Daftar Isi

Saturday, June 22, 2013

Beberapa Budaya Betawi

Saban ulang tahun kota Jakarta, beberapa kesenian khas Betawi biasanya ikut unjuk gigi.Momentum ini seolah menjadi penanda untuk terus melestarikan peninggalan nenek  moyang, ditengah gerusan budaya modern yang semakin menggila. Ada beberapa tradisi Betawi yang tetap eksis, disamping beberapa yang sudah jarang dimainkan. Berikut diantaranya;

Ondel-ondel
Boneka raksasa yang sering diarak keliling kampung oleh warga Betawi ternyata awalnya disebut Barongan.Tak ada yang tahu pasti arti kata tersebut. Mungkin berasal dari kata “barengan” yang berarti bareng-bareng atau sama-sama. Sebutan itu datang dari kalimat ajakan dalam logat Betawi “Yok, kita ngarak bareng-bareng”. Sejak kapan kemunculannya?Yang jelas boneka raksasa ini sudah ada sejak VOC mulai masuk ke Indonesia.

Pedagang dari Inggris, W. Scot, mencatat dalam bukunya jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada pada tahun 1605. E.R. Scidmore, wisman asal Amerika Serikat yang datang ke Jawa dan tinggal cukup lama di Batavia, pada pnghujung abad ke-19, melaporkan dalam Java, The Garden of The East, adanya pertunjukan seni jalanan di Batavia berupa tarian. Schidmore tidak menyebut secara jelas apa jenis tarian itu. Namun dapat diperkirakan bahwa kesenian itu adalah ondel-ondel, mengingat tarian itu bermain di jalanan.

Dahulu konon ondel-ondel biasanya minta madat. Namun karena madat atau ganja dilarang, sebagai gantinya Ondel-ondel dikasih rokok lisong,  dengan cara ditempelkan di mulutnya. Ondel-ondel juga bisa digunakan untuk menolak bala atau roh jahat. Konon wabah cacar habis, setelah orang mengarak Ondel-ondel keliling kampung.

Walaupun pertunjuukan semacam ini juga dikenal ditempat lain, seperti Badawang di Priangan dan Barongan Buncis di Cirebon, tapi ondel-ondel memiliki karakteristik yang khas. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran tinggi 2,5 meter dan garis tengah 80 cm. Dibuat sedemikian rupa agar pemikulnya yang berada di dalamnya dapat bergerak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi.Matanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar melotot.

Disamping untuk memeriahkan arak-arakan, pada masa lalu bisa pula untuk pertunjukan keliling. Teurtama pada perayaan Tahun Baru, baik masehi atau imlek. Pendukung utama kesenian Ondel-ondel adalah  petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di pinggiran Kota Jakarta dan sekitarnya. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantiasa diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat, upacara seperti ini disebut “ukup” atau “ngukup”.

Tanjidor
Terlepas dari sejarah asal-usul yang panjang, kesenian Tanjidor tetap diakui sebagai representasi kesenian Jakarta yang unik dan antik. Dulu, kesenian ini merupakan iringan wajib dalam setiap kegiatan seremonial keagamaan serta musik penghibur di tiap perhelatan masyarakat Betawi.

Kini, Tanjidor secara perlahan mulai tergusur dari kancah hiburan rakyat di Jakarta. Keberadaan musik adaptasi dari genre jazz ini terjepit di antara organ tunggal, dangdut dan jaipong, serta band pop, yang lebih populer di kalangan masyarakat Ibu Kota.

Tanjidor sebagai satu jenis kesenian musik asli Betawi, dimainkan secara berkelompok. Ada beberapa pendapat soal asal usul dan sejarah munculnya kesenian ini. Musik Tanjidor diduga berasal dari bangsa Portugis yang datang ke Betawi pada abad ke-14 sampai 16. Menurut sejarawan, dalam bahasa Portugis terdapat kata Tanger yang berarti "memainkan alat musik". 

Kata "Tanjidor" berasal dari kata dalam bahasa Portugis “Tangedor”, yang berarti "alat-alat musik berdawai". Tetapi dalam kenyataannya, nama Tanjidor tidak sesuai lagi dengan istilah asli dari Portugis itu. Yang masih sama adalah sistem musik dari Tangedor, yakni sistem diatonik atau duabelas nada berjarak sama rata. Ensambel Tanjidor terdiri dari alat-alat musik seperti; klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum (membranofon), simbal (perkusi), dan side drums (tambur).

Di Portugal, Tangedores mengiringi pawai-pawai keagamaan pada pesta penghormatan pelindung masyarakat, misal pesta Santo Gregorius, pelindung Kota Lissabon, tanggal 24 Juni. Alat-alat yang dipakai adalah tambur Turki, tambur sedang, seruling dan aneka macam terompet.  Biasanya pawai itu diikuti boneka-boneka besar yang selalu berjalan berpasangan. Satu berupa laki-laki, yang lain perempuan, dibawa oleh dua orang, yang satu duduk di atas bahu orang yang berjalan. Boneka-boneka itu mirip dengan Ondel-ondel Betawi yang mengiringi rombongan Tanjidor. 

Di lain pihak, sejarawan Belanda bernama Dr. F. De Haan berpendapat orkes Tanjidor berasal dari orkes budak pada zaman Kompeni. Pada abad ke-18 kota Batavia dikelilingi benteng tinggi. Tidak banyak tanah lapang. Para pejabat tinggi Kompeni membangun villa di luar kota Batavia. Villa-villa itu terletak di Cililitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Di villa-villa inilah terdapat budak-budak yang memiliki keahlian memainkan alat musik seperti: klarinet, piston, trombon, tenor, bas trompet, bass drum, tambur, simbal, dan lain-lain. Para budak pemain musik bertugas menghibur tuannya saat pesta dan jamuan makan. 

