kembali ke hotel.

Usai rehat sejenak di kasur hotel yang empuk dengan AC sedingin salju, ada pemberitahuan, jumpa pers diundur pukul 17.00. Ya sudahlah, saya pakai untuk molor lebih lama. Pukul 17.00 saya bergegas ke restoran Pond, lokasi jumpa pers. Saya berfikir sudah terlambat. Tapi, sampai di sana, acara jumpa pers ternyata kembali diundur pukul 19.00. Hadeuh, slompret.”Pihak manajemen CR7 yang minta mas,”ujar cewek cantik yang jaga buku registrasi. Ampun.

Akhirnya saya  pakai untuk makan,sembari menunggu pukul 19.00. Ada pengalaman menggelikan, saat saya sedang menyendok nasi. Seorang bule perempuan tiba-tiba membungkuk melihat jam tangan saya.”Time o’clock,”katanya cepat. Karena kepala saya lagi kesal, saya sodorkan saja arloji dekat kepalanya dan ia menyambar dengan cepat,”Five o’clock?”.”Yes...”ujarku sok nginggris.

Tapi sepeninggal bule itu, saya jadi tertawa terpingkal-pingkal. Soalnya jam tangan saya masih menunjukkan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) alias terlambat satu jam. Jadi mestinya di Bali sudah pukul 18.00 alias jam enam. Untung saja bule itu lantas menghilang. Saya nggak tahu bagaimana caranya ngobrol, kalau dia komplain atau ngomel-ngomel. Maklumlah, wong ndeso ora bisa basa Inggris!Ngok...

Rebutan Foto
Ada permintaan aneh bin nyleneh, sebelum Ronaldo memasuki ruangan jumpa pers. Pertama, tidak boleh memotret memakai blits. Kedua, kalau mau motret, jangan kedengaran bunyi “klik”. Syarat terakhir ini diprotes teman-teman. Bagaimana mau memotret tanpa kedengaran “krek”?Sudah dari sononya kamera model profesional yang ada suaranya “ceklik” kalau nembak sasaran. Apa mesti suaranya di ubah jadi “brot”. Protes ini akhirnya diterima.

Saat muncul, Ronaldo pakai baju putih dan celana jins, cengengesan di depan, menjawab pertanyaan moderator, tapi tidak membuka sesi tanya jawab dengan jurnalis. Rupanya panitia takut, ada wartawan yang tanya kenapa pacarnya, Irina Shayk ngumpet mulu?Ada juga yang mau minta komentar soal pelatih baru Madrid, Charlo Ancelloti. Malam itu, CR7 khusus bicara mangrove. Tidak yang lain. Apalagi soal persaingannya dengan Messi,hahaha..
 
pak presiden foto bareng CR7
Nah, ada kejadian kocak, saat puluhan jurnalis meminta diadakan sesi foto bareng. Karena tak mau melayani satu persatu, Aviani Malik, penyiar Metro TV yang juga jadi moderator, menyuruh CR7 memunggungi  kumpulan wartawan. Dalam hitungan detik, semua wartawan berlari mendekat, sampai menabrak-nabrak kursi. Saya yang bertubuh pendek, cuma bisa cengar-cengir tak dapat tempat, saking banyaknya yang mau foto bareng. Nasib....

Usai foto, CR7 langsung ditarik keluar ruangan. Agenda berikutnya adalah gala dinner, yang tertutup bagi para kuli tinta. Malam itu, saya pilih tidur di kamar, daripada mikir acara gala dinner, yang konon CR7 ditemani Irina. Soalnya, pukul 06.30 harus sudah keluar kamar untuk balik ke Jakarta. Puas tidak puas, ya harus dipuas-puasin. Yang penting semua acara sudah saya ikuti, meski tidak maksimal karena berbagai kendala.

Pagi-pagi, naik dua kijang Innova, sekitar sepuluh wartawan Jakarta dianter ke bandara. Tak ada panitia yang melepas. Semua masih tidur. Tapi kami sudah sampai pada tahap muak.”Sudah, nggak usah dipikir, biarpun kita seperti habis manis sepah dibuang. Ini mobil anteran juga kita ngotot. Tadinya disuruh naik taksi sendiri ke bandara,”kata seorang teman yang nampak geram dengan perlakuan panitia.