Repertoar Tanjidor merupakan hasil perkawinan antara lagu Betawi asli (kromongan), laras Mandalungan, lagu zaman Belanda yang merupakan lagu mars (mares Merin, dari kata Marine, mares Duelmus, dari kata Wilhelmus) dan walsa (lagu musik dansa) serta lagu Melayu modern yang dikenal sebagai irama dangdut. 

Hingga akhirnya perbudakan dihapuskan pada tahun 1860. Pemain musik yang semula budak menjadi orang yang merdeka. Karena keahlian bekas budak itu bermain musik, mereka membentuk perkumpulan musik yang akhirnya dinamakan Tanjidor. 

Gambang kromong
Sebuah orkes tradisional Betawi yang merupakan orkes perpaduan antara gamelan dan musik Barat dengan nada dasar pentatonis bercorak Cina. Orkes ini memang erat hubungannya dengan masyarakat Cina Betawi, terutama Cina peranakan dan populer di tahun 1930-an. Instrumen gamelan pada gambang kromong terdiri dari gambang kayu, seperangkat bonang lima nada yang disebut kromong, dua buah alat gesek seperti rebab, dan resonator terbuat dari tempurung kelapa mini yang disebut ohyan dan gihyan,suling laras diatonik yang ditiup melintang, kenong dan gendang. Sedangkan instrumen musik dari Barat meliputi terompet, gitar, biola, dan saksofon.

Sekitar tahun 1937 orkes-orkes gambang kromong mencapai puncak popularitasnya. Salah satu yang terkenal Gambang Kromong Ngo Hong Lao, dengan pemainnya terdiri dari orang-orang Cina semua. Alat-alat musik dalam orkestra tersebut dianggap paling lengkap, terdiri dari alat-alat seperti; gambang kayu; seperangkat kromong; empat buah rebab Cina yang berbeda-beda ukurannya; alat petik berdawai disebut Sam Hian; sebuah bangsing bambu; dua buah alat jenis cengceng disebut ningnong; sepasang Pan, yakni dua potong kayu yang saling dilagakan untuk memberi maat (tempo). Tangga nada yang dipergunakan, bukanlah slendro seperti laras gamelan Jawa, Sunda atau Bali, melainkan modus khas Cina, yang di negeri asalnya dahulu bernama tangga nada Tshi Che; seperti yang di dengar pada gambang.

Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama gambang. Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan, yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes ini dinamakan Gambang Kromong. Pada masa itu hampir setiap daerah di Betawi memiliki orkes Gambang Kromong, bahkan tersebar sampai daerah Jatinegara, Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogor, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.

Orkes Gambang Kromong tidak lepas dari jasa Nie Hoe Kong, seorang pemusik dan pemimpin golongan Cina pada pertengahan abad XVIII di Jakarta. Atas prakarsanya, penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik yang berasal dari Tiongkok.

Pada masa lalu, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Di samping untuk mengiringi lagu, Gambang Kromong biasa dipergunakan untuk pengiring tari pergaulan yakni tari Cokek, tari pertunjukan kreasi baru dan teater Lenong.

Lenong Betawi
Lenong adalah teater tradisional Betawi. Biasanya diiringi musik Gambang Kromong. Skenario Lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu mencegah keserakahan dan perbuatan tercela lain. Bahasa yang digunakan dalam Lenong adalah Bahasa Melayu (atau sekarang bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Lenong berkembang sejak akhir abad 19 atau awal abad 20. Seni teater mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi dari pertunjukan seni yang sama seperti "komedi bangsawan" dan "teater opera" yang sudah ada pada saat itu. Menurut Firman Muntaco, seniman Betawi, kolaborasi teater Lenong dan musik Gambang Kromong sudah jadi tontonan sejak 1920-an.

Para pemain Lenong berevolusi dari lelucon-lelucon tanpa plot menjadi pertunjukan dengan skenario ketat hingga bisa bermain sepanjang malam dan utuh. Awalnya, pertunjukan ini diadakan dari desa ke desa. Di akhir pertunjukan, penonton diminta sumbangan secara suka rela. Selanjutnya, Lenong mulai dipentaskan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru pada awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.

Setelah mengalami masa sulit, seni Lenong yang dimodifikasi tahun 1970-an mulai rutin pentas di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern, Lenong juga direvitalisasi ke dalam pertunjukan selama dua atau tiga jam,tidak lagi sepanjang malam.Lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan di televisi, yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia mulai tahun 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi terkenal sejak saat itu misalnya Bokir dan Nasir.

Ada dua jenis lenong yaitu Lenong Denes dan Lenong Preman. Lenong Denes aktor dan aktrisnya biasanya memakai pakaian formal dan kisahnya tentang kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. Sedangkan Lenong preman alias sipil, jalan ceritanya tidak ditentukan sutradara dan berkisah soal kehidupan sehari-hari. Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa halus (tinggi Melayu), sementara Lenong Preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.

Tari Topeng
Tari Topeng Betawi adalah tarian tradisional khas masyarakat Betawi.  Tarian ini biasanya dipentaskan sambil diiringi musik Gambang Kromong. Penarinya menggunakan topeng kayu. Pada zaman dulu, Tari Topeng Betawi merupakan bagian dari pertunjukan Topeng Betawi. Topeng Betawi adalah pertunjukan gabungan antara seni drama, tarian, dan nyanyian. Mirip seperti pertunjukan teater.

Seiring perkembangan zaman, Tari Topeng Betawi sudah jadi sebuah pertunjukan tersendiri. Hingga tarian ini masih sering dipentaskan. Beraneka ragam Tari Topeng Betawi yang dikenal, antara lain : Tari Lipet Gandes, Tari Topeng Tunggal, Tari Enjot-enjotan, Tari Gegot, Tari Topeng Cantik, Tari Topeng Putri, Tari Topeng Ekspresi, dan Tari Kang Aji.