Pesawat lion air tiba di Jakarta pukul 09.00. Ada jemputan mobil dari kantor. Beberapa teman menagih oleh-oleh, seperti kaos joger. Saya bilang oleh-oleh dari Hongkong?Ini liputan paling amburadul dari sisi manajemen. Mungkin pihak artha graha merasa, nama besar CR7 sudah cukup jadi jaminan kita senang meliput. Anggapan yang ternyata tidak sejalan dengan alur berfikir para peliput.

Lha, buat apa lihat Ronaldo tapi hasilnya cuma capai?Emang gue penggemar dia?Kalau bisa foto bareng Messi, mungkin bisa terobati. Intinya,hasil yang didapat, tak sebanding dengan rasa kangen 4 hari berpisah dengan anak. Belum lagi jika berfikir, yang mengundang adalah pengusaha  sekelas Tomy Winata (TW). Sekali lagi, TW getoo lho...Nggak tahu TW ngerti atau tidak. Saya menduga, anak buahnya bilang, semua beres, termasuk perlakuan terhadap wartawan. Ah, andai saja Pak TW baca blog saya ini.Biar anak buahnya semua ditendang bokongnya satu-satu...buk,buk!





Saturday, June 22, 2013

Saya Sopir,Bukan Asisten Menteri...

DI dan istri
Melihat Dahlan Iskan, seolah melihat runtuhnya jalur birokratis seorang menteri. Jabatan politis yang kerap dipandang agker dan susah di sentuh, ditangan DI –begitu Dahlan Iskan biasa disapa, seolah jadi barang usang. Maka saat beliau hadir di Trans TV,Mampang, Jakarta Selatan, pertengahan Maret 2013 lalu, bertubi-tubi orang menyapanya. DI hadir dengan baju khasnya ; kemeja putih, celana katun hitam dan sepatu kets bertuliskan “DI” di tumitnya. Sang istri yang mengenakan jilbab, tak kalah ramai dan sumeleh.

Suasana saat itu memang gayeng. DI hadir bersama teman-teman senamnya. Kata seorang ibu yang ikut dengan kaos seragam, DI sering ikut senam di monas. Karena habis senam, mereka disuruh ikut serta oleh DI yang dijadwalkan akan melakukan konferensi pers. Belum lama, DI memang didaulat menjadi bintang iklan sebuah produk jamu ternama.”Jadi kita sekalian ikut ke sini mas. Itung-itung ngeramein,”kata si ibu keturunan Tionghoa itu.

Terbetik di benak saya lantas ingin membuat profil keluarganya. Sepertinya DI dan istrinya sangat harmonis.Mereka ramah, murah senyum dan menyapa siapa saja. Usai konferensi pers, saya dekati istrinya. Saya bilang, mau minta waktu untuk wawancara. Temanya soal profil keluarga. Sambutan si ibu mengejutkan.”Oh, boleh...mau kapan?Ayo aja,”ujarnya."Tapi saya minta waktu khusus agak banyak bu.Soalnya untuk dua halaman,"saya menukas."Boleeeeeh...atur aja,"kata si ibu. Mantabs....

Saya langsung berinisiatif untuk meminta nomor kontaknya. Tapi si ibu menunjuk seorang pria berbaju safari, dengan tas selempang hitam khas seragam ajudan menteri. Namanya Sahidin. “Ke dia saja. Nanti diatur jadwalnya,”kata istri Dahlan. Saya langsung menyambangi. Menyapa Sahidin. Ia memberi nomor dan saya mengutarakan maksud.”Bisa ya pak?Minta waktu pak menteri,”? Sahidin mengangguk-angguk.

Di lobi gedung Trans, saya kembali menegaskan. Sahidin kemudian menjanjikan, akan mengaturnya.Saya ingat, SMS saya dibalas waktu saya sedang meluncur ke Cirebon, Jawa Barat, di minggu berikutnya.”Besok pagi saja di Monas jam 4 pagi,”kata Sahidin. Saya bilang waduh, tidak bisa pak. Karena saya sedang ada liputan di Cirebon. Saya minta dijadwal ulang. Usai pulang dari Cirebon, saya kembali minta waktu. Tapi Sahidin tidak menjanjikan.

Tak mau kehilangan buruan, minggu berikutnya saya kembali tagih janji Sahidin. Tapi lagi-lagi oleh Sahidin saya di suruh datang ke Monas jam 4 pagi. Sahidin tidak menjelaskan, di sebelah mana saya akan bertemu DI. Padahal Monas khan amat luas? “Pokoknya datang saja.Khan yang butuh abang?”balas Sahidin, ketus. Saya mencoba bersabar. Pengalaman dengan berbagai tingkah ajudan orang penting yang menjengkelkan, membuat persediaan sabar saya harus ekstra banyak.

Saya memang ngeri juga membayangkan, harus keluar jam berapa dari rumah kalau ditunggu di Monas jam 4 pagi. Minimal 2.30 sudah berangkat. Karena ingin memastikan jerih payah saya tidak sia-sia, saya lantas meminta jaminan Sahidin.”Pak, tapi pak menteri pasti mau ya kalau saya datang pagi-pagi?Takutnya begitu nyampe di Monas, beliau nggak mau wawancara,”kata saya. Apa jawaban Sahidin?

“Lha, ya nggak tahu?Situ datang saja nanti di sini nego lagi mau nggak pak menteri wawancara?”jawabnya enteng. Inilah yang membuat saya tak habis pikir. Saya minta baik-baik, apakah bisa diatur waktunya supaya jangan ketemu di Monas jam 4 pagi, ditolak. Begitu meminta jaminan, jika saya datang DI mau diwawancara, Sahidin ngomong begitu. Jujur, saya mulai kesal.

“Bapak ini bagaimana sih?Khan ibu sudah mau diwawancara dan memberi wewenang Pak Sahidin untuk mengatur waktunya?Kok malah melempar ke saya untuk melobi lagi?Kalau bapak mempersulit gini, nanti saya bilang ke pak DI, kalau bapak nggak kooperatif,”ancam saya.

Kemarahan saya itu rupanya membuat Sahidin tersinggung. Dia lantas mempertanyakan, apa maksud saya hendak melaporkan ke boss-nya. Tapi saya tetap keukeuh, nih orang harus dikasih pelajaran.”Bapak itu yang nggak sopan. Ketus gitu kalau ditanya baik-baik. Saya yakin pak menteri nggak bakalan seperti itu, karena dia itu bekas wartawan. Apa bapak nggak pernah ngurus wartawan ya?Kalau perlu saya laporkan ke presiden, karena saya punya link ke SBY,”semprot saya lagi.

Sahidin rupanya keder. Dia lantas menjawab,”Pak, maaf, saya bukan asisten pribadi pak menteri. Saya cuma sopir. Jadi nggak ngerti apa namanya prosedur segala macam,termasuk bagaimana meyakinkan pak menteri agar mau diwawancara”katanya. Saya bilang, oh, pantas sikap bapak seenak udel. Diajak diskusi bagaimana biar sama-sama nyaman, bawaannya nyolot mulu.”Bilang dari dulu kalau bapak bukan asisten pribadinya kek. Jangan sok penting. Sudah saya nggak akan menghubungi sampeyan lagi.Saya mau cari chanel lain,”kemarahan saya mencapai puncak.

Rupanya Sahidin masih takut dengan ancaman saya. Dia terus mendesak, apa dasar saya hendak melaporkan dia ke DI atau SBY. Tapi dalam hati saya tertawa saja.Bukan apa-apa. Kalau misalnya tidak bisa mengatur jadwal pertemuan, buat apa dari awal capai-capai meladeni saya?Belakangan saya memang tidak berminat untuk mewawancarai DI lagi. Berdasar informasi dari berbagai sumber, DI tidak memenuhi syarat yang saya inginkan. Benar tidaknya isu itu, sampai sekarang saya tak berminat untuk menelisiknya?Biar waktu nanti yang akan menjawabnya.