Ada beberapa syarat untuk menarikannya.Pertama, si penari harus gandes. Gandes artinya luwes atau gemulai. Yang kedua, si penari harus ajar. Ajar artinya ceria atau riang.Ketiga, penari harus menari dengan lincah tanpa beban. Istimewanya lagi, tarian ini dibawakan dengan menggunakan topeng kayu. Agar topeng itu menempel di wajah penari, penari harus menggigit bagian belakang topeng.(berbagai sumber)




Thursday, June 13, 2013

Bertemu Kepala Kerbau di Laut Jawa

rombongan perahu
Buncahan air laut segera membumbung tinggi, saat tubuh legam itu terjun bebas dari lunas perahu. Beberapa orang menjerit ketika terkena percikan air. Sejenak laju perahu melambat. Sejumlah remaja tanggung menyusul terjun, lantas bergelantungan di seutas tali. Kapal kembali melaju. Seperti bermain ski, anak-anak muda Dukuh Karang Bulu, Cirebon, Jawa Barat itu meluncur deras di tengah serpihan ombak dan dinginnya air Laut Jawa. Suasana ceria, penuh canda, bahkan sedikit membersitkan kengerian mewarnai pesta laut Minggu (9/6) siang, ketika saya berkunjung bersama sejumlah kader Partai Amanat Nasional (PAN), Jakarta.

Saat saya datang, sekitar pukul 09.00 WIB, bau amis ikan segera menyerbu hidung. Suasana sudah mulai ramai. Di tiap pos kamling, yang berjajar dengan jarak 50 meter, berkumandang lagu tarling khas Cirebon. Ratusan warga setempat, yang didominasi muda-mudi dengan baju yang paling bagus, mulai keluar dan masuk ke dalam perahu yang berjejer di sungai Ciberes. Saya sempat ragu untuk menaiki satu perahu. Tapi keinginan kuat untuk menjajal pengalaman seru ini tak terbendung.
berenang di laut


“Ayo, mang.Melu bae...ora bayar kok”kata anak-anak kecil yang saya temui. Beberapa remaja putri dengan dandanan khasnya tak kalah agresif mengajak. Mereka bahkan senang, saat saya tanya-tanya tradisi Nadran alias pesta laut yang diadakan tiap sebelum lebaran. Tanpa pikir panjang, saya akhirnya menaiki salah satu perahu bersama sekitar 20 orang.

Perahu bertenaga mesin diesel itu melaju ke tengah. Puluhan, bahkan mungkin ratusan perahu berkonvoi menuju satu titik. Saya tidak hafal di mana titik yang dituju. Namun setengah jam setelah perjalanan penuh goyangan ombak itu, tiba-tiba semua perahu melaju ke arah yang sama. Saat jarak antar perahu sudah semakin rapat, mesin-mesin dimatikan. Bodi perahu saling bersenggolan. Lantas mulailah seperti yang saya ceritakan tadi. Laut Jawa yang dingin menjadi arena pemandian. Luar biasa.
 
damainya laut Jawa
Perahu beranjak sedikit, nampak keranjang bekas tempat kepala kerbau sudah mengapung-apung. Pelarungan kepala kerbau inilah rupanya, yang mengundang ratusan perahu berkumpul di satu titik. Berikutnya, tiap perahu yang ikut mengiringi pelarungan dibasuh dengan air laut. Bekal-bekal nasi kuning dan minuman dari daratan dibuka. Dalam kondisi mesin mati, tiap orang makan-makan di tengah laut. Minum dan menutup hidangan dengan buah jeruk. Semua berpesta. Beberapa mengabadikan dengan kamera ponsel yang dibawa, setelah makanan tandas tak bersisa.
 
markonah
Rangkaian acara Nadran berupa pelarungan kepala kerbau memang yang paling ditunggu-tunggu. Kata Markonah, ibu satu anak yang ikut bersama saya satu perahu, acara ini menjadi hiburan tersendiri. Semuanya gratis. Memang sebelumnya ada iuran warga. Tiap kepala keluarga ditarik Rp 20 ribu. Hal ini untuk membiayai semua urutan kegiatan. “Soale ora mung ngelarung endas kebo. Ana pentas sandiwara,wayang kulit karo pengajian juga,”kata Markonah.

Grup sandiwara Candra Kirana didatangkan dari Majalengka. Sementara grup wayang kulit Swara Muda cukup dari Cirebon. Sebuah panggung besar yang berdiri di sisi Kali Ciberes, menjadi pusat kegiatan. Berapa biaya untuk mengadakan tradisi Nadran saban tahun?”Sekitar 50 juta habis,”kata Casmun, anak muda yang mengemudikan perahu yang saya tumpangi. Saat saya datang, semua biaya Nadran dan bantuan perlengkapan nelayan sekitar Rp 300 juta di sumbang oleh PAN.
 
berkumpul di satu titik
Ketika matahari sudah di ubun-ubun kepala, semua perahu membubarkan diri. Perut-perut sudah kenyang. Beberapa ABG memang masih terlihat asyik berenang di laut. Mereka lantas dengan sigap menangkap ban di sisi perahu, dan naik tanpa kesulitan. Yang lain terus berselancar menggunakan dadanya,sambil berteriak-teriak kegirangan. Asap hitam sesekali mengepul dari mesin diesel yang menderu-deru, mendorong tubuh perahu menuju daratan.
 
memandikan perahu
Jujur, saya kagum dengan kemampuan berenang mereka. Tapi belakangan saya tidak heran, karena saat perahu mulai masuk ke sungai Ciberes, puluhan anak kecil dengan stereofoam mengambang berenang di sisi perahu, timbul tenggelam. Mereka enak saja bermain-main di sungai yang dalam, tanpa takut tertabrak perahu. Kata Markonah, laut sudah jadi sahabat mereka. “Dadi wis biasa. Ora heran maning,”ujarnya.

Dengan kepala cenut-cenut karena kepanasan, saya tinggalkan perahu dan ingar-bingar musik dangdut kampung nelayan Dusun Karang Bulu. Siang itu perut sudah mulai melilit. AC bus yang saya tumpangi bersama puluhan wartawan lain, tak mampu mengusir kliyengan di kepala, karena hempasan ombak yang menggoyang kapal yang baru saja saya naiki. Tapi melihat anak-anak muda berenang, remaja-remaja putri Dusun Karang Bulu berdandan,dan kepolosan Markonah, membuat keruwetan hidup di Jakarta seperti mencair.
 
bekal makanan

“Mang, aja kelalen inyong di foto ya?Ben mlebu koran,”canda Markonah sebelum berpisah. Jepret,jepret. Saya ambil beberapa foto. Gambar-gambar itulah yang seolah mengingatkan saya; ada dunia indah di dekat kita. Tempat di mana tidak ada kepentingan politik, persaingan kantor, trik kotor, dan tetek bengek problem hidup yang ruwet dan menjengkelkan di tiap jengkal Jakarta. Hidup ini sebenarnya indah, jika kita bisa menikmatinya dengan ceria, sebahagia Markonah dan anak-anak nelayan itu.Idilah, loken?

Wednesday, June 12, 2013

Kuliner Khas Betawi

Jika dirunut satu persatu, cukup banyak kekayaan kuliner masyarakat Betawi yang bisa dinikmati. Dari sekedar makanan ringan, lauk pauk hingga minuman yang menyegarkan. Ada yang sudah terkenal, tapi banyak juga yang kini semakin langka, karena kalah oleh jajanan modern.  Berikut beberapa diantaranya.

Sayur Gabus Pucung
Sayur gabus pucung merupakan makanan khas Betawi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Makanan ini bahkan jadi bagian dari salah satu tradisi masyarakat Betawi, yaitu “nyorog”.Ini adalah tradisi masyarakat Betawi yaitu kewajiban menghantarkan makanan pada orang tua dari anak, atau menantu pada mertua. Biasanya dilakukan setiap menjelang bulan puasa atau lebaran.

gabus pucung
Meskipun tradisi ini sudah banyak ditinggalkan masyarakat Betawi, tapi ikan gabus pucung masih bisa dinikmati sebagian masyarakat Betawi dan non Betawi. Di masa lalu, menu sayur ikan gabus pucung ini juga menjadi menu khusus pada perhelatan atau jamuan penting, dan menjadi penarik selera. Pada saat ini gabus pucung dihadirkan pada acara kumpul keluarga, atau menyambut tamu khusus yang tidak berjumlah besar.

Asinan
Makanan yang satu ini terbilang unik atau berbeda dengan makanan khas Betawi lainnya. Hal ini karena proses pembuatannya dengan cara diacar yaitu melalui penambahan garam dan asam suka.  Rasanya yang khas, membuat makanan ini digemari. Isi asinan biasanya sayur-sayuran segar.

Racikan makanan ini konon berasal dari perpaduan budaya Betawi dan China. Nama asinan sendiri muncul dari proses merendam sayuran dan buah-buahan ke dalam larutan air dan garam. Makanan ini mirip dengan rujak, hanya saja jika rujak bahan yang disajikan segar, asinan bahan yang disajikan dalam keadaan diacar dan diasinkan.
sepiring asinan
Bahan asinan terdiri dari timun, sawi asin, tauge, kol,lobak dan potongan tahu. Ada juga sambal kacang dan diberi kucuran gula merah. Sebagai teman pelengkapnya, makanan ini dikasih kerupuk mie kuning dan kacang goreng yang membuat rasa asinan semakin bertambah nikmat.

Sayur Babanci
Sayur Babanci adalah salah satu makanan khas Betawi yang sudah hampir punah. Makanan ini sangat susah ditemukan di Jakarta saat ini. Wujud dari sayur Babanci seperti soto, tapi dengan kuah yang lebih kental. Bahan utamanya berupa daging, santan, kelapa sangrai, dan kelapa muda dengan bumbu-bumbu seperti kunyit, jahe, terasi, ketumbar dll.

Ciri utama makanan ini adalah serutan kasar kelapa muda di atasnya. Kelapa muda yang segar ini membuat rasa sayur menjadi lebih ringan. Tekstur kelapa muda ini juga bisa mengimbangi tekstur daging yang kasar. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengolah masakan ini, agar penyajian dan rasanya sempurna.

Salah satu alasan yang menyebabkan makanan ini langka, mungkin karena bahan-bahan untuk membuat Babanci semakin sulit ditemukan di Jakarta. Bahan-bahan itu misalnya temu mangga, kedaung, bangle, adas dan lempuyang. Babanci saat disajikan sebagai sayur ditemani oleh sejumlah lauk pauk lain seperti tempe, tahu dan krupuk. Bagi yang suka rasa pedas, dapat menambahkan sambal untuk menambah kelezatan makanan ini.

Laksa Betawi
Makanan khas Betawi ini juga jarang bisa ditemui di Jakarta. Namun begitu, dibeberapa lokasi tertentu masih bisa dijumpai.Laksa Betawi adalah panganan berjenis mie yang diberi bumbu. Laksa Betawi memiliki kuah berwarna kekuningan. Udang rebon yang dicampur ke dalam kuah, membuat rasanya menjadi segar dengan paduan aroma khas udang.

Selain itu, laksa Betawi biasanya menggunakan ketupat, telur, kemangi, tauge, kucai,bihun,perkedel dan bawang goreng.  Cara lain untuk menikmati laksa adalah menggunankan semur Betawi. Paduan rasa manis pada semur, akan menambah gurih di lidah. Namun ini bukan sebuah keharusan, karena tergantung selera masing-masing.

Ketoprak Betawi

Makanan tradisional Betawi ini cukup banyak penggemarnya. Potongan lontong, taburan tauge dan bihun yang dicampur dengan bumbu kacang yang kental cukup mengenyangkan untuk makan siang. Tak sulit untuk menemukan ketoprak, karena hampir di setiap sudut kota Jakarta ada penjualnya. Biasanya pedagang yang menjual ketoprak berkeliling dengan menggunakan gerobaknya. Tapi sekarang beberapa rumah makan pun menyediakan ketoprak sebagai salah satu menu mereka.

Ayam Sampyok
Ayam Sampyok, hidangan mewah Betawi kota dengan sentuhan cita rasa China yang menyelimuti daging empuk ayam. Perlu diketahui, dua layer proses “pembumbuan” dilakukan untuk mendapatkan rasa lezat Ayam Sampyok ini. Sehingga sedap hingga ke dalam ayam terasa terus hingga akhir santapan.

Kerak Telor
Kerak telor merupakan salah satu makanan khas daerah Betawi yang gampang di temui di arena Pekan Raya Jakarta. Makanan ini dibuat dari bahan-bahan seperti beras ketan putih, telur ayam atau bebek, ebi (udang kering) dan parutan kelapa yang disangrai kering,  bawang goreng, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam dan gula pasir sebagai bumbu pelengkapnya.

Cara membuat makanan ini cukup unik karena tidak dimasak di atas kompor namun dimasak diatas bara api. Pedagang kerak telor sesekali membalikkan wajan agar permukaan dari kerak telor tersebut juga terpanggang dan matang merata sambil dikipas-kipas agar bara api tetap menyala. Setelah kering dan matang kerak telor siap untuk disajikan.

Roti Buaya
Buaya adalah binatang yang paling setia dengan pasangannya. Buaya berbentuk roti dalam masyarakat Betawi merupakan representasi dari kesetiaan. Oleh karena itu harus diberikan sepasang. Roti buaya ini berbentuk buaya kecil yang lucu. Sayang, roti ini mulai sekarang juga sudah susah mendapatkannya. Toko-toko roti lebih banyak menjual berbagai jenis roti dari luar daripada roti khas Betawi ini.


Kue Cucur
kue cucur
Kue berwarna coklat ini sering dijumpai di sekitaran Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Bagian tengah kue cucur biasanya lebih tebal daripada tepi-tepinya, yang kering berenda sehingga terasa gurih, manis dan renyah karena sedikit gosong.

Warna coklat kue cucur berasal dari gula merah yang membuat rasanya legit. Sebagai bahan dasar, kue ini terbuat dari tepung beras. Biasanya, di dalamnya ada semacam serat yang rasanya manis dan kenyal. Meski sudah mulai langka, tapi kue cucur masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Kue Akar Kelapa
Pernah mendengar kue akar kelapa? Kue tradisional khas masyarakat Betawi di Bekasi ini biasanya ditemukan saat Idul Fitri atau Lebaran. Makanan ini menjadi salah satu hidangan wajib disuguhkan saat hari raya. Sebagian orang Bekasi menyebutnya kue Procot. Dinamakan kue akar kelapa, karena bentuknya mirip akar kelapa. Sedangkan disebut kue Procot, karena saat digoreng adonannya diprocotkan atau dikeluarkan secara perlahan menggunakan tabung yang sudah dilubangi bagian ujungnya .
kue akar kelapa

Kue Pepe
Kue pepe biasanya dimakan sambil ditemani segelas kopi panas. Teksturnya lembut dan kenyal. Kue khas Betawi ini berlapis-lapis dengan warna menarik,membuat tampilannya makin cantik. Kue pepe atau kue lapis sagu ini rasanya manis dan lengket. Terbuat dari adonan tepung beras, tepung sagu, gula pasir dan santan. Agar terlihat lebih menarik,adonannya juga bisa diberi bermacam-macam warna.

Seperti kue lapis umumnya, kue berbentuk segi empat ini dikukus hingga matang. Dikalangan masyarakat Betawi, kue lapis sagu sering disajikan saat hajatan, tahlilan dan syukuran. Tampilannya memang mirip dengan kue lapis tapi adonan kue ini sedikit lengket, kenyal dan berwarna  cerah. Selain dijadikan camilan, kue pepe bisa juga dihidangkan untuk menu pencuci mulut. Kue ini juga banyak dijajakan di toko kue dan pasar tradisional.

Kue Rangi
Kue Rangi atau biasa disebut sagu Rangi terbuat dari tepung kanji dicampur dengan kelapa yang diparut kasar. Dahulu, orang memanggang kue Rangi dengan memanfaatkan api yang berasal dari kayu bakar atau arang. Alhasil, kue tersebut menjadi lebih wangi.

Kue Rangi adalah salah satu makanan khas Betawi yang juga mulai jarang didapatkan. Namun ada beberapa restoran dengan semangat melestarikan budaya Betawi, kembali memasukan kue ini dalam menu mereka. Kue ini  rasanya gurih karena mengandung parutan kelapa dan juga manis karena di permukaan ditaburi gula merah. Aromanya jangan ditanya, harum dan menggugah selera.

Dodol Betawi
Dodol yang legit ini sebenarnya tidak kalah pamornya dengan dodol Garut. Sayangnya tidak mudah menjumpai dodol Betawi di ibukota, hanya di kampung Dodol yang terletak di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan saja. Kita akan mudah menjumpai dodol Betawi karena wilayah tersebut merupakan sentra produksi dan penjualan dodol Betawi.

Bir Pletok

Bir pletok adalah salah satu minuman khas Betawi. Embel-embel bir pada minuman ini bukan berarti mengandung alkohol. Bir pletok justru merupakan minuman kebugaran dari rempah alami yang memiliki beragam khasiat. Salah satunya, bisa mengatasi masalah sulit tidur alias insomnia.

Pada acara-acara adat Betawi, bir pletok biasanya disajikan bersama dengan camilan-camilan khas Betawi lainnya. Bir ini terbuat dari rempah-rempah seperti jahe merah, kayu angin, kayu manis, serai, kapulaga, dll. Minuman ini memiliki sensasi hangat ketika diminum dan cocok diminum malam hari atau pada saat udara dingin.

Es Selendang Mayang
Bagi masyarakat Betawi, tentu sudah tak asing lagi mendengar jenis minuman yang juga bisa mengenyangkan ini. Minuman ini dapat mengenangkan, karena bahan utama dari es selendang  mayang adalah tepung sagu dan tepung beras berbentuk kue seperti agar-agar serta disiram dengan santan yang gurih dan segar.

Warna merah atau hijau dari adonan kue yang disajikan dalam potongan kotak-kotak dan berpadu dengan warna putih santan, membuat tampilannya seperti selendang. Meski sudah mulai langka, tapi bagi penggemar kuliner Betawi, es selendang mayang masih bisa dijumpai di kawasan Kota Tua, Glodok dan kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Es Doger
Es Doger banyak ditemukan di Jakarta. Minuman yang menyegarkan ini berisi es serut,tape singkong, ketan hitam ditambah sirup dan susu kental manis. Kadang-kadang ditambah juga roti tawar sebagai pelengkap, hingga rasa es doger semakin maknyus.


Tuesday, June 4, 2013

Pushtun

gadis suku Pushtun
Pernah berkunjung ke Negeri Jepang? Datanglah sekali-kali dan kagumi kreatifitas teknologi mereka dari yang paling remeh hingga teramat njlimet. Begitu saran seorang teman, yang tahu saya tak pernah menginjak negara Jepang. Gambaran soal kemajuan negeri matahari terbit itu memang hanya saya dapat lewat bacaan. Itupun dari majalah bekas yang dibeli di alun-alun Kota Tegal, Jawa Tengah, tempat saya sering nongkrong saat SMA dulu. Di situ ditulis, Jepang bangkit dari keterpurukan tak punya apa-apa setelah dibom atom, lewat peniruan dan pengembangan tak kenal lelah teknologi Barat.

Sesungguhnya, potensi kreatifitas bangsa kita tak kalah hebat. Memang semangatnya masih sebatas urusan ekonomi. Belum beranjak bagaimana menjadi pionir karena terinspirasi produk atau kultur dari negara lain. Buktinya, film atau album baru yang hari ini beredar di Amerika Serikat, besok sudah ditemui bajakannya di Glodok. Bahkan ada anekdot, jangan memasukan barang ke Indonesia. Nanti orang yang memasukan bisa-bisa ditiru juga! Luar biasa.

Ledakan kreatifitas menjadi penting, karena inilah daya yang menghidupkan segalanya. Di ranah apapun. Sunan Kalijaga menjadi wali tersukses di Tanah Jawa, karena gaya dakwahnya yang tidak kaku dan monoton. Tidak seperti ormas sekarang yang main gebuk jika berbeda dengan mereka. Sunan Kalijaga mengadopsi kesenian wayang dengan cerita Mahabaratta, diganti kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad. Puji-pujian pada sang pencipta, diambil dari tembang-tembang Jawa, tapi dengan syair yang bercerita soal ketauhidan.

Jujur saja, daya kreatifitas positif ini pantas mendapat pujian. Seniman musik dan pencipta lagu kita merajai pasar Malaysia, karena dinilai lebih kreatif. Bahkan dalam soal gaya panggung, penyanyi Indonesia berhasil mengawinkan nilai-nilai agama dengan tuntutan komersial sebagai penghibur, dan itu tidak membosankan. Gaya berjilbab kini semakin variatif, dan mendukung penuh tampilan walau dalam panggung yang disesaki oleh ribuan pengunjung sekalipun. Kondisi ini seperti mendobrak pakem dunia hiburan sebelumnya, yang seolah-olah menahbiskan seorang penyanyi berjilbab seperti sedang tampil di acara 17 Agustus-an.

Fatin dan Dewi Sandra
Mungkin karena suasananya yang sudah kondusif, beberapa publik figur kini tak segan-segan memilih jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Sudah tentu ini keputusan besar. Mereka dalam masa produktif dan masih basah kuyup di dunia hiburan. Karena banyak juga artis berumur dan menikmati masa tua, tapi tak berani untuk memilih jalan itu. Segala pilihan, tentu punya risiko dan di atas segalanya, inilah sebenarnya kemenangan kreatifitas yang memangkas keraguan jika dengan berjilbabpun, para artis itu bisa tampil trendy.

Sentilan keras bukan berarti tak ada. Memahami hubungan agama dan kultur masyarakat kita menjadi penting, agar kerangka berfikir kita tidak stereotif, “aku adalah aku dan dia bukan aku”. Padahal dalam beragama yang kaffah, kerangka fikir yang harus dikembangkan adalah “dia adalah aku, aku adalah dia”. Bukankah menjadi sesuatu yang aneh, saat memutuskan berjilbab, tapi sikap dan cara melihat sesuatu lantas tidak dirubah? Ada banyak contoh dan salah satunya “tradisi” cium pipi kiri dan cium pipi kanan (cipika cipiki) yang masih terus dilestarikan.

Cara pandang yang benar akan menghasilkan keputusan yang benar. Termasuk keyakinan, jilbab bukanlah busana penyelamat, saat seorang publik figur terindikasi tersangkut kasus korupsi misalnya. Keseharian berbusana seksi, tapi giliran dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jadi tertutup rapat dan berkerudung. Bukan soal citra Islam yang bakal tercemar. Al Islamu ya’lu wala yu’la alaih.Islam itu tinggi nilainya, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menyaingi ketinggian nilai Islam. Ini hanya soal kepatutan. Sebab tanpa pikiran jernih, jatuhnya akan timbul prasangka dan pikiran negatif.

Kasus Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) yang menyebut kata “Pushtun” dalam percakapannya dengan Ahmad Fathanah, tersangka kasus suap daging sapi impor menguatkan hal ini. Melihat sepak terjang Fathanah dengan beberapa wanita cantik, “Pushtun” lantas diasosiasikan sebagai hal negatif. Penghakiman tidak adil ini bahkan menyentuh ke wilayah sensitif, termasuk mereka yang memutuskan untuk mengenakan busana muslimah, tanpa motif-motif kebendaan. Sebagai publik figur, artis tentu yang paling rentan diasosiasikan prasangka negatif ini.

Hmmm....tersangka korupsi
Keteledoran LHI pantas disesalkan. Sebagai sebuah suku bangsa, perempuan-perempuan Pushtun di Afganistan justru sangat dijaga. Mereka tak bisa sembarangan bertemu laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Konon untuk sekedar melihat kecantikan perawan Pushtun, seseorang yang berkunjung ke pemukiman mereka perlu hari keberuntungan. Tradisi ini terus hidup dan dihidupkan selama ratusan tahun, dan jadi “rusak” oleh kreatifitas segelintir orang kita. Entah bagaimana perasaan suku Pushtun, seandainya mereka tahu soal ini.

Jepang menjadi negara maju karena kreatifitasnya yang tinggi. Korea Selatan berhasil mengekspor industri kreatifnya karena inovasi. Dunia pertunjukan Indonesia,sudah bergerak dengan segala hal yang tidak dijumpai bahkan di Timur Tengah sekalipun, sebagai tempat kelahiran Agama Islam. Inilah kreatifitas terpenting yang tidak melanggar hukum, orisinil, alat syiar efektif dan menginspirasi jutaan anak muda untuk tidak malu-malu bergaya dengan hijab.  

Jika semua upaya itu kemudian “dirusak” oleh pemahaman yang keliru akibat tingkah beberapa orang, sudah saatnya pihak-pihak yang berkompeten turun tangan, sebelum semuanya  jadi salah kaprah dan susah diluruskan. Bukankah begitu?  

Saturday, June 1, 2013

Seputar Isra' Mi'raj

Bagi kaum muslim, peristiwa Isra Mi’raj merupakan momen yang sangat penting, karena setelah peristiwa itulah, sholat 5 waktu diwajibkan. Secara istilah, Isra adalah berjalan di waktu malam, sedangkan Mi‘raj adalah alat (tangga) untuk naik.Isra mempunyai pengertian perjalanan Nabi Muhammad SAW pada waktu malam hari dari Masjid Al Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsha di Palestina. 

Sedangkan Mi’raj adalah kelanjutan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al Aqsha di Palestina ke langit ke-7 (Sidratul Muntaha). Di langit tertinggi inilah tempat Nabi Muhammad “bertemu” dengan Allah SWT. Dus, Isra Mi’raj adalah kisah perjalanan Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dalam waktu semalam. Prosesi sejarah perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad ini termaktub dalam Qur’an Surat (QS) Al-Isra’ ayat 1 dan QS An-Najm ayat 13-18.

Dimensi Metafisika dan Fisika
Tentu saja butuh sebuah keimanan yang tangguh untuk mempercayai peristiwa ini. Ketika Nabi Muhammad menceritakan pengalaman yang baru saja dilaluinya, saat itu langsung terbelah menjadi dua kubu. Mereka adalah kubu (kaum) yang percaya (beriman) dan kaum yang tidak percaya (kaum Quraisy). Bagi kaum muslim sendiri, seseorang disebut beriman, jika dia percaya pada  hal-hal ghaib (metafisika).

Dimensi metafisika ini, dalam ajaran Islam terangkum pada 6 rukun iman. Diantaranya: (1) beriman (percaya) kepada Allah SWT, (2) percaya kepada adanya Malaikat, (3) percaya kepada Rasul-Rasul Allah, (4) percaya pada Kitab-Kitab Allah, (5) percaya pada adanya Hari Kiamat, dan (6) percaya pada Qada dan Qadar (Takdir Allah di alam semesta). Kepercayaan kaum muslim terhadap peristiwa Isra Mi’raj, merupakan implementasi dari 6 rukun iman ini.

Di luar dimensi metafisika, perdebatan sengit juga kerap terjadi saat melihat kejadian Isra Mi’raj lewat kaca mata ilmu fisika. Di dalam ilmu fisika modern, kecepatan partikel/benda yang paling cepat saat ini adalah kecepatan cahaya (light speed). Kecepatan cahaya adalah sebuah konstanta fisika yang disimbolkan dengan huruf c.Konstanta ini sangat penting dalam fisika dan bernilai 299.792.458 meter per detik.

Perjalanan nabi saat Isra Mi’raj ditemani oleh malaikat Jibril. Sesuai Al Qur’an dan Hadis, malaikat disebut terbuat dari cahaya. DR. Mansour Hassab El Naby, pakar astrofisika dari Mesir  mencoba membuktikan pernyataan Al-Qur’an dan hadist Rasulullah Muhammad bahwa zat malaikat adalah cahaya. Dasar  El Naby adalah Al-Qur’an surah As-Sajadah ayat 5 yang menyatakan : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”

Diketahui bahwa kecepatan cahaya sebesar 300.000 km per detik (bulatan angka 299.792,4989 km/detik). Jika benar materi malaikat adalah cahaya, maka mau tak mau kecepatan geraknya haruslah sesuai dengan ukuran kecepatan cahaya temuan para fisikawan.

Untuk hal itu, El Naby mencoba membuktikan  apakah benar pernyataan Al-Qur’an ini; kecepatan malaikat 1 : 1000 tahun adalah sama nilainya dengan 300.000 km/detik. Jika benar (1:1000) = 300.000 km/detik, berarti benarlah bahwa zat malaikat adalah cahaya. Apa hasilnya ? Ternyata 1 :1000 tahun = 300.000 km/detik! 

Bisa dibilang, peristiwa Isra dan Mi’raj (perjalanan 1 malam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah terus ke Masjid Al Aqsha di Palestina, dan seterusnya naik ke Sidratul Muntaha di langit ke-7) yang dilaluinya bersama Malaikat Jibril adalah benar secara Fisika maupun Metafisika. Malaikat Jibril terbuat dari cahaya, dan bergerak dengan kecepatan cahaya. Dengan begitu, nabi yang ikut bersama Malaikat Jibril juga bergerak dengan kecepatan cahaya.

Tahun Kesedihan
Menurut riwayat, Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian Muhammad di Mekkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Al-Maududi dan mayoritas ulama mengatakan, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Sementara Al-Allamah al-Manshurfuri bilang, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

Secara psikologis, banyak pendapat yang mendukung Isra Mi’raj menjadi titik balik kehidupan nabi, setelah beliau bertubi-tubi diterpa kesedihan. Dimulai dari wafatnya paman beliau, Abi Thalib bin Muthalib, kemudian disusul istri tercinta, Siti Khadijah, ditambah lagi perlakuan penolakan dakwah nabi dengan dilempari batu dan cemooh. Nabi Muhammad merasa tertekan dan sedih. Maka apabila diilustrasikan sebagai sebuah siklus, saat itu Rasulullah sedang berada pada titik terendah dalam hidupnya, merasa kehilangan dan sendiri.

Pendapat lain meyakinkan, Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
masjid Al Aqsha dan Al Sakhrah

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekkah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

Lebih dari  segalanya, menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah (Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja)”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh (Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, rahmat dan berkahnya)“.

Perjumpaan ini menjadi inti dari peristiwa Isra Mi’raj. Karena saat itulah, Muhammad diperintahkan untuk menegakan shalat 5 waktu. Bagi kaum muslim, shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual. Shalat juga menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Al – Qur’an menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Ingatkan Kesucian Baitul Maqdis
Ujian keimanan menjadi hal pertama yang harus dipertaruhkan, saat mendengar peristiwa Isra Mi’raj. Selain itu, Sayyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika ditarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

Peristiwa Isra Mi’raj, dalam batas-batas tertentu juga menjadi pengingat tentang tempat-tempat suci umat Islam yang lain,selain Masjidil Haram yang sudah terkenal. Nama Masjid al-Aqsa bila diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, maka ia berarti "masjid terjauh". Nama ini berasal dari keterangan dalam Al Qur’an Surat Al-Isra ayat 1 mengenai Isra Mi’raj. Istilah "terjauh" dalam hal ini digunakan dalam konteks yang berarti "terjauh dari Mekkah", karena jaraknya yang hampir 2000 kilometer.

Selama berabad-abad yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa sesungguhnya tidak hanya masjid saja, melainkan juga area di sekitar bangunan itu yang bernama Baitul Maqdis yang dianggap sebagai suatu tempat yang suci. Perubahan penyebutan kemudian terjadi pada masa pemerintahan Kesultanan Ustmaniyah dimana area kompleks di sekitar masjid disebut sebagai Al Haram Asy-Syarif. Sedangkan bangunan ini awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Umar bin Khattab yang kini disebut sebagai Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Aqsa

Kesucian tempat ini sudah dikenal sejak Nabi masih hidup. Tak aneh,sebelum turun perintah menjadikan Mekkah sebagai kiblat sholat, Baitul Maqdis di Jerusalem dijadikan arah kiblat.  Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah.

masjid Al Aqsha
Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Oleh Kaum Yahudi,tempat ini juga dikenal dengan sebutan Kuil Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).

Di pusat kompleks Kuil Sulaiman, terdapat Foundation Stone yaitu batu landasan yang dipercaya Umat Yahudi sebagai tempat Yahweh menciptakan alam semesta dan tempat  Abraham mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam batu ini adalah tempat Nabi Muhammad menjejakkan kakinya untuk Mi’raj. Untuk melindungi batu ini, Khalifah Abd Al Malik Ibn Marwan membangun kubah dan masjid polygon, yang kemudian terkenal dengan nama Dome of The Rock (Kubah batu).

Inilah yang kerap menjadi kegelisahan umat Muslim. Karena saat di sebut  masjid Al-Aqsha selalu yang ditampilkan adalah Dome of The Rock alias masjid Qubah Al-Shakhra’. Sengaja atau tak sengaja, gambar masjid Qubbah al-Shakhra akan membuat umat muslim kehilangan ingatan tentang masjid Al-Aqsha. Karena tempat ini juga sedang diperebutkan oleh Umat Yahudi, ada anggapan hal itu dilakukan Israel untuk secara perlahan-lahan menghilangkan eksistensi Masjid Al Aqsa, karena mereka meyakini di bawah Masjid Al Aqsa itu ada reruntuhan kuil Sulaiman, yang dicita-citakan Israel untuk kembali dibangun.